Wednesday, September 7, 2016

Untuk Perempuan-perempuan Hebat


"Eh, coba ngana batulis tentang kita dulu," kata Eling, pada suatu malam di pelataran bilik-bilik kamar rumah sakit.

"Ah, tau-tau kita batulis tentang ngana pe mamak. Daripada batulis tentang ngana." Eling terlihat dongkol dengan jawaban itu. Tapi kemudian tawanya menyusul.

Begitu percakapan kami malam itu. Lalu aku memutuskan menulis ini, setelah ayahnya Eling berpulang. Tapi ini bukan tentang ayahnya. Ini tentang tiga perempuan hebat.

Perempuan itu, ibunya Eling.

Aku tidak pernah menanyakan namanya. Tapi perempuan itu tak butuh nama untuk menjadi akrab. Senyumnya seperti senyum ibuku. Ajakannya untuk makan, persis pula dengan ibu-ibu angkatku lainnya, yang berserakan di setiap tempat yang pernah aku singgahi.

Perempuan itu suka tersenyum terlebih dahulu ketika berjumpa. Pada setiap kerut wajahnya, ada berjuta garis hidup yang pernah ia susuri. Garis-garis yang tegas, namun penuh kerelaan.

Di luar ruang perawatan, aku kerap kali menemukannya terbaring di bangku memanjang. Mungkin baginya, tidur satu jam sudah seperti tidur seharian. Sebab ia tidur dengan memeluk harapan.

Ia mengenakan kerudung hitam kala itu, tapi pancaran matanya begitu benderang, setelah terbangun dari lelap. Aku kini menghormatinya selayaknya ibuku. Ibu yang kini sama-sama sendiri, setelah ditinggal pergi suami. Ibu-ibu yang tetap ada, sampai ajal merebut kekasih tercintanya.

Perempuan itu, dipanggil Onya'.

Tubuhnya mungil. Itu barangkali yang membuatnya gesit. Lorong-lorong di rumah sakit, kerap kali ia lewati dengan gegas. Tugasnya, menebus resep, membeli keperluan lainnya, atau bertengger di dahan pohon di halaman rumah sakit. Di pohon yang sering kami berbantahan tentang jenis pohon apa itu, ada sebuah tugas mulia untuk mulutnya.

Dialeknya begitu kental. Aku suka mendengarnya. Apalagi ketika ia bertutur tentang panen dan harga cengkih, tentang ayahnya, dan tentang pasien-pasien yang sudah lebih dulu berpulang.

Ia begitu tegar. Tapi tidak dengan malam itu ketika jazad ayahnya berada di kamar jenazah. Ia sempat memelukku sambil menangis, lalu mengucapkan terima kasih. Ucapan yang juga pantas untuk teman-teman lainnya, yang turut membantu mereka selama perawatan dan pemulangan jenazah.

Perempuan itu, namanya Eling.

Kenyang. Setiap kali bersama dengan Eling, maka kalian akan kekenyangan. Sewaktu di kamar kos, di Mogolaing, isi kulkasnya pasti akan tandas jika kami datang. Menurutnya, berbagi adalah sebuah keharusan. Meski terkadang ia tak rela berbagi Silverqueen denganku.

Selama di Manado, ia seperti setrikaan dari kos ke rumah sakit. Bahkan beberapa sopir taksi sudah akrab dengannya. Apalagi "ojek" Nanan yang suka dibentaknya. Tapi begitulah Eling. Ia suka membentak, namun dalam di lubuk hatinya, ada Nanan gendut yang bersemayam di sana. Bukan sebagai pacar, tapi tetap sebagai "ojek".

Dibandingkan kakaknya Onya', Eling terlihat yang paling tegar. Tapi malam itu, kami menemukan Eling yang berbeda. Sebab aku tidak pernah melihatnya menangis meraung-raung. Aku pun ikut tersedu sedan. Akhirnya Eling menangis juga.

Segala upaya telah dipertaruhkannya untuk kesembuhan ayahnya. Uang tak jadi soal baginya, tapi yang menjadi soal adalah darah. Dan itu adalah tugasnya, mencari pendonor darah. Sampai akhirnya, ayahnya harus menyerah sore itu. Tepat setelah Manado diguyur hujan.

Tiga perempuan itu, adalah perempuan-perempuan hebat. Juga perempuan-perempuan hebat lainnya, yang turut membantu segala kelancaran perawatan ayahnya.

Turut berduka cita untuk ayah andalan yang mewarisimu marga Sondakh. Semoga Tuhan mengajaknya ke hutan surga yang telah ia janjikan. Amin.