Wednesday, July 19, 2017

Kelebat di Gunung Klabat

Aku genggam sepotong es krim di tengah kabut dan kelebat Gunung Klabat. Serupai anak, aku jilati dari kaki hingga ke puncak. Aku mabuk gila kala itu. Udara dingin aku tantang telanjang.

Aku habiskan es krim tanpa gigil. Meski hujan menyusul setelah dipanggil halilintar. Dingin tetap aku cumbu dengan diam. Dan waktu semakin singkat di lidah jalan bercabang dua.

Aku kembali membuka satu bungkus es krim yang mengeras. Lelehan empat garis turun perlahan. Bungkus demi bungkus berserakan di lantai. Aku kelelahan.

Aku rebah di kaki gunung besar yang terlihat samar dan kecil. Suara empat atau tiga jenis burung bergantian terdengar. Ditambah suara pepohonan bambu yang bergesekan. Merdu sekali sebagai selimut tidur.

Aku masih dengan kelebat itu ...