Wednesday, July 11, 2018

Dayango, agama leluhur orang Gorontalo


Beberapa warga Desa Bangga sedang menyiapkan bahan-bahan untuk ritual Dayango. - Sigidad

Daun woka atau yang lebih dikenal busung Sulawesi menggunung di lantai rumah. Lima ujung bambu, menjorok masuk melalui jendela. Pada setiap ujung bambu, berjumbai daun woka, kain putih dan merah, dan bermacam-macam dedaunan.
Sebagian warga Desa Bangga, Kecamatan Paguyaman Pantai, Kabupaten Boalemo, Provinsi Gorontalo, pada Kamis pagi (5/10/2017), berkumpul di salah satu rumah warga untuk menyiapkan bahan-bahan ritual.
"Kami akan mengadakan ritual Dayango. Ini sebenarnya seperti kepercayaan leluhur kami dulu," kata Riko Abjul (52), dengan bahasa Gorontalo kental. Hampir semua warga di Desa Bangga terbiasa menggunakan bahasa lokal.
Pria itu dipercayai mengkoordinir pelaksanaan ritual Dayango, Selain bahan-bahan di atas, di lantai telah tersedia hampir 50 lintingan rokok berbahan daun aren berisi tembakau, serta bahan-bahan keperluan lainnya.
Tampak, di genggaman salah seorang perempuan paruh baya, ada seekor ayam pipit berwarna putih. "Itu untuk keperluan ritual juga," kata Riko.
Menurutnya, semua perlengkapan ritual, disiapkan sehari sebelumnya. Sementara biaya membeli keperluan ritual atas swadaya warga. Jumlah biaya menurut Riko, sekitar Rp 500 ribu. Terbilang kecil, sebab ritual kali ini hanya digelar sehari.
Tujuan dilaksanakannya ritual kali ini, kata Riko, hanya untuk berkomunikasi dengan makhluk gaib di sekitar lahan berupa rawa yang baru saja diuruk. Lokasi yang ditimbun tersebut, diharapkan tidak mengakibatkan malapetaka bagi warga. Selain itu, warga yang rata-rata berprofesi sebagai nelayan, meminta agar hasil tangkapan mereka melimpah. Alasan terakhir, juga untuk mengobati beberapa warga yang mengaku sakit.
Menjelang sore, Riko menyuruh beberapa orang pergi menancapkan empat ujung bambu dengan kain merah di laut, dan dua ujung bambu berbendera putih di darat. "Satu ujung bambu yang paling besar dan tinggi dengan bendera putih, sebagai tiang utama. Itu ditancapkan di lokasi ritual," jelas Riko.
Dalam ritual Dayango, pemimpin ritual disebut Wombuwa. Para Wombuwa diyakini memiliki kemampuan berkomunikasi dengan makhluk di alam gaib. Hari itu ada tiga Wombuwa yang akan memimpin ritual, di antaranya Deni Polutu (65) dan Rahim Makore (63) dari Desa Bangga, juga Kahudu Dama (62) dari desa tetangga, Desa Bubaa.
"Sudah sejak lima tahun lalu, tempat ini dipilih sebagai tiang utama. Dulu tempatnya di hutan bakau," kata Wombuwa Rahim.
Sebelum hari gelap, Wombuwa Deni, memantrai tiang utama. Warga mulai mengerumuni lokasi lubang galian di mana tiang utama akan ditancapkan. Setelah ditancapkan, semua perlengkapan ritual dihampar di sekeliling tiang.
Tak berselang lama, Wombuwa Kahudu, memantrai ayam pipit kemudian diletakkan di dalam tempurung bertangkup. Setelah itu, ayam pipitnya dikubur hidup-hidup.
"Jika kampung ini bermasalah, teriakan roh ayam pipit akan terdengar dari ujung tiang," katanya.
Ia mengatakan, mantra yang digunakan selama Dayango, menggunakan bahasa Gorontalo. Selain itu, mantra hanya dibaca dalam hati. Bait-bait mantra tidak boleh disebutkan artinya. Hanya para Wombuwa yang tahu bacaan mantra.
Sekitar pukul 7 malam, setelah salat Isya, warga semakin banyak berdatangan di lokasi ritual. Tampak purnama naik perlahan dari permukaan laut. Di lokasi ritual pun telah diberi lampu penerangan.
Tiga Wombuwa itu, kembali memimpin ritual. Dua orang pria lainnya, dengan ikat kepala merah dan putih, masuk ke tengah-tengah pelaksanaan ritual, dengan satu rumbai daun woka di masing-masing genggaman. Orang-orang yang mengitari lokasi, diminta agar tidak memunggungi lautan. Sebab itu jalan masuk makhluk gaib dari arah lautan.
Ritual Dayango sedang berlangsung. - Sigidad
Lengkingan nyanyian ibu-ibu terdengar. Bau kemenyan menyengat. Ketiga pria yang memegang daun woka, mulai menjerit dan menari-nari. Sesekali salah seorang pria mendekati para Wombuwa.
