Thursday, May 22, 2014

Catatan Pinggir Goenawan Mohamad: Allah

ORANG sering menyembah Tuhan yang diperkecil. Maka berabad-abad yang lalu, di kota-kota yang berbataskan gurun, di mana langit luas dan malam dihuni cerita dan rahasia, para rasul datang memperingatkan. Mereka mengecam berhala. Mereka mengecam doa yang membayangkan Tuhan sebagai—jika kita pakai kiasan hari ini—seraut pohon bonsai.
Berhala atau bonsai: sesuatu yang memikat justru karena diletakkan di sebuah kotak yang tetap, seakan-akan hidup, tapi sebenarnya hanya Tuhan yang diperkecil oleh manusia, sesembahan yang jauh dari hakikat Dia yang maha-agung.
Orang-orang muslim punya sebuah cerita dari Quran.
Di hadapan Fir'aun, begitulah dikisahkan, Musa memberi jawab yang tak diharapkan ketika raja Mesir itu bertanya, "Dan apakah Tuhan alam dunia itu?" Pertanyaan itu, "Ma rabbu al-alamina?", cenderung menantikan sebuah definisi. Tapi jawaban Musa berbeda, dan sangat kena. Nabi itu hanya mengatakan bahwa "Tuhan" adalah "Tuhan dari Timur dan dari Barat, dan dari segala yang ada di antaranya."
Musa tak memberikan sebuah definisi, sebab Tuhan yang didefinisikan sama halnya dengan Tuhan yang dibatasi, rapat-rapat, dalam bahasa. Jawaban Musa sebenarnya sebuah deskripsi—atau lebih tepat, sebuah penggambaran yang tak berakhir di satu kesimpulan. Kita bisa menafsirkannya sebagai usaha untuk menunjukkan, dengan kiasan, bahwa Tuhan adalah keagungan yang hadir di ufuk Timur, di mana cahaya bersinar, dan juga di arah Barat, tempat gelap berangkat. Dengan kata lain: Tuhan adalah Rabb-i— "pemilik", "tuan", dan "pengasuh"—dari segalanya, dari yang tampak dan tak tampak, dari yang bersama terang dan yang menemui kelam.
Itu sebabnya Ia "esa". Di sini, "esa"—yang dalam bahasa Indonesia ditambahi dengan kata "maha"—berbeda dari "satu". "Satu" adalah sebuah bilangan, sementara yang ilahiah tak dapat dihitung. Ia bukan seperti bulan dan matahari.
Ia bukan juga Tuhan dalam Also Sprach Zarathustra: Tuhan yang digambarkan Nietzsche sebagai sosok "tua berjanggut muram" yang "cemburu" dan berkata, "Hanya ada satu Tuhan! Kalian tak boleh punya tuhan lain selain aku!" Dalam Zarathustra, setelah pernyataan itu diucapkan, tuhan-tuhan lain pun mati—bukan karena dibinasakan, tapi karena tertawa geli.
Bagi saya, karikatur Nietzsche ini tak bisa menangkap sikap mereka yang hanif, yang percaya bahwa Ilahi adalah tunggal. Kaum monotheis tak datang untuk mengurangi jumlah. Mereka tak hendak meringkas persoalan. Justru sebaliknya. Yang Maha-agung adalah tunggal karena Ia begitu akbar dan sulit diutarakan. Ia adalah dasar dan juga sumber dari sebuah daya yang menggetarkan—sebuah daya yang menyebabkan segala hal muncul ke dalam terang, "ada".
Siapa saja yang tergetar oleh daya itu, dan mencoba menyebut sumber yang ada di baliknya dengan sebuah nama, dengan sebuah kata, ia akan merasa tak sanggup. Chairil Anwar mengeluh dalam sebuah sajak yang ia beri nama Doa: "Betapa susah sungguh, mengingat Kau penuh seluruh."
"Kau" yang "penuh seluruh" itu tak mungkin Tuhan yang diperkecil. Ibn 'Arabi, sufi dan pemikir besar Spanyol pada abad ke-12, menyebutnya sebagai "Yang Mutlak" (haqq). Artinya, "yang paling tak dapat ditentukan dari semua yang tak dapat ditentukan," "ankar al-nakirat." Ia gaib segaib-gaibnya, Ia "yang paling tak dapat diketahui dari semua yang tak diketahui." Ia tak dapat diketahui karena Ia melampaui semua kualifikasi yang berlaku di dunia manusia.
Tapi manusia sering menyembah Tuhan yang diperkecil. Kadang-kadang mereka perlakukan Tuhan sebagai penguasa dalam sebuah wilayah, raja dengan batas tegar. Kini banyak yang mengira bahwa ketika Quran turun dan menyebut nama itu, "Allah", Islam hendak memperkenalkan sesosok tuhan lagi ke dalam pantheon yang telah sesak.
Seakan-akan "Allah" bukanlah nama yang dipakai oleh orang Arab di zaman pra-Islam, baik yang jahiliah maupun yang hanif, baik yang politheistis maupun yang Kristen. Seakan-akan "Allah" semata-mata Tuhan-orang-Islam yang bertakhta di sebuah kerajaan yang beradat-istiadat tersendiri.
"Tuhan mereka berbeda dengan Tuhan kami," kata kaum Fundamentalis Kristen yang melihat dunia Islam dengan waswas. Seakan-akan Tuhan-orang-Kristen, Tuhan-orang-Yahudi, dan sederet tuhan yang lain, bersaing—persis seperti Tuhan yang cemburu dalam sajak Zarathustra.
Mungkin sebab itu para rasul perlu datang lagi. Tapi bisakah? Saya coba renungkan lagi Fusus al-Hikam (ditulis pada tahun 1229), melalui Sufism and Taoism, uraian yang tekun dan terang dari Toshihiko Izutsu, ilmuwan Jepang yang jadi penafsir utama Ibn 'Arabi.
Saya kini kian tahu kenapa Tuhan adalah Yang Mutlak. Tapi kita agaknya hidup di dunia yang dikuasai oleh ahl 'aql wa-taqyid wa-hasr, mereka yang mendekati Yang Gaib seraya "mengikat, membatasi, dan mengekang." Tuhan pun diperkecil.
Pada akhirnya Ia hanya Ilahi yang ditinggalkan.
Tuhan yang seperti itu hadir di mana-mana, tapi seakan-akan variasi dari sebuah patung polisi lalu lintas: sesosok berhala di tepi jalan, untuk mengingatkan, menakut-nakuti, mengawasi. Tuhan bukan lagi sumber dari "rahmah al-imtinan" yang dilukiskan Ibn 'Arabi: rahmat yang menjangkau siapa saja dan apa saja tanpa mengharapkan apa saja—rahmat yang bahkan bukan sebagai pahala bagi mereka yang berbuat baik.
Dengan Tuhan yang tanpa rahmat seperti itu, kita pun hidup di masa yang ditandai Fehl Gottes: "gagalnya Tuhan datang," kata Heidegger. Meskipun nama-Nya disebut terus-menerus, "dunia telah menjadi tanpa penyembuhan, tak suci." Sebaris sajak Chairil mungkin mengungkapkan hal itu: "Caya-Mu panas suci/tinggal kerlip lilin di malam hari."
Adakah di sini kita berbicara tentang "sekularisme"? Saya kira tidak. Mungkin kita justru berbicara tentang suasana ketika "yang suci" telah jadi banal, ketika "yang kudus" diletakkan sebagai rutin hidup sehari-hari, dan mengurus tetek-bengeknya. Pada saat itu memang "Tuhan" ramai-ramai dipasarkan dan dipamerkan. Tapi ia diletakkan di sebuah kotak, seperti seraut pohon bonsai.

