Monday, July 8, 2013

Seperempat Malam dengan Ayah Amato

Kotamobagu tak sebesar Kota Gorontalo. Di kota yang relatif kecil ini kita tak butuh banyak gerakan tambahan untuk mengakses tempat-tempat favorit yang kini digandrungi banyak kalangan.
Seperti suatu malam yang berlangsung belum lama ini. Ketika menerima Short Messages Service (SMS) dari seorang kawan sekaligus saudara untuk bertemu di sebuah kedai kopi yang berada di Jalan Paloko Kinalang, tak hitung tiga, motor yang saya tunggangi meraung lurus mulus tanpa hambatan dan rasa bingung membelah malam Kotamobagu yang ketika itu menggigil.
Saya memang tak diberitahu merapat kesana dalam rangka apa, untuk apa, atau membicarakan apa. Instruksi yang saya terima cuma menandaskan kiranya saya merapat secepat mungkin. Tapi satu yang saya tahu (dan ini pasti) adalah, akan ada kopi, goroho dan sangkara di sana.
Saya kenal tempat ini. Sekali dua kali saya sudah pernah bertandang kemari sekembalinya dari "liburan panjang" di Makassar dan Bali. Mulanya saya memang sempat berpikir kalau kedai kopi di Kotamobagu baru ada di Jarod Sinindian. Diam-diam ternyata bisnis kopi plus WiFi di sini ramai pengunjung mengalahkan Foodcourt di lantai 3 Paris Super Store yang mulai ditinggalkan.
Suasana ramai nian malam itu. Banyak pengunjung datang. Saya masuk dan langsung bergabung di meja pertama yang berada di sebelah kiri. Di situ sudah ada Uwin Mokodongan (sahabat, saudara, juga ketua saya di sebuah perkumpulan tempat saya pernah belajar dan ditempa menjadi baja), juga ada (saya sapa dengan hormat) Kak Susi dan Om Rahmat, (Mama Naya dan Papa Naya/pasangan suami istri bagian dari keluarga kami juga di Kampung) yang baru pulang cuti kerja dari Papua. Pendek kata, ada 4 orang saudara dari Passi yang sama-sama melarutkan diri 1 meja di Kedai Kopi Korot Jalur Dua Kotobangon.
Baru sedetik bergabung, kawan Uwin menunjuk ke salah satu meja di pojok kanan lalu berkata kepada saya: "Pi bakudapa dulu deng ketua-ketua yang ada disanae", katanya sembari tersenyum. Saya menengok ke arah yang ditunjuk lalu menemukan para kuli media (pewarta) asyik berdiskusi sembari melahap mi goreng dan menyeruput kopi. Saya kenal satu dua sosok itu; Matt Jabrik, Buyung Algafari, juga yang kemudian saya kenal sebagai Endar dan Sis. Selanjutnya ada seorang lain juga di situ dengan penampilan khas; janggut hitam tebal yang disusupi satu dua helai yang berwarna putih saling sikut desak-desakkan seolah menolak didominasi, rambut cepak yang sisi kiri-kanannya mulai bersayap menandakan dua bulan kemarin terakhir kalinya dipangkas, kacamata tebal bertengger di sungut hidungnya yang cukup kuat memberi kesan si empuh kacamata adalah orang yang terlalu banyak menghabiskan waktunya dengan tumpukkan buku. Sedang dari segi berpakaian, tak banyak komentar saya kecuali, dia tergolong orang yang apa adanya atau yang seolah "nimau tau". Why so serious?
Akhirnya saya bertemu Amato Assagaf. Pertemuan yang mantap dan saya idam-idamkan setelah hari-hari kemarin perkenalan dan percakapan hanya berlangsung lewat BlackBerry Messenger (BBM). Ulur jabat tangan dari sayapun mengawali pertemuan malam itu bersama sebentuk kalimat perdana: "So dari tadi?"
Setelah saling bertegur-sapa sebentar, saya kembali ke kursi tempat saya berada sebelumnya. Melarutkan diri dalam cengkrama empat orang Passi yang baru bertemu setelah "perpisahan" yang cukup lama. Saya juga baru tahu kalau ternyata kawan Uwin, Mama Naya dan Papa Naya bertemu di kedai kopi ini secara kebetulan juga.
