Thursday, April 27, 2017

Selamat Hari Raya Usia, Sigi


Maaf, biasanya setiap ulang tahun Sigi, ayah utang tulisan di blog dan diunggah tepat pukul 00.00 am, beriringan dengan ucapan. Kali ini ayah telat, semalam diajak teman ayah ketemu teman lamanya dari Poso yang datang berkunjung ke Gorontalo.

Berada di radius kiloan meter jauhnya dari jaringan internet IndiHome sekretariat, android ayah seketika jadi sebatang kayu. Ucapan dari ibumu yang ditautkan di facebook, baru bisa ayah baca sekembalinya dari menongkrong.

Apa kabar Sigi? Rambutmu masih karibo (keriting) 'kan? Jangan dibonding ya... Nanti bukan lagi My Little Medusa. Kemarin sewaktu di kampung ayah ingat, kita pernah jalan-jalan mengendarai motor ayah, pergi ke acara ulang tahun anaknya teman ayah. Dan ujung rambutmu membuat ayah bersin berkali-kali. Ayah memangkumu saat mengendarai motor, sebab di usiamu yang baru lima tahun, kewaspadaan ayah melampaui tingginya menara Limboto. 

Oh, ya, ayah sekarang berada di Gorontalo, makanya pengandaian menara Limboto sesuai domisili saja, biar Sigi nanti penasaran dengan kota Gorontalo. Jika tumbuh besar nanti, sekali-kali mainlah ke kota ini. Harga makanannya murah meriah. Para penjualnya berkiblat kepada para Psiokrat (mereka yang menuding kaum Merkantilis penyebab harga tinggi). Ah, nantilah Sigi pelajari tentang mereka, ayah juga cuma tahu sedikit soal mazhab itu. Sila berbantah-bantahan juga nanti. Karena begitulah menjadi manusia. 

Sigi sudah enam tahun ya? Waduh, tak terasa waktu begitu cepat menyeretmu menuju dewasa. Semoga ayah masih sempat melihatmu tumbuh setinggi ayah. Biar nanti ayah ingatkan terus bahwa menjadi dewasa itu membosankan. Satu-satunya cara agar tidak bosan, Sigi harus banyak berbagi dengan alam juga rajin membaca. Apa saja, asalkan bacaan itu bisa membuatmu berpikir: sifat mencari tahu itu memang sepenuhnya milik kanak-kanak. Tak banyak orang dewasa yang begitu. Kendati buku mereka segudang, waktu untuk bekerja telah menyita luang terlalu banyak. Waktu mereka berbagi dengan alam juga tersita. Di zamanmu kelak, semoga buku masih bertahan. Dan alam masih indah.

Tadi ibumu berkata: Sigi lupa hari ini ulang tahun. Padahal ibumu yang lupa, bahwa anak-anak itu selalu menemukan hal-hal baru setiap saat. Untuk perayaan setahun sekali, tentu saja Sigi akan lupa. Meski diingatkan di hari sebelumnya, Sigi akan cepat melupakannya setelah memegang pensil berwarna, lalu mencoret buku dengan gambar-gambar aneh. Seperti gambar ikan kemarin itu. Bentuknya mirip jenis ikan purba yang mungkin saja telah punah. Tapi tampangnya tak seseram monster laut (yang suka ditulis begitu oleh media). Lucu karena gambar ikannya penuh benjolan. Ada juga gambar burung berkaki satu.

Masih suka menggambar 'kan? Kemarin ayah kerap kali berpesan pada ibumu, kurangi pantengin gadget. Ibumu yang memberikan porsi terlalu banyak dengan gadget. Tapi bukan menyalahkan ibumu, itu karena ibumu tidak tahu saja dampaknya. Anak-anak akan kurang peka dengan sekitarnya. Mereka kurang berinteraksi dengan anak-anak lain, bebatuan, rerumputan, bunga, atau dinding kosong mana yang mulus untuk dicoreti. Tapi sesekali main gadget juga tidak mengapa. Asal kontrasnya dikurangi. Kasihan mata indah Sigi nanti.

Beberapa pekan lalu, ayah menonton videonya Sigi sedang merapal doa-doa pendek. Juga dengan artinya. Kemudian video Sigi sedang diajarkan mengaji. Sekolah di TK Alquran, mengharuskan anak didiknya begitu ya? Membaca doa dengan bahasa Arab itu baik. Mengaji juga baik. Tapi metode menghafal itu sih, yang agaknya kurang baik. Bermain sana!