2 November 2003


Saung Layung Arus Balik

Aku pernah bermimpi, tinggal di sebuah desa terpencil dan menjadi seorang pengajar di tingkat sekolah dasar. Terlebih setelah beberapa kali membaca novel dan menonton film mengenai abdi seorang guru yang rela meringkuk di antara belantara hutan dan jauh dari ramai riuh perkotaan.
Begitu nikmatnya ketika kita membuka mata di kala pagi, dan disambut dengan kemuning cahaya mentari di punggung pegunungan dan hijau hamparan persawahan. Menghidu aroma sejuk yang menebal di udara, dan telinga yang dihibur kicau burung-burung mencicit di desir angin pagi. Maka nikmat Tuhan manalagi yang kamu dustakan di keadaan seperti itu?

Yah, sampai di suatu hari, seorang sahabat yang mempunyai cita-cita yang kurang lebih sama mengabariku lewat SMS. "Sigidad, kami berencana mendirikan rumah belajar di sana, lokasinya di desa Moyag, dan satunya lagi di desa Bakan. Nanti kita ketemuan untuk membicarakannya."
Mimpi itu terwujud sudah. Setelah perjumpaan yang singkat di rumahnya, rencana kami itu akan coba dirampungkan setelah segala urusan perkuliahannya selesai. Beberapa orang teman kuliahnya yang berasal dari Makassar melakukan riset di lingkar tambang di desa Bakan, dan akhirnya tugas mereka pun selesai dan waktunya untuk mereka kembali ke Makassar.

