Monday, November 30, 2015

Kota Gorontalo

di pinggiran Kota Gorontalo
di antara himpitan gemuruh adzan
kita berpelukan tanpa lengan
hanya saling merasa tanpa raba
dari kejauhan

pagi kita selalu penuh duka
sebab pisah jadi jumpa yang bisu
benamkan cerita di akar-akar pohon
di tumpukan kerikil dan gigil

dan siang berubah jadi sandaran
berkisah tentang nyamuk dan tikus
juga pejam yang melekaskan mimpi
lalu kita saling berbisik, bangun, bangun

kemudian sore tiba bersama hujan
turun dengan garis-garis bening
hantarkan sekeranjang cerita
bahwa hari akan berulang terik, atau hujan

lalu malam pun lekas mengulum
bibirnya bergincu ampas kopi
kemudian satu per satu orang datang
pergi lagi diusir pagi
kita kembali saling mengingat

di pinggiran Kota Gorontalo
kita masih berpelukan
tanpa lengan
tanpa raba
pun hilang rasa
tersisa hanya....
cinta