Selain kedua pria itu, Wombuwa Kahudu yang mengenakan pakaian dan ikat kepala merah, pun ikut menari. Selama berjam-jam mereka menari tanpa henti.
Sekitar pukul 10 malam, ritual dipindahkan ke rumah warga yang dipakai menyiapkan keperluan sejak sore. Satu per satu warga mulai bergantian dirasuki. Wombuwa menemani mereka yang kerasukan berjalan dari depan rumah, menuju tiang utama yang hanya berjarak 10 meter.
Di dalam rumah, pria-pria yang kerasukan tadi mulai diminta beberapa orang warga, untuk mengobati penyakit mereka. "Biasanya penyakit yang tak kunjung sembuh dengan perawatan medis, bisa sembuh ketika Dayango. Tapi bukan penyakit-penyakit berat seperti kanker atau tumor," jelas Wombuwa Rahim.
Salah seorang perempuan yang baru saja diobati, Neli Makore (27), mengaku mengalami sakit di bagian kaki. Setelah dipijat oleh salah seorang yang dirasuki, sakitnya per lahan hilang. "Biasanya ibu-ibu yang mengeluh sakit kaki, ada yang sudah berobat ke Puskesmas di Kecamatan, tapi masih saja sakit. Saya juga begitu. Tapi saat diobat tadi, sakitnya mulai hilang," akunya.
Di Desa Bangga memang tidak tersedia Puskesmas. Hanya ada dua orang bidan yang menetap di desa. Jika hendak berobat, warga harus menuju kecamatan.
Kepala Desa Bangga, atau biasa disebut Ayahanda, Mansur Dama (43), mengatakan ritual adat Dayango hampir setiap tahun dilaksanakan di desanya. Ia mengusulkan pula, agar Dayango diperhatikan pemerintah, sebab ritual ini bisa menarik kunjungan wisatawan.
"Desa Bangga ini, selain produksi ikan Rowa (sejenis ikan laut yang diasapi) yang cukup dikenal, juga memiliki kekayaan budaya seperti Dayango. Pemerintah harus memperhatikan ini agar bisa menjadi desa pariwisata," sampainya.
Ayahanda Mansur yang sudah memimpin Desa Bangga sejak 2013 ini, juga prihatin dengan kondisi akses jalan menuju desanya yang rusak parah.
"Di sini selain kesulitan air, jalannya juga rusak parah dan belum diaspal. Jadi akses ke sini susah. Anak-anak saja ada yang jalan kaki sejauh tiga kilometer menuju sekolah," katanya.
Desa Bangga yang berpantai pasir putih dan berpenduduk sekitar 360 jiwa ini, hanya memiliki satu sekolah dasar. Sementara sekolah menengah pertama dan atas, berada di desa tetangga, yang harus ditempuh dengan perahu, motor, atau jalan kaki.
Malam itu, Mansur menemani warganya melaksanakan Dayango hingga larut malam. Sebelum azan Subuh, ia lantas pamit kepada para Wombuwa dan warga lain yang masih melanjutkan ritual hingga pagi hari.
Nanti pagi datang lagi, sebab itu adalah acara puncak,” katanya sebelum meninggalkan lokasi ritual.
Sekitar pukul 7 pagi, warga kembali mengerumuni lokasi ritual. Tari-tarian sudah berhenti. Pagi ini, selain melarung beberapa sesajen di laut, ada pula ritual membersihkan benda-benda berupa jimat milik Wombuwa. Ini menjadi puncak ritual Dayango.
Semua benda yang dibungkus menggunakan sapu tangan lusuh, dihamburkan di dalam ember air. Posisi jimat yang berserakan di dalam ember, mengisyaratkan gejala-gejala alam yang akan terjadi ke depan.
"Nanti air rendaman jimat bisa dibasuhkan dan diminum. Dengan memohon agar terhindar dari marabahaya, juga berbagai macam penyakit," kata Wombuwa Kahudu.
Teni Mahmud (35), salah seorang warga yang kerasukan sejak dimulainya Dayango, hingga pagi hari, masih terlihat bugar pagi itu. Ia mengaku sudah terbiasa mengikuti ritual. Selama kerasukan, ia juga bisa mengontrol agar kondisinya tetap sadar, kendati sesekali ia merasa tak mampu lagi mengontrol keadaan.
"Bagi yang belum biasa, paginya pasti lelah. Saya sejak remaja telah terbiasa dirasuki," katanya.
Teni pagi itu, juga bertugas melarung sesajen. Setelah sesajen berupa beras lima warna ditabur di beberapa sudut lautan, selesailah semua rangkaian ritual Dayango.
Wombuwa Rahim sedang mencuci jimat. - Sigidad
Setelah membasuh dan memantrai beberapa warga, Wombuwa Rahim menceritakan tentang nasib ritual Dayango kelak. Ia meski pesimis, masih berharap agar Dayango yang kebanyakan pelaksanaannya hanya di beberapa desa, termasuk Desa Bangga, bisa diwariskan ke generasi.
