Sunday, May 7, 2017

Selamat Jalan Didi


Waktu memang bangsat! Ketika semua hal telah lewat, tak ada satu pun ilmu teluh yang bisa menyeretnya kembali. Saya berharap, cukup sudah tahun kemarin yang tega merenggut kawan-kawan karib. Setelahnya, biarkan dulu mereka menua. Sebab kami masih ingin bersua.

Tapi tahun ini, ternyata sama biadabnya. Baru saja kemarin saya dikabari Themmy kalau Didi masuk rumah sakit. Ia dioperasi karena luka dalam. Ada orang yang entah alasannya apa, dan tak pernah tahu kalau Didi satu dari sebagian kecil orang yang rela berjuang untuk nelayan-nelayan tradisional di Manado, lalu orang itu tega menancapkan belati di hatinya.

Orang itu mungkin juga tak pernah tahu... Didi seorang ayah.

Didi satu dari banyak teman saya di komunitas punk di Manado. Saya memang tidak seliar mereka kini, yang tetap gemar memburu panggung-panggung gig, berpogo ria, dan menikmati hidup seperti waktu tak pernah sedikit pun beranjak.

Di Daseng, saung sederhana bagi para nelayan-nelayan menambatkan perahu mereka, Didi adalah teman yang tahu bagaimana caranya menghibur kami. Dari pesta gelas, dansa botol, ikan-ikan bakar berselimut dabu-dabu, hingga nada-nada tinggi yang mengutuk pengurukan laut.

Daseng memang satu-satunya saung yang gagah menantang gedung-gedung congkak, yang berderet di atas lahan reklamasi sepanjang boulevard.

Saya ingat tahun kemarin, ketika Themmy dan kawan-kawan Daseng, mengaransemen lagu "Nenek Moyangku Seorang Pelaut" dan merekamnya untuk Didi. Itu untuk persiapan gig yang tinggal beberapa hari lagi. Lagu itu memang diciptakan spesial untuk orang-orang seperti Didi.

Ah, Didi... Februari kemarin kau masih menjemput saya di sekretariat AJI Kota Gorontalo. Dengan vespa pink kesayanganmu, kita mengelilingi kota lalu menjebak malam ke dalam botol, agar malam tak akan pernah ke mana-mana.

Waktu meski terkadang biadab, ia memiliki caranya sendiri agar kita bisa berdamai dengannya. Ia mempertemukan kita untuk terakhir kalinya. Itu seperti kata pamit darimu.

Selamat jalan Didi. Kau hanya istirah dari lelah. Dan tanah begitu bahagia memeluk orang-orang sepertimu.

Titip duka ini untuk istri dan putra gagahmu.

Sulang untukmu!