Setelah sebelumnya diajak keliling-keliling kota Manado hingga menyempatkan diri menyelam di keindahan taman laut dan terumbu karang pulau Bunaken, akhirnya bandara Samratulangi menunggu mereka untuk membawa mereka kembali pulang. Misi selesai sudah.

Setelah itu, di rumah saudaranya yang menjadi tempat kami menginap sementara, tepatnya di tepi kolam ikan yang letaknya di halaman belakang rumah, ide segar itupun tiba-tiba benderang di atas kepala kami. Satu kata telah ditemukan, Saung. Dan setelah itu kata kedua, Layung. Dan sisanya kami mencuri judul bukunya Pramoedya Ananta Toer, Arus Balik.

Jadilah sebuah nama untuk rumah belajar kami "Saung Layung Arus Balik". Dan tanpa disengaja, "Saung" itu mengidentikkan dengan tempat rumah belajar itu sendiri, yakni desa Bakan yang memang sebuah wilayah yang dikelilingi area persawahan dan terdapat beberapa saung di setiap hamparan persawahan. Dan kata "Layung" yang jika di desa Moyag, di kala sore hari, maka warna kuning kemerah-merahan di ufuk barat Kotamobagu akan terlihat begitu indah dari sana.

Apa sebenarnya yang menggerakkan hati kami untuk mencoba mendirikan rumah belajar yang orientasinya memang bukan hanya untuk anak-anak putus sekolah, pun dengan metode belajar yang berbeda dari sekolah formal?

Kami hanya ingin agar dada anak-anak ini tak berdebar takut kala malam hari, tersebab pekerjaan rumah mereka yang belum selesai, atau dengan mata pelajaran yang membuat mereka pusing keesokan harinya. Tapi kami ingin supaya dada mereka bergemuruh tak sabar menanti esok hari, karena pelajaran-pelajaran itu mereka sukai dan dinanti-nantikan. Keajaiban masa kanak-kanak tak boleh direbut oleh pekerjaan rumah yang menumpuk dan mata pelajaran yang memusingkan.

Nak, ambil penamu dan menulislah sesuka hatimu. Corat-coretlah lembaran putih itu, gambarlah apa saja yang terlintas di imajinasi kalian, lalu namai sesuka hati kalian. Dan tanyailah kami apa saja, sebab kami akan coba menjawab dengan bahasa yang kalian tahu.
***
Kemarin kami menyempatkan diri mengunjungi desa Bakan dan bertemu dengan kepala desa di kediamannya. Respon yang mulia itu tertutur haru dengan diijinkannya kami menempati salah satu ruangan di bangunan sekolah dasar. Karena waktu mengajar kami sore hari, maka tak menggangu aktivitas belajar mereka.

Terima kasih pak kepala desa...

Sedangkan untuk lokasi di desa Moyag. Kebetulan akses di sana pun cukup merangkul kami.
Ah, tak sabar menunggu saat mulai mengajar itu tiba. Apapun yang menyoal kemanusiaan, terlebih itu mengenai pendidikan, seperti kata Pram, "Pendidikan untuk mengagungkan kemanusiaan."
Setelah ini, mungkin aku berniat ingin membukukan pengalaman-pengalaman mengajar kami nantinya. Dan untuk teman-teman yang tergerak hatinya ingin turut berpartisipasi dengan kami. Ringankan langkah kalian demi mencerdaskan generasi Nusantara.

Saung Layung Arus Balik. Tuhan tahu apa yang ada di benak kami. Dengan niat yang tulus, maka setelah itu yang ada hanyalah kata, "Mari berbuat!"













Saturday, May 3, 2014

Dumoga, Negeri Para Shinobi

Yang akrab dengan manga (komik Jepang) apalagi yang berlatar Ninja, pasti familiar dengan sebutan Shinobi. Shinobi atau Ninja, yang ingin saya hubungkan dengan suatu wilayah rentan rusuh, Dumoga.

Saya mendengar seorang kawan pernah melontarkan kalimat itu, "Dumoga, negeri para Shinobi," Sebulan yang lalu, jauh sebelum Doloduo dan Ikhwan saling terkam dalam rusuh tarkam pekan lalu. Pun disusul bentrok antara desa Imandi dan Tambun, dan kini dilanjutkan pula seteru yang melibatkan tiga desa. Ibolian, Tonom, dan Mogoyunggung.

