Tuesday, March 3, 2015

Kos Kolam

Di dalam kamar terang ini. Cahaya seperti mengawasiku terus menerus. Sedari tadi, aku terjaga dengan kelopak mata membusung terang. Malam-malam kemarin pun terasa sama. Tidur jadi serupa kekasih yang selalu ditunggu.
Pandanganku menyapu langit-langit kamar. Segala sudut kuterlusuri. Jadi ingat kamar hitamku di rumah.
Iya, ini bukan kamarku. Tapi kamar kos yang kusewa setelah diterima bekerja di salah satu perusahaan media. Kantornya hanya sepetak halaman jaraknya dari kos ini.
Kamar ini langit-langitnya tak seperti kamarku. Karya seni di langit-langit kamar hitamku tingkat tinggi. Ada petak-petak sawah kertas kusam dan pematang tali rafia. Karya warisan kakak perempuanku, yang kini nun jauh di Pulau Borneo.
Di langit-langit kamar kos ini. Satu per satu debu mencuri nyawaku. Debu itu turun dengan senyap disaat lelap. Tapi sudahlah, biarkan debu itu kuhirup sejuta. Jika ini takdir, aku tak ingin berikhtiar. Biarkan saja. Aku terlalu suka dengan kamar ini, pun suasana sekitar. Kami—penghuni kos— diitari gemericik kolam dan hijau persawahan. Tidur memang jadi mudah di sini, tapi tidak denganku. 
Perempuan usia 40-an di samping kamarku cukup riang. Ia membikinku cemburu, bahwa usiaku yang jauh lebih muda, kenapa tak seceria dia? Sesekali, perempuan itu bercengkerama denganku. Pernah kupinjami uang bensin. Ia ikhlas, tak perlu ditukar katanya. Ah, tetap kutukar jika kuberuang.
Ritme kerja di media kubeber saja di sini. Awalnya, terbit matahari tiga jam kemudian mataku benderang.
Tapi sebulan kemudian.... Segalanya bisa kuatur sesuka hati. Waktu telah kupilah, kupilih dan kupolakan. Terang, pekerjaan jadi mudah.
Kembali ke kamar ini. Ruang 4 x 4 meter yang segalanya ada. Aku bebas telanjang sana-sini. Gelas, piring, kertas bungkusan nasi, tas kresek, dan puntung rokok leluasa kutabur. Segalanya merdeka.
Di sudut ruang ada tumpukkan koran. Bukan koran langganan, tapi yang tercecer merdeka di kantor, lalu kubawa pulang. Lima meter di samping kamar, gemuruh percetakkan mengaum. Pukul empat pagi, ia reda. Tapi sesekali gaungnya terbawa hingga ke mimpi, jika lelap telah meneluhku.
Teriak lelah para pekerja sering kudengar, namun itu tak seberapa dengan lelah kami. Pikirku begitu. Teriak kami di relung, lelah kami dipendam, bahkan letih kami terbungkus bungkam. Yang namanya wartawan di media ini, ah, tukaran berita dihindari. Ada sih, satu dua berita yang ditimang dari media lain, kebanyakan yang dikais sendiri. Intinya tak bobol. Sebab bobol adalah borok wartawan. Kata mereka.
Ah, Bolmong... Negeriku yang beragam. Bahkan kamar kecil ini bisa kau rembesi ratusan perkara. Menumpuk di sudut kamar.