Thursday, January 12, 2017

Pergi


Mamak baru saja sembuh. Saya juga. Tapi sepertinya rapat tahunan AJI Gorontalo 2017, yang kali ini rencananya dibikin di pesisir pantai, membuat liur ini tak berhenti menetes. Apalagi di grup WhatsApp, teman-teman mulai membagikan foto-foto lokasi rapat tahunan itu. Tahun kemarin, lokasi rapat dipilih di daerah puncak Dulomayo. Kali ini di pantai Kurenai. Keduanya tempat yang indah.
Jika komunitas atau organisasi lain bersemangat untuk menggelar rapat tahunan di hotel, kami lebih memilih menggelarnya di alam terbuka. Kemping dengan logistik yang dibawa masing-masing anggota, kemudian dimakan bersama-sama. Malam harinya, api unggun ikut menghangatkan kisah-kisah tentang apa saja yang terjadi di rentang tahun sebelumnya.
Saya akhirnya memutuskan berangkat ke Gorontalo, pagi tadi, tanpa memberitahukan dulu kepada teman-teman saya di AJI Gorontalo (setelah sampai di sekretariat AJI Gorontalo dan kantor Degorontalo.co baru rencananya catatan ini saya posting). Yang mereka tahu, saya tidak jadi hadir karena kesehatan saya menurun akibat terus memikirkan apakah bumi ini datar, bulat, kotak, atau seperti bentuk Marshmallow.
Tapi ada hal lain yang terus mengganggu pikiran saya dalam perjalanan ini. Ketika Mamak sakit, yang kerap kali terjaga hingga pagi tiba itu hanya saya. Pernah dengan suara rengsanya, Mamak coba membangunkan siapa saja yang berada di dalam rumah, dengan memanggil nama. Di rumah kami, setelah Papak berpulang, sebenarnya hanya tersisa Mamak, saya, kakak laki-laki, dan satu anak perempuan dari kakak laki-laki saya yang satunya lagi, yang ikut tinggal di rumah karena ia masih bersekolah di SMP Negeri 2 Passi. Sebab jarak sekolahnya lebih dekat dari rumah kami, ketimbang dari rumah ayahnya.
Selain itu, di rumah, kadang-kadang anak perempuan dari kakak perempuan saya yang saat ini tinggal bersama saudara kami di Bali, juga sering menginap bersama putranya yang masih duduk di bangku sekolah dasar.
Dan dari semua daftar orang di atas, setiap paginya hanya saya yang bisa terjaga siaga menangkap panggilan Mamak. Kecuali jika ada yang tidur di sebelahnya.
Sewaktu saya beritahu, bahwa saya hendak ke Gorontalo lagi, karena ada rapat tahunan, dan hanya tinggal menunggu kabar mengenai proposal kami untuk sebuah program di kepulauan Togean, Sulawesi Tengah, Mamak malah senang. Di wajahnya tak ada guratan yang hendak menahan kepergian saya. Mamak malah bertanya apa-apa yang mau dibawa nanti? Mamak pula yang bersemangat menyediakan pisang goroho untuk dibawa.
Dan seperti biasa, Mamak akan bertanya-tanya apa lagi yang mau saya bawa: seperti sabun mandi, sikat gigi, air mineral, nasi bungkus, telur rebus, biskuit, dan lain sebagainya. Walau di perjalanan sebelumnya, saya kerap menolak membawa bekal itu.
Mamak selalu memperlakukan kami seperti kami ini masih kanak-kanak. Itu juga ia berlakukan kepada kakak laki-laki saya, jika kakak saya hendak pergi menengok kebun kami di Desa Toruakat.
Tadi malam, sebelum paginya saya berangkat, Mamak masuk ke kamar saya. Mamak menyodorkan secarik kertas yang bertuliskan nama dokter dan sebaris nomor telepon. Tangannya bergetar. Mamak meminta saya untuk menghubungi nomor itu, karena tiba-tiba saja keringat dingin mengucur deras di sekujur tubuhnya.
"Mungkin gula darah Mamak turun atau naik lagi. Atau malah tekanan darah Mamak yang naik," katanya begitu pelan. Iya, hanya dua penyakit itu yang paling merepotkannya: diabetes mellitus dan hipertensi.
Saya kala itu sedang terlibat pembicaraan dengan teman di telepon. Setelah teman saya selesai berbicara lalu menutup telepon, saya mengambil secarik kertas itu yang diletakkannya di atas kasur. Karena tidak punya pulsa, saya bilang kepadanya, saya pergi dulu mengisi pulsa. Tapi ternyata Mamak baru saja menghubungi dokter itu, lewat ponsel sepupu saya. Mamak malah tengah asyik duduk di depan tv, menonton acara jodoh-jodohan, sambil menyesap teh manis hangatnya.
Paginya, berat hati saya untuk melangkah pergi dari rumah. Tapi pakaian saya semuanya telah di-packing. Buku-buku, koleksi majalah dan koran telah saya masukkan ke dalam lemari agar tidak berdebu. Pisang goroho sudah di kardus. Mobil sudah dipesan. Dan saya harus pamit kepada Mamak.
Rumah adalah tempat paling nyaman dan mengenyangkan. Berat badan saya akan naik beberapa kilo hanya dalam sepekan, jika saya berada di rumah. Mamak pintar memasak dan tahu memanjakan lidah kami. Dan kali ini, saya harus puasa dengan masakannya. Ah, hitung-hitung sebagai diet lagi.
Sehat selalu Mamak...