Friday, December 20, 2013

IBU

Hampir cerlang hari ini, yang seketika merengut tirai embun pagi. Tampak dua lengan itu sedang membasuh kantuk dengan percikan-percikan air di wajah rentanya. Di sudut kamar mandi berdindingkan lempeng tipis besi berkarat, ada ember penuh oleh air dengan setumpuk pakaian siap dibilas. Ada laron-laron mati di kulit air bergelembung sabun itu, yang diramaikan pula oleh puluhan sayap-sayap terputus dari jasad alit yang mengambang. Hembusan nafas lelahnya tampak melukis udara dingin. Tapi perempuan itu tetap jongkok membilas nasib.

Matahari belum menengadah. Dan sederet jemuran terkulai basah menggilas semut-semut yang berjejeran di atas temali. Banyak semut yang terkulum basah, sementara lainnya ringan jatuh dan mendarat enteng di permukaan tanah, bersamaan dengan peluh perempuan itu, dan tetesan air dari deretan pakaian. Kini, setelah selesai dengan seember air, ia masih melanjutkannya dengan menjerang sepanci air lagi, membikin segelas teh untuknya, dan segelas kopi untuk suaminya, kemudian setelah itu, dilanjutkannya menanak bubur untuk sarapan anaknya. Urusannya dengan air belum selesai, karena ia masih akan memandikan anaknya yang mau berangkat ke taman kanak-kanak.

Rasanya... Apa yang tentang dia, tentang ibu, selalu terlalu banyak, memoriku penuh untuk mengingat, dan selalu ― hanya Ibu. Kita punya bejibun kisah tentang dia, tapi coba ceritakan satu? Maka yang akan kamu tulis hanya ― IBU.

(Aku terlalu mabuk untuk melanjutkannya!)

Powered by Telkomsel BlackBerry®