Monday, October 12, 2015

Terima Kasih AJI

Pagi kerap membawa berkah. Baik bagi mereka yang bangun pagi, pun untuk mereka yang menahan tidur hingga langit bergradasi dari hitam ke abu-abu, kemudian datang terang benderang. Berkah itu saya rasakan berupa perenungan. Ini jalan hidup saya. Nasib yang saya ikhtiari agar bisa terhindar dari takdir yang satunya lagi. Takdir yang tetap menjadikan saya sebagai wartawan yang tidak sebagaimana mestinya.
Setelah lintang-pungkang di dunia kewartawanan (saya malu menyebut jurnalistik) di Bolmong Raya (BMR). Akhirnya saya sadar bahwa tugas kami tak mudah. Kami adalah guardian-nya warga. Proses kesadaran itu berlangsung selama kurun waktu tiga tahun.
Saya mula-mula saling merangkul dengan sahabat di media online www.lintasbmr.com yang website-nya sudah tidak aktif, setelah eksodus besar-besaran (Ha-ha-ha. Padahal hanya kami berempat). Saya yang pertama kali hengkang dengan alasan, semangat yang tak sejalan lagi dengan Pak Pemred. Hanya setahun di www.lintasbmr.com (meskipun sebenarnya saya rindu dengan keakraban kami, tatkala masih sejalan). Kemudian saya seperti bangsa Nomaden, hidup berpindah-pindah mencari wilayah yang nyaman sesuai cuaca hati saya. Di www.pilarsulut.com (milik kawan pula) saya mendirikan tenda baru. Namun musim berganti hanya selang tiga bulan. Tenda saya terhempas badai. Saya memutuskan kembali ke comfort zone. Yaitu kamar yang diwarnai hitam dengan graffiti di beberapa bagian tembok. Kamar yang sesak dengan poster-poster; Nirvana, Valentino Rossi, Blink-182, dan beberapa foto alay saya dengan gambar jari Victory (Peace yang dimaksudkan), Metal, dan F*ck You. Ah, alay yang acapkali membikin saya rindu dengan kamar hitam, yang saya namai Rancid Room itu.
Sampai di Agustus 2014, saya melamar di media cetak Radar Bolmong (Jawa Post Group). Entah kenapa, saya melebur begitu saja dengan Radar Bolmong (yang lebih diperjelas link ini http://sigidad.blogspot.com/2015/08/menu7u-graha-pena.html). Akhirnya saya memutuskan resign, setelah tepat setahun di Radar Bolmong. Saya merasa tidak lagi berprofesi sebagaimana mestinya wartawan. Sebab ditargeti cash in, tagih sana-sini, kliping koran untuk kelengkapan berkas pencairan kontrak dengan Pemda. Aih, brengseknya. (Saya tak ingin panjang lebar dan menghabiskan energi, tentang hal yang sudah jadi rahasia umum ini).
Selanjutnya.... Pagi. Iya, pagi yang saya maksudkan di atas adalah pagi di mana saya telah berada di Sekretariat Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Gorontalo. Sekretariat yang kesini pun harus di-guide Yudin, sebab berada di antara labirin Kota Gorontalo. Nama wilayahnya pun harus saya tanyai beberapa kali.
"Apa depe nama Yudin.... Tomolutao, Tomubotao, eh, apae?"
"Tomulobutao!" jelasnya dengan bersungut-sungut, sembari menunjuk baliho Fespinkon di tembok, sesampainya kami di Sekretariat. Di situ tertera jelas alamatnya. Itu pertanyaan kesepuluh. Jelas ia jengkel.
Saya akhirnya berada di sini. Ah, kesempatan yang selama ini saya idam-idamkan. Yudin Gajah, sahabat saya itu, akhirnya berbaik hati menyampaikan maksud saya pada kawan-kawannya di AJI. Saya disambut bak kawan lama, Sabtu (10/8), tiga hari yang lalu. Sambutan hangat yang membuat saya merasa seperti bertemu kloningan (keakraban) Yudin sendiri. Semuanya interaktif dengan senyum yang selalu terumbar dan tanya ramah, pun kegembiraan yang tidak dibuat-buat.
Di sini, seperti sebuah kanvas putih yang diwarnai dengan beraneka corak. Saya tak ingin mendedah masing-masing karakter mereka itu. Apalagi baru sepekan saya bersama mereka. Namun keunikan tumbuh satu persatu dan semakin banyak. Terlalu banyak.
Saya seperti berada di dalam kamar saya sendiri. Begitu nyamannya. Begitu banyaknya pengetahuan terserak di sini. Seperti cangkir kopi di Kedai Kopi Maksoed, saya kosongkan cangkir itu, untuk siap menerima pahit kopi, manis gula pasir, dan tawarnya air putih.
Terima kasih AJI Gorontalo.
Ini berkah terindah.