Thursday, November 2, 2017

Selamat Menyelam Lebih Dalam di Bumi Manusia



Episode Shandry ...

Jejaring semesta akan mempertautkan pikir serupa. Shandry Anugerah Hasanuddin, lima tahun silam hanyalah kawan dari frekuensi yang merambat di udara. Kami sedang genit-genitnya mencari Tuhan di pepohonan, langit, tanah, bebatuan, dan ponsel-ponsel pintar. Berbantah-bantahan ialah keharusan. Sebab pikir harus terus didesak dengan pertanyaan: siapa aku?

Kami dimantrai kata-kata, tentang manusia yang harus memikirkan dari mana asalnya. Jika tidak, laiknya seekor kelinci yang disihir dan keluar dari dalam topi pesulap, ia hanya diriuhi tepuk tangan penonton, tanpa pernah ingin mencari tahu dari mana asalnya. Manusia bukan kelinci. Bukan binatang.

Di Desa Bilalang, tempat Shandry kali pertama menyeret langkah, ada setumpuk kenangan yang kerap membisikkan kata pulang. Rumah yang dikitari bunga dan pepohonan, dialiri sungai dan diteduhi berumpun bambu. Rumah tempat neneknya sering ditemui menyirat rindu kepada cucu-cucunya di pojok yang kekal.

Dari sana, tekadnya untuk menata semangat anak-anak muda di desa semakin teguh. Desa adalah tempat yang membuat rasa khawatirnya terus ada, dibandingkan kejamnya mama kota di negeri seberang dan bising jalanan yang penuh sesak dengan orang-orang berdasi kupu-kupu, tapi tak pernah merasa terbang bebas.

Shandry memilih menemui para petani berpeluh, dan mendengar cerita tentang berapa lama lagi panen tiba. Atau para penambang dengan kisah-kisah mereka tentang seberapa dalam galian, dan anak-istri yang menanti di rumah selama berbulan-bulan.

Di desa itu pula, beberapa bocah riang diajak berpesta dengan kata-kata di rumah belajar Saung Layung Arus Balik. Di sini, semesta adalah guru, katanya. Tempat bocah-bocah itu diberi kebebasan menggambar dan menulis apa saja yang terlintas di imajinasi mereka, lalu menamainya sesuka hati.

Mungkin desa, ialah genta, agar kelak ia mendengar seperti apa kuasa yang mampu menggerakkan orang-orang terpinggirkan, yang membuat mereka bisa reriungan dengan tawa lepas, dan tak ada lagi kecemasan akan seberapa tebal kepul asap di dapur nanti.

Suatu sore, tepat di bebatuan sungai yang berada di tepi kandang ayamnya, Shandry membasuh dan melarung selembar kenangan. Ia ingin lembar kisah baru.


Episode Gita ...


Perempuan berambut sepundak itu, barangkali luput mengenaliku ketika beberapa kali singgah di rumahnya, pada sisa-sisa malam di Kotamobagu. Aku kenali dia dari sosok ayahnya yang begitu akrab dengan kami, yang nokturnal ini. Ayahnya sering disapa Om Nus. Meja biliar di sudut rumahnya dulu, jadi persinggahan kami ketika kota tak lagi menawarkan kesenangan apa-apa.

Brigitha Kartika Mokoginta namanya. Gita, begitu nama kecilnya, beranjak tumbuh di antara landskap kota berdebu. Patung Bogani tegar berdiri tak jauh dari rumahnya, tepat di tepi sungai yang mengalir pula di belakang rumahnya. Patung yang tampak jenuh, karena penduduk kota mungil itu tak pernah mengajaknya selfie.

Rutinitas kantor, tak menjeratnya begitu saja, untuk terpaku pada pekerjaan. Sering, larik demi larik puisi pendeknya bertaburan di sela-sela penat kantor, dan di jeda postingan foto-fotonya bersama teman sejawat. Puisi, menurutnya mampu mendalami kejujuran, sebab puisi tak bisa berbohong.

Gita berwajah ibu, namun terlalu dekat dengan ayahnya. Karena itu, pundaknya tampak lebih tegar. Ia seperti siap menjunjung apa saja beban hidup di punggungnya.

Senyum manisnya selalu terkembang. Gita tak banyak berkata-kata. Mungkin baginya, senyum sudah lebih dari cukup untuk menjawab setiap tanya.

Pernah suatu hari, Gita membenamkan wajahnya di bantal. Ia berteriak sekencang-kencangnya, setelah mendengar kabar salah satu teman sekantornya, Bedewin, terlalu belia berpulang.

Persahabatan, mungkin ialah satu-satunya hal yang paling menghiburnya saat bekerja. Tapi ketika itu hilang, bukan berarti langit akan selalu bertudung halimun. Ada yang akan datang melebihi pertemanan, yang gemar menggaruk-garuk gitarnya. Dan orang itu setia menyikap satu demi satu awan mendung dengan kidung cinta.


Episode Bersama ...

Mokoginta, marga yang jadi isyarat jikalau Shandry dan Gita memiliki pertalian klan. Ibunya Shandry bermarga Mokoginta. Marga yang sesekali ia rekatkan di ekor namanya. Namun hal itu bukan berarti cinta mereka dipertemukan kekerabatan.

Entah kapan Shandry mengenali Gita lebih dekat. Mungkin dengan mengajak Gita jauh lebih dalam mengenali dunia literasi. Lebih dalam mengeja puisi demi puisi.

Jodoh benar adanya saling melengkapi. Shandry berperangai sanguin, dan tentu saja terlalu banyak berbicara, lantas dipertemukam dengan Gita yang tak banyak bicara.

Namun, bukankah itulah keagungan suatu hubungan? Shandry harus menyesap kemuliaan diam. Dan Gita belajar, dalam hidup banyak hal yang harus diutarakan. Meski itu penderitaan.

Kini, fase hidup mereka berpindah. Menikah. Apa yang diharapkan dari sebuah pernikahan? Tentu saja kebahagiaan. Tapi kebahagiaan muskil sempurna, ketika tak ada cobaan yang menguatkan cinta.

Selamat menyelam lebih dalam di Bumi Manusia ...

Akurlah hingga uzur, sampai rambut kalian dipenuhi awan berlajur.



CBN, 3 November 2017