Memang warga Dumoga identik dengan perangai yang keras sebab terbiasa hidup keras. Hampir sebagian penduduk Dumoga yang bermata pencaharian sebagai penambang tradisional, liar, dan seringkali tak segan mengorbankan nyawa untuk berebutan lokasi tambang, hingga terbisiklah istilah "Baninja" dari kuping ke kuping, mereka yang rela mati demi suap nasi untuk bini dan anak mereka. Terlepas dari persoalan sengketa wilayah tambang, kini betrok mulai disebabkan oleh hal-hal sepeleh, yakni pemuda-pemuda yang mabuk.

Bicara soal ninja, tak banyak memang dari para ninja-ninja Dumoga ini memiliki ninjutsu, keahlian seni beladiri di atas rata-rata, bahkan santer terdengar ilmu beladiri mereka yang tak bisa dilogiskan pun sempat menjadi ketakutan di antara para ninja-ninja lainnya. Selain kelihaian mereka memainkan samurai tentunya.

Saya ingin mendedah sedikit soal rusuh tarkam antara Doloduo dan Ikhwan. Soal penembakan aparat kepada enam orang warga yang di antaranya ada dua orang ibu rumah tangga. Sungguh tragis. Peluru yang menembus payudara ibu. Payudara yang menyusui putra-putri Dumoga. Meski dengan alasan prosedural, kenapa moncong senapan tak kalian arahkan ke kaki duluan? Melumpuhkan.

Ibu-ibu yang melahirkan putra dan putri Dumoga tak pernah ingin keturunan mereka meliar seperti sekawanan serigala. Tapi alam dan keadaan yang mendidik mereka. Air susu dari puting payudara dua ibu yang terluka oleh terjangan peluru dari aparat, tak pernah berharap otak anak-anak mereka terganggu oleh sebab gizi yang mereka asup dan membaur di air susu membikin otak anak-anak mereka bebal. Dan tentu saja, dua ibu itu tak pernah menyadari, akan diterjang oleh peluru-peluru nyasar. Sebab apapun yang nyasar, pasti selalu tentang ketidaktelitian.

Saat gejolak konflik ini merembet ke desa-desa lainnya yang juga sudah cukup mainstream kita dengar seperti bentrok antar Imandi dan Tambun, juga Ibolian dan Tonom berlanjut. Sikap pihak keamanan yang dengan sigap berjibaku menentramkan konflik, mulai awas dengan kejadian penembakan sebelumnya. Semua memang tak ingin "perang", dan kala api temu bensin, yang harus menyiapkan setimba air itu siapa?

Dalam kasus ini, saya bukan menyalahkan aparat kepolisian yang mengamankan rusuh tarkam. Siapa pun tak setuju dengan perbuatan tak memanusiakan manusia lainnya. Tapi mampukah para pihak keamanan ini bersikap netral? jika kita telaah lebih cerlang, bahwa bentrok yang terjadi selalu antara dua penganut agama yang berbeda.

Tentunya kita tak ingin di negeri Totabuan ini, sampai pecah konflik yang dilatarbelakangi oleh konflik antar agama. Solusi yang terbaik, kenapa tak menggiatkan kegiatan-kegiatan yang mempersatukan tali persaudaraan? semisal membiasakan setiap hari-hari besar masing-masing agama, agar saling turut membantu keamanan di hari-hari perayaan itu. Mari kita ciptakan kembali budaya gotong-royong. Anak-anak sedari usia dini dididik agar saling menghargai desa tetangga, dan tentunya penganut agama yang berbeda.

Sekejam-kejamnya para Shinobi, di saat sebelum membunuh, coba ditatap kembali dengan seksama lagi binar mata korban. Rasakan kehidupan di sana dan maknai bahwa kita adalah sesama manusia yang, untuk apa saling tengkar. Apalagi sebab yang selalu didasari hal sepeleh: karena alasan mabuk, teriak, dan raungan bising knalpot racing.

Saya sungguh prihatin dengan konflik yang terjadi di Dumoga. Dan jika benar kalian para Shinobi sejati, kenapa tak kalian gunakan keahlian kalian dengan sebuah prestasi? Atau kenapa tak banyak merekrut calon polisi ataupun TNI dari warga Dumoga?
Ah, ini bumi jika terbelah dua dan yang di antaranya hanya langit. Manusia akan tetap menyeberanginya untuk berperang. Kalian di Dumoga bukan bodoh, tapi tak mau belajar untuk membuka diri dengan perbedaan.

Powered by Telkomsel BlackBerry®