Saturday, January 31, 2015

Tiga 'L' di Negeri Lonua'

Pemimpinnya berkumis, dengan nama tenar Leluho' (Leluhur). Ia memimpin Negeri Lonua' sambil menggengam matahari timur. Namun saat condong ke barat, matahari itu lepas.
Rakyatnya pun tahu persis, siapa Leluho' di balik lelucon dan kecakapannya bertutur. Leluho' pun tahu persis, siapa rakyatnya dan apa yang harus dilakukannya. Konon, Leluho' memiliki ilmu pukau, turun temurun dari leluhurnya. Leluhur nun jauh di Negeri Sahara.
Bertahun-tahun ia memimpin rakyat Lonua', sebagian rakyatnya jenuh dan keruh. Sebagian besar. Isu miring terendus sesekali.
Sedangkan di bibir pantai, di lindap subuh saat matahari masih mengatupkan cahayanya. Percakapan antara Embun dan Angin Pantai, bermula....
"Saya mulai jenuh dengan Leluho'. Tapi kami adalah sahabat karib. Keakraban kami serupa embun yang memoles dedaunan pagi," Embun bermonolog.
"Namun, masih tersisa sedikit terang dariku untuknya, meski jenuh ini semakin mengeruh."
Sepintas, kilatan kecil menggaris di kulit daun bakau. Angin Pantai mendengar keluhan Embun. Hadir lalu tercipta dialog.
"Apa gerangan yang membuatmu jenuh dengan Leluho'?" tanya Angin Pantai, sembari meliuk-liuk dan menampar kecil dedaunan, membikin Embun bergetar.
"Sahabatku berubah!"
"Apa yang berubah darinya? Bukankah Leluho' dari gerak masa, tabiat bocahnya sudah menjadi penentu?"
"Entahlah, mungkin dia lelah!"
"Tak ada yang melelahkan menjadi seorang pemimpin. Telunjukmu pun bisa menjadi tongkat Musa." 
Perkataan Angin Pantai, membuat Embun seakan ingin menetes di lautan garam di bawahnya. Meninggalkan lembar daun dan Leluho'. 
"Kau tahu Angin. Tak mudah membagi kesetiaan dengannya. Aku lebih memilih terus mendekap dedaunan. Tapi, setiap pagi, sejak ia masih bocah yang lugu, telunjuknya itu mengelusku dengan lembut. Setiap pagi, Angin. Setiap pagi. Ia tak punya teman selain aku."
"Kala matahari tersenyum dari timur. Ia enggan beranjak meninggalkanku. Ia menggenggam matahari, menghalau cahaya, agar aku tak sirna."
Dua bulir embun lain, sekejap bergulir jatuh. Embun hanya menatap lalu meringis.
"Kenapa kau meringis Embun?"
"Saat embun-embun jatuh ke lautan nan asin. Memang mustahil untuk merubah rasa lautan. Ia akan tetap menjadi asin. Tapi pernah kaucecap? Seperti apa rasa embun itu? Ingatlah, kami embun di dedaunan bakau."
Angin Pantai sejenak berhenti meliuk-liuk.
"Kau pernah dengar Embun, tentang Leluho' yang suka mengulum lollipop?"
"Apa yang tak kuketahui tentangnya?"
"Tapi kali ini, lollipop itu milik orang lain," Angin Pantai memburu.
"Sejak ia bocah, kenakalan seperti itu wajar saja."
Angin Pantai menderu, "Tapi ini bukan bocah. Ini manusia yang ingin melangkah."
Angin Pantai memburu lagi, "Kau tahu Embun, sekarang ia senang merampas lollipop, lalampa, dan lapis legit. Orang-orang menggemparkannya dengan sebutan tiga 'L'. Ha-ha-ha....,"
"Benarkah?"
"Bahkan dengan mudah. Kalau yang pernah kudengar dari sebuah percakapan, di salah satu kapal negara Inggris yang sedang berlayar. Hmm... like taking candy from a baby. Itu idiom, bisa diartikan, yah, gampang. Lagipula ia sekarang seorang penguasa Negeri Lonua'."
Embun tiba-tiba merasa mendidih, meski sinar mentari pagi belum memanggangnya.
"Ah, itu hanya lelucon," sangkal Embun.
Angin Pantai mendengus pelan, "Huuuffff... Kau terlalu dekat dengannya. Tapi, ah, entahlah. Aku hanya menuturkan apa yang kuketahui."
Percakapan terhenti. Angin Pantai meninggi sembari menengok apakah kedua mata matahari masih terkatup. Terang tak lama lagi. Ia kembali merendah.
"Nah, apa yang membuat kau berpikir Leluho' telah berubah?"
Hingga matahari mengucek kantung matanya, jawaban dari Embun tak terdengar. Ia memilih jatuh ke lautan asin sebelum cahaya matahari mendidihkannya. Angin Pantai pun kembali bertiup, melanjutkan perjalanan. Satu tanya belum terjawab. Bukan tanya tentang perubahan Leluho', namun sebuah pertanyaan baru. Kenapa Embun tak memilih bersama dedaunan atau dengan Leluho'?
Embun hanya selalu memiliki satu pilihan, kembali menyatu bersama asinnya lautan, seasin keringat di ujung telunjuk Leluho'.