Sunday, December 22, 2013

The Godfather

Jauh sebelum aku dan kakak-kakakku dilahirkan, entah masih berada di mana jiwa kami saat itu. Pertanyaan itu selalu hadir setiap memandangi kedua orang-tuaku. Mereka media agar kami bisa meneriaki dunia. Malam ini, pertanyaan itu kembali hadir, sesaat setelah ayah tiba-tiba saja rengsa dengan teriak yang hampir hilang. Di rumah ini, tinggal aku satu-satunya anak yang tersisa. Memapahnya ke kamar mandi, dan dengan telinga yang terus siaga kala tidur.

Tadi saat di kamar mandi, seekor cicak memangsa serangga di dinding samping bohlam. Nyawa begitu saja terlahap, oleh detik, menit, jam, bahkan tahun pun akan terasa sangat singkat. Hidup selama ini, kami yang masih muda dan gagah, pun tak ketinggalan kerap merasakan maut mengecup kening dengan hening. Tapi hingga kini, kami masih berdiri gagah.

Ayah pernah segagah kami di kemarin yang lampau. Sepulang kantor mengurusi kolam di belakang rumah, pulang dengan memikul seikat kayu bakar dan lima hingga enam sisir pisang, juga beberapa ekor ikan yang mulutnya telah terjahit seutas temali dari rautan pelepah pohon pisang. Ayah terlihat sangat gagah saat itu. Tak seperti yang sedang aku saksikan saat ini.

Puluhan tahun lalu, aku hanya bocah yang selalu merasa nyaman berada di antara kain sarungnya yang serupa ayunan, sembari menonton TV di rumah tetangga. Puluhan tahun lalu hingga sekarang, tak pernah ada tamparan mendarat di pipi, layaknya yang sering aku terima dari para guru-guru di sekolah. Hanya beberapa kali gertak cambuk ikat pinggang yang tak pernah terlecut.

Ada satu kebiasaan yang hingga sekarang, tidak bisa dihilangkan darinya. Merokok. Pernah sekali-duakali aku ingatkan, tapi jawaban darinya yang klasik dan berulang-kali terucap, "Kita meninggal bukan karena ini (rokok), tapi disebabkan oleh maut." Itu jawaban yang singkat dan meringkus segalanya. Dan karena jawaban itu pula, hingga sekarang, jika aku kehabisan rokok di tengah malam buta, tak perlu jauh-jauh ke warung, menembus gigil malam, sebab di bawah bantal tidurnya, selalu terselip sebungkus rokok di sana. Itu sebungkus rokok yang terlampau istimewa. Apapun mereknya.

Kini raga itu menggigir, rengsa dengan sekujur tubuh penuh peluh. Tapi candaan dari kedua pasutri termulia di muka bumi ini masih sempat-sempatnya terlontar. "Besok pake pampers jo ne," tanya ibu, dan singkat dijawab olehnya, "Jadi sama deng Sigi."

Cepat sembuh ayah. Bukan hanya di tahun ini harap dan doaku untuk kesehatan ayah, juga ibu. Selalu. Bahkan meski harus kutukar dengan kesehatanku.

Powered by Telkomsel BlackBerry®