Tuesday, January 20, 2015

Perempuan

Oksigen membentang di bumi. Lalu dihidu segala mahluk hidup dengan ketersediaan yang melimpah.
Namun di sudut sebuah ruang perawatan rumah sakit. Terbaring lelaki yang hanya ditemani perempuan dan tabung oksigen. Tubuh lelaki itu ringkih dengan rusuk menyembul dari daging yang kusut. Sekusut raut perempuan itu.
Sepasang pecinta ini telah dua dekade merajut rumah-tangga. Diberi sepasang anak dan satu cucu. Perempuan itu, kakak paling tua yang biasanya menjadi pilihanku, saat lauk di rumah tak sejiwa dengan liur.
Perempuan itu, mengelus-elus rambut kering lelaki di sampingnya. Di binar matanya ada harapan tentang esok yang serupa puluhan tahun lalu. Kala mereka memadu kasih di sebuah bangku gelap di bawah pohon rindang. Namun saat terbaring rengsa, lelaki di sampingnya ditatap penuh kekaguman yang tak kunjung pudar.
Wajah perempuan itu selalu cemas melirik jarum oksigen. Tanda merah, adalah puncak kegelisahan yang membuatnya selalu awas. Ia tak beruang, hanya kertas-kertas jaminan kesehatan ia letakkan di bawah bantal, sebagai pengumpul nyawa. Harapannya pun bersandar pada tabung oksigen.
Perempuan itu kembali tidur. Ia takut bermimpi sebab takut tak terbangun. Ia seharusnya terjaga, meski seharusnya ia istirahat. Cemas, bimbang, ketidakberdayaan setiap kali ditodong resep-resep obat. Membuat ia semakin kuat. Perempuan itu bukan lagi perempuan. Ia adalah seorang istri. Statusnya kali ini teruji setelah bertahun-tahun. Yah, perempuan itu adalah seorang istri.
Mungkin benar, perempuan adalah satu-satunya manifestasi citra Tuhan paling sempurna di muka bumi. Seorang perempuan menjadi istri, sekaligus menjadi ibu. Memiliki rahim sebagai pengingat Kemahapenciptaan-Nya.
Perempuan itu tak lagi bermuka sendu kemarin. Harapannya berubah menjadi keikhlasan. Seketika rautnya berubah menjadi wajah Tuhan. Perempuan itu sempurna menjadi Tuhan di bumi.
Namun, ia masih menunggu. Kilatan harapan itu masih ada. Di sudut kiri matanya. Bukan lagi pada tabung oksigen.