Thursday, June 7, 2018

Langit Anak Rantau

Ini bukan kali pertama saya berada jauh dari rumah, yang direncanakan dalam waktu yang lama. Tahun 2012, saya pernah menetap lama di Bali. Tapi ketika lebaran tiba, rasanya tak khusyuk diri ini ketika tak bersimpu maaf kepada orangtua, selagi mereka masih ada.

Seorang anak, akan selalu mendoakan agar bisa bersama-sama orangtua, setiap kali lebaran tiba. Bahkan ketika mereka telah berpulang, makam menanti untuk ditangisi.

Berada di Jayapura, Papua, tentu adalah pilihan saya. Negeri ini amat sangat saya cintai. Bulan-bulan sebelumnya, saya dan kerabat yang pertaliannya teramat dekat, Fandi, bersepakat untuk berlebaran di sini. Ia akan mengabaikan cutinya. Kontrak kerjanya baru selesai akhir tahun ini.

Tahun kemarin, ketika kali pertama berkunjung ke Papua, dia memang sudah bekerja di sini hampir setahun. Sampai akhirnya tahun ini, saya kembali ke Papua untuk bekerja di sini, dan kami bersua lagi.

Namun kabar lain datang. Ia akan berangkat ke Jepang lagi. Jiwanya sebagai seorang pelaut yang pernah mengelilingi dunia, terlalu besar. Berada di pantai dan sesekali menatap ombak kecil, baginya tak menantang. Samudra selalu menyediakan gelombang rezeki yang lebih besar.

Tawaran untuk kembali bekerja di kapal Jepang, diterimanya. Kemarin, ia berkesempatan pulang ke desa, hanya untuk berpamitan dengan orangtua, istri, dan anak satu-satunya. Hari ini, ia akan terbang ke Jepang, dan berlebaran di tengah samudra.

"Saya pernah membaca statusmu di facebook, jika kita menanam pohon di akhir tahun, maka biasanya pohon-pohon itu akan memberi tanda-tanda di mana kita akan mengais rezeki kelak," kata saya.

"Ah, kau lupa? Itu kamu yang mengatakan kepada kami dulu," jawabnya.

Saya pun ingat, dulu saya pernah berbual soal menanam pohon ketika malam pergantian tahun. Dan pohon itu bisa memberi isyarat tentang kehidupan kita kelak.

Kisah itu bermula, ketika kerabat saya yang ikut seleksi Bintara Polri di Manado, namanya Hendi, membawa dua temannya ke rumahnya. Wawan dari Jawa Timur dan Benu dari Jawa juga (lupa Jawa apa tepatnya). Kami berkawan. Dan ketika akhir tahun, mereka menanam masing-masing pohon rambutan di sekitar rumahnya Hendi.

Mereka bertiga akhirnya lulus. Setelah pendidikan, Hendi, yang menanam pohon rambutan di dekat genangan air, ditugaskan di Polairud Bitung. Wawan, yang menanam pohon rambutan terlalu dekat dengan tembok rumah, ditugaskan tak jauh-jauh dari rumahnya Hendi, hanya di Kotamobagu saja. Benu, yang menanam pohon terlalu jauh dari posisi tanam Hendi dan Wawan, ditugaskan di Makassar.

Kisah itu yang terus diingat Fandi. Ia pernah menanam pohon, yang letaknya di samping telaga. Nasib sering membawanya, tak jauh-jauh dari air. Bahkan, di tengah samudra.

Mungkin, kejadian-kejadian itu hanya kebetulan semata. Tapi, bagi saya yang penyembah pohon ini percaya, alam memiliki ikatan dengan kita. Kalau pun nanti kalian mencoba dan yang kalian temui bertolak belakang, setidaknya kalian telah menanam satu pohon.

Oh, ya, semoga pelayarannya diberkati. Sukses selalu, Utat Fandi!

Sebelum menua. Pergi sudah!