Beberapa selang berjalan, Amato dan Buyung (Wartawan kontraonline.com) tiba-tiba berdiri dari meja mereka di pojok kanan ruangan lalu berjalan melewati meja tempat kami berada. Saya bertanya hendak kemana? Rupanya pamit pulang ke tempat Buyung Indekos di Jalan Merdeka Matali, sekalian mampir di Apotik karena nyeri luka tusuk di kaki Bung Amato. Saya lantas berkata akan menyusul mereka kesana. Ucapan yang hampir bersamaan dengan Buyung yang juga meminta kami supaya menyusul segera.
@Kost Bali, Jalan Merdeka, Matali.
Saya ditemani kawan Uwin ketika merapat ke kosan. Saat tiba, kami menemukan bung Amato tengah lelap tidur. Sebuah keadaan yang sebenarnya saya sayangkan sebab semenjak di kedai tadi, saya memang ingin bercakap-cakap dengan dia setelah sekian lama belakangan ini cuma bercakap-cakap tipis di BBM.
Nyeri akibat luka tusuk di pangkal kaki Bung Amato ditambah pil pereda rasa sakit yang mungkin mengandung obat penenang, membuat ia enak melambung sehingga tak mempedulikan lagi ada suara saling membual di depan pintu kamar tempat ia tidur.
Duduk berbual-bual di lorong depan pintu kamar hingga
hampir satu jam lebih sembari menandaskan isi "wine" (istilah Buyung malam itu), membuat perut yang cuma di pasok Goroho dan Sangkara tak kuat bertahan. Alhasil lapar nasi mengerang. Pilihan selanjutnya adalah merapat ke warung nasi kuning di Kotobangon.
Saat hendak bergegas cari makan tengah malam inilah Bung Amato baru menyadari kehadiran kami setelah ia dibangunkan kawan Buyung. Kami berangkat ke TKP.
Desakan perut terpenuhi. Di kos kami duduk melantai. Penggal-penggal tanya dari kami dijawab dengan penjelasan kuat dan padat dari mulut Bung Amato. Begitupun sepenggal kisah perjalanan singkat hidupnya yang dituturkan secara pendek, lewat potongan-potongan kisah yang juga mengandung banyak guyon dan sarat pengalaman penuh bobot.
Bercakap-cakap di subuh parak pagi itu, saya sedikit banyak memahami isme-isme yang diperbincangkan Bung Amato: Marxisme, Komunisme, Kapitalisme, Libertarianisme, Liberalisme, dan isme-isme lainnya termasuk Marhaenisme yang sempat terlambung dari kawan Uwin meski agaknya payah.
Saya juga menangkap "kepayahan" kawan Uwin (dengan segala maaf ketua KPA ha..ha..ha) soal teori Nilai yang katanya di curi Kelas Majikan terhadap Kelas Pekerja/Buruh. Namun demikian tersirat juga "ketidak-habis pikiran" saya sebab tahu bagaimanapun juga Bung Amato pernah menjadi seorang Marxis (bahkan pengajar Marxisme) yang kini berbalik "menyerang" teori, ide-ide, pendapat, dan "kebenaran" di dalam Marxisme tempat ia pernah menggantungkan "iman" dan menjadi jamaah di situ termasuk kepercayaan dia terhadap teori Nilai Kerja yang luruh dan keruntuhan itu ia tandaskan secara kuat, padat, dan kritis versi Bung Amato ke kepala kawan Uwin malam itu.
Ah, berbicara isme-isme (terlebih Marxisme) di Mongondow, bagi beberapa orang mungkin tak penting dan sia-sia. Tapi tidak bagi saya selaku anak Mongondow yang suka bertanya dan mencari tahu. Ini adalah "bual-membual" yang padat. Seperempat malam saja bersama Bung Amato membuat saya nekat mengukur, alangkah dalam dan luas cakrawala berpikir orang ini (bukan maksud memuji sebab saya yakin orang macam Bung Amato bukan orang yang suka dan mempan untuk dipuji).
Akan sangat memakan banyak ruang dan tempat untuk membagi di sini soal apa saja yang kami bincangkan hingga pagi pecah tepat pukul 07:00 (saya memperhatikan jarum jam tangan di lengan kiri saya). Saya sangat menikmati percakapan kami malam itu. Satu hal yang membuatku merenung sekembalinya ke rumah setelah kami bersempat diri melahap bubur ayam pagi itu adalah; untuk orang dengan cakrawala berpikir seperti Bung Amato dan apa yang terkandung di dalam tulisan-tulisannya, saya yakin orang ini menulis―seperti tulisannya yang pernah dimuat Radar Totabuan―bukan untuk cari proyek semata sebagaimana yang pernah disangkakan.