Wednesday, November 26, 2014

Patung Bogani (Bagian 1)

Patung Bogani di simpang tiga Kotobangon. Foto: Sutha

PATUNG BOGANI YANG TERLUPAKAN

Tak banyak yang memperhatikan lalu prihatin dengan sebuah patung, yang berdiri tegar di simpang tiga Kelurahan Kotobangon. Patung Bogani, sekujur warna cokelat tubuhnya memudar dan berlumut, seakan waktu memakannya perlahan dan membuat kita melupakannya.

Liputan: Kristianto Galuwo

SEJARAH memang untuk diingat. Mereka yang tidak mengenal masa lalunya, akan dikutuk untuk mengulanginya. Begitu kata George Santayana, filsuf asal Spanyol (1863-1952). Begitu pun dengan masyarakat Bolmong, mungkin harus diingatkan kembali dengan sejarah Bogani. Tidak banyak generasi muda yang mengenal dan tahu siapa Bogani, bahkan hanya untuk seonggok patungnya pun, mungkin sebagian masyarakat Bolmong tidak atau belum mengetahui sejarahnya.

Menurut sejarah, Alex B. Wetik yang merupakan salah satu pendiri Jurusan Seni Rupa di Lembaga IKIP Manado atau UNIMA, ia adalah pelukis sekaligus pematung yang mendesain Patung Bogani. Ia pun dikenal membuat patung-patung di Sulawesi Utara di antaranya: patung Sam Ratulangi di Manado, Yesus di Gereja Katolik St. Ignasius Manado, relief di Gedung Bukit Inspirasi Tomohon, patung Sam Ratulangi di Tondano, patung Sarapung dan Korengkeng di Tondano, dan patung Bogani di Kotamobagu, pun masih banyak karya-karya lainnya.

Akan tetapi, sumber lain yang merupakan budayawan Bolmong, Chairun Mokoginta mengatakan, dari hasil penelusurannya, pelukis dan pematung yang membuat patung Bogani adalah Tawakal Mokodompit.

"Menurut sepengetahuan saya, Tawakal Mokodompit yang membuat patung Bogani. Kiprahnya dalam seni lukis pun hingga ke ibukota Jakarta. Dia bersama Pak Tino pernah mengisi program acara 'Mari Menggambar' di stasiun TVRI dulu. Adiknya pun Harsono Mokodompit adalah seorang pelukis. Tapi saya pernah menelusuri keberadaan mereka, hingga diketahui keduanya sudah meninggal dunia. Yang saya kenal, keduanya adalah budayawan sekaligus pematung di Bolmong," tutur Chairun saat ditemui di kediamannya di Kelurahan Genggulang Kecamatan Kotamobagu Utara, Rabu (26/11).

Kedua kakak beradik itu menurut Chairun, sangat memperhatikan kebudayaan Bolmong dari segi adat istiadat, semboyan-semboyan budaya, juga simbol-simbol.

"Setahu saya juga keduanya itu di masa muda mulai eksis di dunia seni. Seingat saya saat kepempimpinan Bupati O.N Mokoagow, mungkin di periode tahun 1966-1976, patung Bogani dibuat," tutur Chairun, sambil mengingat-ingat.

Diceritakannya, tokoh Bogani yang menjadi model patung adalah Bogani Paloko. Sebab yang bermukim di sekitar aliran sungai dan wilayah Kotobangon sampai ke puncak Ilongkow adalah bogani Paloko.

"Ada begitu banyak Bogani di Bolmong, seperti Bogani Ki Bagat, Inde Indou, Inde Dikit, Dugian, Paloko, Ponamboian, Dondo, Pongayow, Lingkit, Mogedag dan masih banyak lagi. Tapi menurut saya, yang menjadi tokoh patung Bogani adalah Bogani Paloko. Sebab dulu yang berdiam di sekitar aliran sungai adalah Bogani Paloko dan masyarakat yang dipimpinnya," urainya, sambil mempersilakan wartawan koran ini, untuk minum teh yang dihidangkan istrinya.

Diketahui ada dua sebutan untuk simbol patriotisme di Bolmong itu. Bogani untuk laki-laki dan Bigani untuk perempuan. Dari bahasa 'purba' Mongondow, diartikan Bogani adalah manusia yang bisa menghilang.

"Artinya Bogani itu manusia yang bisa menghilang. mereka pun dipilih karena sifat dan sikap mokodotol atau patriotisme yang dimilikinya," terangnya.

Menurut Chairun ada satu semboyan yang menjadi sebuah prinsip bagi para Bogani.

"Prinsipnya yakni tampangan dodot atau artinya pemimpin dulu yang harus mati baru sesudah itu rakyat," dituturkan Chairun dengan gestur tubuhnya yang mengisyaratkan seorang Bogani menaungi rakyatnya di antara kaki kiri dan kanannya.

Ada empat kriteria menurut Chairun agar bisa menjadi Bogani. Yang pertama Mokodotol atau sikap patriotisme. Yang kedua adalah Mokorakup yang artinya bisa mengayomi masyarakat yang dipimpinnya, baik itu dari kecukupan sandang dan pangan. Ketiga Mokodia yang diartikan mampu mengemban amanah, paham dengan budaya dan adat istiadat, juga mampu menerapkan keadilan tidak terkecuali anggota keluarga. Yang keempat Mokoanga' yang diartikan harus simpatik perilakunya.

Mengenai dua senjata yang digenggam patung Bogani, diberi nama Tungkudon untuk tongkat yang juga sekaligus sebuah tombak, di genggaman tangan kanannya. Sedangkan tameng di tangan kiri diberi nama Kaleaw. Dari posisi Patung, diutarakan Chairun adalah apa yang disebut dengan opat noponulukan atau empat penjuru angin.

"Ini dari perspektif budaya yah, kiblatnya orang Mongondow itu menghadap utara. Jadi Tungkudon-nya menghadap utara atau Tombaian artinya kebahagiaan atau kesenangan. Kalau ke barat itu disebut Toyopan yang artinya tidak baik, karena itu patungnya agak condong ke selatan. Sedangkan timur itu disebut Silangan, makanya harus dibelakangi karena tidak baik menantang arah terbitnya matahari. Untuk ke selatan itu Tontongan artinya apa yang nampak dalam pandangan," urai Chairun. Ia kembali memantik api dan menyulut rokoknya, kemudian melanjutnya cerita.

"Tidak pernah para Bogani dulu berselisih. Ada sejarah soal Mokodoludut, pemimpin dari Dumoga. Versinya ada dua menurut hikayat, Mokodoludut itu berasal dari telur. Sementar versi logisnya, ia bayi yang ditemukan Bogani Amalie dan Inalie. Saat ditemukan katanya ada suara gemuruh dan angin yang bertiup kencang. Semua Bogani berkumpul dan kemudian disepakati bayi tersebut diasuh dan dibesarkan. Sebab akan menjadi pemimpin nantinya," tuturnya.

Chairun pun mengakhiri perbincangan panjang dengan penyampaian, bahwa budaya-budaya Bolmong beraneka ragam. Tokoh-tokoh dan para pelaku sejarah pun harus diingat. Agar generasi bisa memahami, betapa Bolmong ini begitu kaya kebudayaannya dan memiliki sejarah patriotisme yang patut dikenang.