Monday, June 11, 2018

Nyaris Mati

Subuh ini, ketika orang-orang di rumah mungkin baru saja terlelap setelah sibuk merapikan rumah untuk menyambut lebaran, saya yang berjarak 2.117 kilometer jauhnya dari rumah, tiba-tiba ingat ibu yang melahirkan saya dengan susah payah dan nyaris meregang nyawa. Saya bungsu dari total sembilan anak, dan satu-satunya anak yang meninggalkan jejak luka di perut ibu.

Subuh ini pula, saya berpikir, mungkin karena susah payahnya ibu melahirkan saya, kematian sepertinya beberapa kali luput dari saya.

Saat kelas 5 SD, saya nyaris mati karena kelalaian dua kakak perempuan saya. Ketika itu menjelang lebaran. Mereka berdua yang sedang membikin kue, membiarkan kabel terkelupas dari colokan tape menjuntai di tembok dapur. Saya yang baru saja pulang dari sekolah, tanpa sengaja menyentuh kabel itu. Saya masih mengingat jelas ketika aliran listrik membekukan darah, dan melelehkan kuku ibu jari kanan saya.

Setelah saya duduk di bangku SMP, ketika sedang berada di kebun karena musim durian, patahan kayu yang digunakan kakak laki-laki saya untuk melempar durian, jatuh tepat di kepala saya. Darah mengucur deras. Tapi saya masih selamat.

Beberapa tahun kemudian, saya hampir saja dibunuh keroyokan di desa tetangga, jika saja seseorang yang mengendarai motor tidak lewat malam itu, dan membentak para pelaku sambil mengaku dia polisi. Lagi-lagi, kepala saya terluka tapi yang ini akibat pukulan botol.

Seperti kesialan tak pernah mau pupus, 2012 lalu, saya jatuh dari lantai dua sebuah gedung dengan ketinggian 7-8 meter. Tulang panggul dan paha saya retak, yang membuat saya harus berdiam di kamar selama setengah tahun. Untung bukan kepala yang lebih dulu membentur ubin.

Masih ada beberapa kejadian yang nyaris menelan nyawa saya. Seperti kecelakaan motor dan mobil yang biasa-biasa tapi hampir saja membuat saya terluka parah, atau akibat serangan penyakit yang pernah membuat saya pingsan selama 5 jam di kamar, dan saya siuman sendiri. Saya juga pernah overdosis. Tapi selamat. Mungkin ada beberapa kejadian lagi yang saya lupa.

Setelah banyak kejadian itu, malam ini saya pun baru sadar, ternyata saya sukar sekali mati. Mungkin karena itu, kematian menawarkan hal-hal lain, seperti kesialan yang tak kunjung berakhir. Misal, kali ini saya tak bisa mencium ibu dan Sigi di hari lebaran nanti.