Wednesday, November 16, 2016

Gladys di Kota(razia)mobagu (10)


"Jika kau tidak sungguh-sungguh pada jalan itu. Kau akan luput membacai tanda-tanda." (Baca sebelumnya: Bagian 9)

Perkataan Lina lumayan menciptakan celah di jemari Gladys. Gundah yang sedari tadi di genggamannya, perlahan-lahan bercereran dari sela-sela jemarinya.

"Dys. Niatmu untuk menjadi jurnalis itu mulia. Bukan karena ingin uang. Apalagi profesi itu harus memiliki hati." Lina kali ini tiba-tiba menjadi begitu bijaksana.

"Iya, Lin. Menjadi jurnalis tidak akan kaya harta. Tapi kaya ilmu. Lumayan, untuk kasih pesan yang benar ke anak-cucu kita nanti."

"Jadi, aku yang tidak bercita-cita jadi jurnalis, bakal kasih pesan yang salah ke anak-cucuku?"

"Aduh, kau ini mau jadi apa pun, pasti pesan-pesanmu ke anak-cucu yang tidak benar semua."

"Gila!" Kali ini guling mendarat tepat di wajah si empunya.


***


“Jadi, ada mantan wali kota yang terlibat?” tanyaku kepada Yudi. Dia seorang jaksa di Kejaksaan Negeri Kotamobagu.

“Iya. Aku sengaja membocorkan ini kepadamu. Hanya kau yang bisa kupercaya,” kata Yudi.

Sebundel dokumen ia serahkan. Di dalamnya, berisi data keterlibatan beberapa pejabat, juga upaya penghilangan bukti dari pihak Kejaksaan. Termasuk data keterlibatan mantan wali kota di Kotamobagu. Meski mantan wali kota itu sudah berakhir masa jabatannya, tapi di tahun ini, kasus korupsi itu terkuak dan satu per satu menyeret tersangka ke dalam jeruji. Salah satunya pamannya Indra, anggota dewan di DPRD Kotamobagu.

“Terima kasih, Yud. Kau sudah banyak membantu sejauh ini.”

Setelah beberapa jam mengobrol dengan Yudi, di salah satu jembatan yang terbilang cukup sepi itu, aku pamitan. Yudi pun bergegas pergi mengendarai mobilnya.

Tiba di kamar, aku segera membuka isi ransel. Laptop kukeluarkan, menyusul sebuah map berisi dokumen.

Aku duduk sejenak. Kemudian menghubungi Deni. "Den, kau di mana?"

"Baru mau ke kedai kopi, bikin berita. Kau?"

"Aku baru sampai di kos. Aku punya data baru soal kasus pamannya Indra. Tapi sebaiknya kita ke rumahku saja."

"Oke. Kau bisa duluan. Aku segera menyusul."

Usai menelepon Deni, aku tiba-tiba ingat Gladys. Terlalu sibuk dengan semua urusan ini, membuat kami seakan berjarak. Padahal hubungan kami baru saja sedang merangkak.

"Hei, di mana?" Aku putuskan menghubungi Gladys.

"Sigid. Senang mendengar suaramu. Aku lagi jalan dengan Lina. Kau?"

"Maaf, Dys. Akhir-akhir ini aku terlalu sibuk. Aku sedang bersama Deni. Rencana mau ke rumahku di Desa Passi. Ada urusan yang harus diselesaikan."

"Iya, aku mengerti. Pasti berat untuk persahabatan kalian." Gladys ternyata mengikuti setiap pemberitaan terkait kasus pamannya Indra. Juga mengenai perkelahian Umar dan Indra dari pemberitaan beberapa media online lokal.

“Iya, Dys. Terima kasih atas pengertiannya.”

“Kau sudah menghubungi aku, itu sudah lebih dari cukup. Hati-hati di jalan, ya. Kapan-kapan ajak aku ke desamu."

"Iya, pasti."

Aku kembali memasukkan laptop dan dokumen ke dalam ransel. Lampu sengaja kunyalakan, sebab hari sudah sore menjelang malam. Setelah mengunci pintu, aku menghidupkan sepeda motor.

Desa Passi, hanya sepuluh menit perjalanan dari kos. Meski jarak dari desaku ini menuju Kota Kotamobagu tak begitu jauh, tapi aku memilih menyewa kamar kos di kota. Aku terlalu sering pulang malam, dan udara dingin sepanjang perjalanan menuju rumah, bisa berakibat buruk bagi kesehatan. Bakal tipis dada ini diparut dingin.

Jalan menuju desaku menanjak sebab berada di puncak. Udaranya dingin. Aku sengaja memilih di desa, sebab dokumen yang aku dapatkan kali ini cukup rahasia. Setidaknya cemas bisa berkurang, ketika membahasnya bersama Deni di rumah, ketimbang di kamar kos.

Sudah hampir sebulan, aku tidak berkunjung ke rumah. Ayah dan ibu pasti bakal mengajakku berbincang lama. Aku lantas memilih menuju rumah kakak. Dia kakakku satu-satunya. Sebelumnya aku sempat menghubunginya. Rumahnya tengah kosong, sebab mereka sekeluarga berkunjung ke rumah mertuanya. Aku mengantongi kunci duplikat rumah kakakku. Sudah sejak SMA.

Aku coba kembali menghubungi Deni. Tak diangkat. Mungkin ia tengah di perjalanan. Aku segera masuk ke dalam rumah kakakku. Baru saja mau menutup pintu, sebuah sepeda motor terlihat masuk ke halaman rumah. Itu motor Deni. Ia memang tahu letak rumah kakakku. Kami dulu sering ke sini, merampah bebek. Umar dan Deni yang kerap jadi koki. Sementara aku dan Indra hanya bisa menyalakan api dan menghabiskan makanan.

“Den, dokumen yang aku dapatkan ini cukup penting,” bisikku di depan pintu.

“Soal kasus pamannya Indra?”

“Iya. Tapi ternyata kasusnya sampai merembet kepada para pejabat tinggi.”

“Wah!”

“Dan kau tahu, yang terlibat adalah mantan wali kota!”


Deni ternganga. Ia segera merebut dokumen itu. Membaca dengan saksama. Matanya membelalak sebab mantan wali kota itu cukup ia kenal. Salah satu putri wali kota itu pernah berpacaran dengan Deni.

(Bersambung)