Membaca Alquran itu juga baik. Tapi ayah heran saja, ketika Sigi diajari membaca apa yang belum selayaknya dicerna anak-anak, apalagi kalam Ilahi. Ada sih, saatnya Sigi mengenal kitab lebih dalam. Bukan hanya pada pembacaan, tapi pemaknaan. Tapi, ya, sudahlah... Sigi juga sedang berproses untuk menuju ke sana. Sigi sedang coba diajarkan mengenali huruf Arab, meski itu bisa dilakukan di usia yang tepat nanti. Kenali saja ya, jangan berharap pahala seperti orang-orang dewasa.

Kalau nanti bersama ayah, Sigi silakan bermain sepuas hati. Tahu tidak, saking bosannya orang dewasa dengan dunianya, mereka iri dengan dunia kanak-kanak. Itulah kenapa, orang dewasa ingin kalian cepat dewasa, biar mereka punya teman untuk melewati kebosanan. Dan jeleknya, ayah juga salah satu dari makhluk aneh berjuluk: deeeeewaaasaaaaaa...

Dan karena ayah telanjur masuk perangkap menjadi dewasa, ayah dulu sempat mengubah nama akun facebook ayah yang satu, menjadi namamu Sistha Ghasyafani (disingkat Sigi). Tapi satu-satunya alasan ayah mempertahankan akun itu, karena ada banyak tulisan yang ayah unggah di sana. Bukan tulisan ayah, tapi beberapa referensi bacaan yang hampir semua link-nya hilang di ponsel ayah. Sigi kelak tak perlu memakai akun itu. Kalau pun sudah cukup umur dan ingin, silakan. Mudah-mudahan ayah belum pikun mengingat kata sandinya. Akun itu juga menjadi album fotonya Sigi. Semoga facebook masih terus bertahan. Padahal, jika Sigi remaja nanti, mungkin eranya sosmed yang bisa diakses lewat pikiran. Hii, ngeri canggihnya.

Kemarin sempat ribut soal isu pedofilia lho. Para pedofil pemburu foto-foto bocah sempat ayah takuti. Tapi privasi untuk foto-foto Sigi juga telah disetel, meski sampai sekarang ayah juga kerap kali mengunggah foto-foto Sigi lewat akun facebook ayah. Tapi segala macam ketakutan wajar bagi orangtua. Kesalahan kami juga sebagai orangtua, yang terlalu gemes melihat foto anaknya dan secepat kilat membagikannya di sosmed. Postingan ini juga menyertakan fotomu. Dasar, perilaku orang dewasa.

Sigi kelak bakal mengerti, bahwa para pedofil juga makhluk Tuhan. Hanya keadaan saja yang sedang tidak adil, mengakibatkan mereka sakit seperti itu. Ngeri sih, mengetahui nasib korban-korban, dan caci maki segera melesat dari mulut banyak orang termasuk ayah. Apalagi jika korbannya sampai dibunuh. Nanti hati-hati dengan orang seperti itu, ya.

Tapi selain membayangkan nasib korban, ayah kerap kali membayangkan: seperti apa masa kanak-kanak para pedofil, kemudian seiring waktu mereka tumbuh dewasa dan akhirnya mengidap gangguan kejiwaan itu? Begitu bejatnya waktu yang menyeret mereka menjadi dewasa. Ah, semoga kalian para pedofil cepat diberi kesembuhan. Upaya mendoakan kesembuhan kalian, lebih baik daripada mengutuk.

Waduh, ayah makin ngelantur. Nanti ayah dikomentari para aktivis perlindungan anak. Meski ayah juga suka heran kepada mereka, di beberapa poster kampanye, foto anak-anak juga yang dipajang. Ah, sudah dulu ya... masing-masing orangtua yang paling tahu menjaga anak-anaknya. Itu pagar yang tidak sembarangan orang bisa melompatinya.

Eh, kue ulang tahun Sigi sudah ayah pesan. Maaf kali ini ayah tidak bisa mengantar langsung.

Selamat hari raya usia. Jangan pernah bosan dengan ucapan ini: Jangan pernah dewasa...