Saturday, November 4, 2017

Mang Kancil


Namanya Mang Kancil. Mungkin karena postur tubuhnya kecil. Sewaktu keluar homestay, Mamang kebetulan mangkal di depan sambil makan singkong goreng. Karena aplikasi gojek saya error, dan tahu kalau tujuan saya lumayan jauh, saya sebenarnya tidak tega makai becak. Apalagi pas tahu usia Mamang sudah 61 tahun.

Dia menawarkan jasa. Dan saya tidak bisa menolak. Sewaktu mau gowes, sandalnya sempat lepas. Maklum, berat badan saya di atas 70 kilo. Selama perjalanan saya nanya-nanya sejak kapan narik. Mamang ngaku sejak 1982. Setahun setelahnya baru saya netas di dunia yang fana(s) ini.

Malam ini purnama. Sebenarnya saya ingin main ke Gedung British American Tobacco (BAT). Dari tempat saya lumayanlah kalau naik becak. Sekitar tujuan kilo.

Gedung BAT dari hasil gugling, mulai digunakan pada 1924 dan dirancang F.D. Cuypers & Hulswit bergaya Art Deco, gaya yang bermula pada awal 1920-an dan digunakan sampai setelah Perang Dunia II.

Gaya atau struktur Art Deco berdasar pada bentuk geometris matematis yang terlihat elegan, glamor, fungsional dan modern. Dari foto-foto yang saya pindai di gugel memang gedungnya artistik.

Beberapa tahun lalu, Gedung BAT jadi pabrik rokok, PT Bentoel International Investama (BINI). Dan saat ini gedung itu sudah tidak digunakan lagi untuk membikin rokok. Sudah dijual. Kabarnya  miliaran.

Sewaktu gowes, sesekali Mamang mengetuk bagian logam becak dengan tangannya, sebagai klakson manual saat bertemu kendaraan atau pejalan kaki. Baru saja cerita-cerita dengan Mamang, soal istri ketiganya, kami sudah sampai di Alun-Alun Kejaksan. Salah satu titik keramaian di Kota Cirebon. 

Saya pilih ke Alun-Alun dulu biar Mamang tidak kecapean. Tepat di samping Alun-Alun berdiri megah Masjid At-Taqwa.

"Mamang sudah makan?"

"Belum, jalan terus dari jam 4 sore."

Saya mengajaknya makan tapi dia menolak. Alasannya masih kenyang makan singkong goreng tadi.

"Merokok?"

"Iya."

Saya membelikannya sebungkus rokok kretek sama korek kayu, yang ia tolak pula awalnya. Tapi setelah dipaksa, akhirnya ia terima.

"Ini buat Mamang nunggu."

Di Alun-Alun, saya hanya menikmati sepintas saja lalu pergi mencari makan. Sekalian nebeng ngecars hape. Setelah makan saya kembali ke parkiran becak.

Saya coba bertanya apakah Mamang sanggup dari Alun-Alun ke Gedung BAT. Ia menyatakan sanggup.

Mamang ini tinggalnya lumayan jauh dari pusat kota. Sampai 30an kilo. Dia harus naik angkot dan menitip becak ke tuannya. Ia hanya tukang narik aja. Setoran per lima hari Rp25 ribu. Harga becaknya kalau dibeli Rp500 ribu. Tapi ia mengaku tidak sanggup membeli becak, yang telah menemaninya selama tiga tahun. Ia pindah-pindah tuan selama narik.

Mamang narik dari pukul 4 sore sampai 5 pagi. Katanya, dia khusus narik malam. Jadi baru pagi hari dia pulang ke rumah. Menurut Mamang, kalau nabung 4 bulan, harga becak bisa ia lunasi. Tapi uang penghasilan buat makan aja. Apalagi cucunya sudah mau SMA.

Saat menuju Gedung BAT, ketika melewati kota tua, ia berbisik ...

"Hapenya jangan dipegang-pegang. Nanti ada yang ngawe."

Ia mengingatkan saya. Jika saja ada yang ngawe atau jambret. Apalagi becaknya tak sanggup mengejar jika jambretnya pakai motor. Tapi menurut Mamang, jambret atau copet masih jarang sih.

Beberapa menit kemudian kami sampai di Gedung BAT.

"Ini Gedung British American Tobacco. BAT," jelasnya dengan ejaan yang lumayan nginggris.

Sesampai di BAT, saya mulai memotret. Mamang memarkir becaknya tak jauh dari tempat jualan kopi. Ia tampak terkantuk-kantuk.

"Pesan kopi, Mang," kata saya sambil menyerahkan uang.

"Dua ya? Situ minum juga?"

"Iya."

Setelah itu ia memesan kopi di kedai dorong tepat di samping becak. Mamang kembali dengan dua gelas kopi, lalu kami melanjutkan cerita tentang istri ketiganya ...


(((Foto tra usah heran ee, bobot saya lumayan berat)))

CBN, 4 November 2017.