Thursday, June 4, 2015

Maling Kolam Ikan

Kolam ikan membentang luas di pekarangan belakang rumahku. Tampak sesekali mulut ikan mas ukuran besar, menguap di kulit air. Gelembung-gelembung pecah serupa balon di pesta ulang tahun. Lalu ikan itu kembali menyelam.
Kugetarkan senar pancing, jatuh menembus air keruh. Tak lama, senar menegang kencang, lantas kutarik galah pancing yang terbuat dari bambu, sekuat tenaga. Ikan mujair dengan piercing mata kail di ujung bibir—menembus bola mata—melayang di udara. Sirip punggungnya mengencang. Jadilah ikan itu serupa anak punk dengan rambut mohawk. Sangar.
Setelah diayunkan menuju ember penampung. Ikan mujair itu menggelepar, tak pasrah. Ikan itu mencoba melompati dinding ember, namun tak berdaya. Ember itu memenjara.
Umpan kembali kulemparkan. Sekali lagi, ikan mas itu bermain dengan udara di atas kulit air. Ujung mata kail yang mengait umpan cacing, kudekatkan ke mulutnya. Namun ikan mas itu hanya mengerling, lalu menyelam lagi, ada sisa kilatan cahaya di punggung kuningnya berpendar. Aku pikir, kenapa hanya ikan-ikan kecil di bawah air keruh, yang berhasil kukail. Ikan mas itu sudah terlalu akrab dengan mata kail. Mungkin.
"Sigid, sudah berapa ikanmu?" tanya suara serak dari arah belakang. Kaget, saat suara itu pertama kali menyebut namaku. Kutengok, ternyata Ifien datang bersama Siman. Ifien meski perempuan, namun suaranya berat. Mungkin karena Ifien perokok berat.
"Lima ekor mujair Yen," sahutku, dengan sapa Yen, nama akrabnya Ifien. Nama kereta apinya Ivana Fienringli Mubara. Setelah disusutkan menjadi Ifien, tapi lebih renyah dipanggil Yen.
"Kail saja ikan mas berpunggung kuning itu," saran Siman.
"Ah, ikan itu sudah terbiasa Sim. Sulit dikail, tapi bisanya dijala," kataku kepada Siman, yang juga punya nama tersusut, Sim. Nama panjangnya, Simanwil Rianda.
Cacing kembali kukaitkan, lalu terjun bebas ke dalam kolam.
"Harus punya umpan khusus kalau ikan mas Gid," saran kedua Siman. Ikan mas ini tak suka cacing, kata Siman. Lebih doyan roti atau semacam adonan tepung. Yang jelas, umpannya punya standar kekhususan.
Siman lantas mengeluarkan sebungkus roti dari kantong celananya.
Blup. Umpan roti menyelam. Senar mengencang. Kulit air sobek sana-sini. Tangkapan besar, pikirku.
"Tarik Sim, tarik!" teriak Ifien senada denganku.
Siman berujar menggurui, "Sabar! Harus dibikin lelah dulu, biarkan ikannya jalan kesana-kemari sampai capek."
Sepuluh menit, ikan berpunggung kuning menyembul ke permukaan. Senyum Siman mengembang.
"Tuh! Kan, apa kataku!" Siman bangga.
Setelah sempat melayang beberapa detik di udara, ikan mas itu mendarat di dalam ember. Ifien bergegas lalu menarik perlahan mata kail yang, tersangkut di bagian mulut, hampir menembus ujung kulit kepala.
"Lepas lagi Sim," pinta Ifien. Sayang juga ia sama ikan mas itu.
"Tapi sayang juga kalau dilepas nanti, mata kailnya hampir menembus kulit kepala. Ini ikan bisa radang otak nanti," canda Ifien sedikit bimbang, yang digagapi Siman dengan tawa.
"Ah, macam penyakit ala pejabat korup saja," tukasku.
"Dilepas saja, kasihan," pinta ifien. Sedangkan Siman, hanya terpaku.
Sejurus kemudian, Siman berkata, "Sebenarnya, saya juga tidak doyan makan ikan mas."
"Emang kamu sodaraan sama ni ikan. Harus banyak makan ikan ginian Sim. Ah, pantas badanmu tak gemuk-gemuk," ejek Ifien, sambil mengangkat kaos lalu memperlihatkan perut buncitnya. Tingkah Ifien serupa lelaki. Tomboi.
Aku sedari tadi, asyik menyimak dialog antara Ifien dan Siman. Dalam hati, dua kawanku ini, sebenarnya doyan ikan mas atau tidak.
"Eh, kalian berdua ini suka makan ikan mas?"
"Saya doyan sih, tapi kalau lagi dapat tangkapan saja," ujar Ifien.
Suara Siman tiba-tiba mengeras, "Saya No!"
"Yah, sudah, dilepas saja. Mudah-mudahan tak sampai radang otak," pasrahku.
Hari mulai petang. Kami bergegas meninggalkan pematang kolam. Siman dan Ifien, setelah pamit ke ayah dan ibu, keduanya berboncengan pulang.
Bau amis di telapak tangan, masih kubaui. Amis ikan mas dan mujair hampir sama. Meski setiap saat ikan-ikan itu mandi.
Usai mandi, aku masih melangkah ke pekarangan belakang. Matahari memucuk di batas desa. Langit layung, cicit burung, dan dengung serangga, menghantar senja menuju malam.
Ajak ibu untuk makan menggema di rumah yang, berpenghuni tiga manusia. Makan malam terhidang di atas meja. Lima ekor ikan mujair terbujur di atas piring, berselimut potongan tomat, cabai, dan bawah merah. Lauknya cukup untuk aku, ayah, dan ibu. Keluarga sederhana memang. Ayahku seorang kepala desa, ibuku guru, dan aku anak kuliahan.
"Sehabis makan, bawaannya ngantuk," kemudian aku pamit menuju kamar. Terlelap dalam hitungan menit.
"Maliiiiiinnnnggggg!!!!!"
Teriak itu menghentakkanku dari atas kasur. Kupikir, tidurku baru sepersekian detik. Bergegas kudatangi asal suara. Ibu, ayah, beberapa orang tetangga berdatangan menggenggam obor. Ada maling yang membobol kolam ikan. Anehnya, ikan mas berpunggung kuning, tersisa menjadi bangkai di atas lumpur. Kutengok arloji di lengan. Pukul tiga pagi. Dosa apa yang kau perbuat wahai ikan? Bahkan, maling pun enggan.