Friday, June 26, 2015

Ramadhan dan Kenakalan

Masa kanak-kanak memang berharga, penuh keajaiban yang nantinya akan terkikis kala kita beranjak remaja, dewasa, kemudian menjadi kepala rumah tangga, lalu menua.
Masa childhood (kanak-kanak) penuh kenang. Apalagi di momen bulan suci Ramadhan kali ini, meme-meme kreatif seliweran. Di antaranya, mungkin sebagai penghubung ingat, bahwa masa childhood kita, kerap memiliki kenangan yang serupa.
Di sosial media (sosmed) seperti Facebook, Twitter, Path, juga di BBM, seringkali meme lucu itu  muncul bergiliran mengundang tawa. Kenakalan di bulan Ramadhan, memang patut dikekalkan di ingatan.
Siapa yang pernah begini saat bulan Ramadhan?
Membeli sendal jepit Yeye lalu diukirlah nama, biar usai sholat tarawih tidak tertukar. Atau membeli paku payung, lalu menancapkanya di sekeliling sendal, sebagai penanda kita ini anak metal.
Siapa juga yang pernah seperti ini?
Membawa gembok kecil, lalu menggembok sepasang sendal milik teman. Atau menyembunyikan sendal di semak belukar, dijepitkan di pagar, dan yang paling ampuh diletakkan tepat di bawah sajadah, untuk menjaga dari sepak ratusan pasang kaki jemaat usai tarawih. Bahkan, lubang menganga di beduk, jadi tempat persembunyian paling aman. Saat ruku', peci kita jatuh, lalu saat sujud, kepala ditancapkan tepat di nganga peci. Ha-ha-ha-ha....
Di Masjid Ar-Rahman Desa Passi, tempat di mana masa kecil nan sholeh saya tertoreh, keusilan tingkat ekstrem saat sholat tarawih, menjadi kegirangan tersendiri, namun seringkali menjadi pangkal tengkar. Misalnya, saat sujud, pantat nungging teman jadi sasaran empuk tangan jahil. Dua telapak tangan disatukan seperti Buddha tengah merapal tutur kebajikan. Bentuk telapak tangan serupa piramida dihunuskan tepat di lubang pantat. Aiiihhh!!! Ingat Naruto? 
Ini jurus melarikan diri paling ampuh, saat semua jemaat sujud, waktunya untuk bergegas pergi. Kabur! Ha-ha-ha....
Mungkin teman-teman di Eropassi (Passi) masih ingat pula. Salah satu teman kakak saya, memiliki trik-trik unik untuk membikin kelucuan. Sengaja dikantonginya kacang rebus, lalu ditaburkannya tepat di depan kerumunan bocah yang tengah bersedekap sholat. Rebutan. Tawa pun menggema.
Trik lainnya, foto Mandra di bungkus penyedap masakan Ajinomoto, saat jemaat tengah menyempurnakan ruku', diletakkannya tepat di atas sajadah. Astagfirullah!!! Tawa lepas!!!
Ramadhan dan kenakalan memang erat. Bahkan usai sholat tarawih, masih saja keusilan itu hadir.
Siapa yang pernah?
Menggelung ujung sajadah, kemudian melecutkannya ke arah teman. Atau origami sajadah, dengan lipatan membikin perahu, lalu dijadikan topi. Ada pula ujung sajadah teman saling dikaitkan dengan sajadah lainnya.
Saat sholat subuh pun, kenakalan masih di sana. Mukena milik perempuan dipinjam, lalu dipakai. Eh, dengan modus bisa menggandeng teman perempuan yang ditaksir. Ha-ha-ha.... Modus dosis tinggi!
Masih banyak lagi kenakalan yang bisa digali!!
Ah, masa kanak-kanak memang penuh keajaiban. Bulan suci Ramadhan menjadi pengekal keajaiban-keajaiban itu. Kenakalan-kenakalan polos, yang akhirnya mendidik kita, menjadi manusia merdeka!
Jangan pernah dewasa!!!