"Harus ada Wombuwa yang memimpin ritual ini. Tapi menjadi Wombuwa, harus orang yang lurus hatinya dan lemah lembut perangainya. Ini saja, kami yang sudah tua, belum memiliki pengganti," katanya.
Pagi itu, Jumat (6/10/2017), warga Desa Bangga kembali pergi melaut. Warga Desa Bubaa yang sempat hadir bersama Wombuwa Kahudu, juga pamit kembali ke desanya. Dari kejauhan, bendera putih di pucuk tiang utama tampak berkibar di langit pagi yang biru.
Ditemui di rumahnya di Jalan Rambutan, Dungingi, Kota Gorontalo, Minggu (3/12/2017), salah satu periset terkait tradisi Dayango, Ipong Niaga (36), mengatakan Dayango memang tergolong agama lokal orang Gorontalo kuno sejak ratusan tahun lalu, sebelum Islam masuk (1525 Masehi) di Gorontalo, kemudian disusul agama lainnya.
Jadi itu bukan animisme. Saya menyebut itu agama. Dayango berinteraksi juga dengan Tuhan, yang mereka sebut Sang Eya, lewat proses pemanggilan atau motiyango roh-roh yang diberi nama Latti, yang bertugas merawat alam semesta, memelihara tanaman, dan mengobati penyakit yang menyerang makhluk hidup. Dan Wombuwa ialah perantaranya,” kata pria Jawa yang lahir di Jakarta dan menjadi pengajar di Universitas Negeri Gorontalo (UNG) itu.
Menurutnya, Dayango termasuk agama lokal yang belum mengenal konsep moral, murni hubungan manusia dengan Tuhannya.
Asal penamaan Dayango pun, kata dia, diambil juga dari istilah motiyango, yaitu bermula dari kata daya-daya yang diartikan perjanjian, dan da yang berarti suatu tempat.
Daya-dayadamotiyango, berarti memanggil sesuatu dengan maksud untuk memenuhi janji di suatu tempat,” jelas Ipong, yang pada akhir 2014 lalu, diangkat sebagai Kepala Jurusan Pendidikan Sendratasik, Fakultas Sastra dan Budaya, UNG.
Selain itu, Ipong menilai pelaksanaan Dayango cukup rasional, sebab bagi mereka yang tidak mengerti ilmu perbintangan, maka pelaksanaan Dayango menjadi sia-sia.
Para Wombuwa pandai membaca rasi bintang. Gejala alam bisa mereka prediksi dari perbintangan. Jadi sebenarnya mereka paham kosmologi,” katanya.
Medio 1970an, kata Ipong, sempat ada pelarangan keras terhadap ritual ini, baik dari pemerintah dan aparat keamanan. Ia sempat bertanya kepada salah satu kepala desa dan camat di Kecamatan Bongomeme, Gorontalo, yang menceritakan pelarangan terjadi sebab Orde Baru saat itu anti terhadap hal-hal yang jauh dari ketentuan agama.
Dikait-kaitkan dengan kasus 1965. Padahal tidak ada relevansinya antara ideologi komunis dengan ritual Dayango. Saya pikir itu hanya bias saja,” katanya.
Setelah itu, pelarangan biasanya terjadi sebab ketika ritual Dayango yang diadakan begitu semarak semacam pasar malam, dan beberapa orang kerap mabuk lantas terjadi kericuhan.
Ipong mengaku, salah satu buku hasil risetnya tentang Dayango pada 2013 lalu, berjudul Masalah-Masalah Budaya, menjadi rujukan ketika pengajuan ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, agar Dayango menjadi salah satu warisan budaya tak benda.
Saya juga bersama tiga orang teman, membuat film dokumenternya berjudul Ritual Dayango, 2013 lalu. Bisa dicari di youtube,” katanya.
Dilansir dari website resmi kemdikbud.go.id, pada rapat koordinasi I, 28-30 Maret 2016, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya, Direktorat Jenderal Kebudayaan, menerima sebanyak 474 usulan karya budaya, untuk menjadi warisan budaya tak benda.
Semua hasil karya budaya tersebut, diseleksi lagi oleh tim ahli karya budaya, dengan beberapa persyaratan yang telah ditentukan, berupa kelengkapan data pendukung seperti adanya foto, video serta kajian akademis.
Melalui seleksi administrasi dan berlanjut pada rapat koordiansi ke II, 19-21 April 2016, hanya 270 karya budaya yang berhasil lolos. Selanjutnya, pada rapat koordinasi ke III, tersaring 150 karya budaya yang layak disidangkan pada penetapan warisan budaya tak benda Indonesia, tahun 2016.
Berada pada urutan ke-130, Dayango akhirnya ditetapkan sebagai salah satu warisan budaya tak benda Indonesia, dari Provinsi Gorontalo, selain tradisi dan ekspresi lisan Lohidu pada urutan ke-128, Tahuli yang juga tradisi dan ekspresi lisan di urutan ke-129, berikut seni pertunjukan Langga di posisi ke-131, dan yang terakhir di posisi 132, Binte Biluhuta termasuk dalam kategori kemahiran dan kerajinan tradisional. (*)