Friday, July 5, 2013

Why So Serious? Transgresi dalam Imajinasi Politik Sigidad

Saya pernah menulis tentang politik dalam wilayah imajinasi. Sebentuk puitika yang kita butuhkan untuk memberi warna lain pada matematika politik yang sungguh membosankan itu. Sebagai puisi, politik hadir dengan berbagai kemungkinan dan, bersamanya, juga ada kemuskilan. Sebagai matematika, politik tinggal menjadi persoalan hitung menghitung yang tak hanya menjemukan tapi juga telah menelikung makna politik itu sendiri. Membuat politik yang memang telah busuk luar-dalam di wilayah praktisnya, akhirnya juga mengalami pembusukan di wilayah perenungannya.

Saya pernah berpikir, jika ruang-ruang praktis bagi para politisi dalam menjalani proses mengada telah menyempit menjadi daftar tabel statistik dan aljabar tambah-kurang, maka penyelamatan bagi makna politik dalam hidup hanya akan menemukan Golgotanya lewat penciptaan ruang-ruang imajinasi politik. Proyek besar para perenung politik seperti ini adalah, pertama-tama, mengubah matematika politik menjadi puisi dan, selanjutnya, menggubah satu atau lebih puisi bagi politik kita hari ini.

Selama sekira lima tahun berada dan mencoba mengikuti perkembangan sosial-budaya di (provinsi) Bolaang Mongondow Raya, terutama Bolaang Mongondow Timur dan Kotamobagu, saya selalu menunggu terciptanya puisi-puisi seperti itu. Masalahnya, media di, setidaknya, dua kawasan itu tampaknya kurang tertarik memberikan ruang bagi penciptaan puisi-puisi politik sejenis. Termasuk juga bagi perenungan imajinasi politis seperti yang saya maksudkan.

Setelah kita diberondong dengan tulisan-tulisan Katamsi Ginano yang memiliki kecanggihan penulisan tingkat dewa tapi tetap saja masih tanpa puisi-puisi, kita kemudian menyaksikan munculnya banyak penulis politik muda. Lepas dari problem bahwa politik tak jarang lebih merupakan konteks bagi tulisan mereka dibandingkan sebagai tema renungan untuk ditulis, mereka tetap saja telah menulis tentang politik. Sedemikian riuhnya, hingga saya memiliki cukup banyak kesempatan untuk memamah begitu banyak tulisan dengan harapan menemukan puisi; menemukan sebuah – meski hanya sebuah saja – tulisan yang menghadapi politik kita hari ini dengan imajinasi politis.

Sejauh pembacaan saya, meski itu tidak bisa dibilang lengkap dan melulu tepat, saya tidak menemukan puisi-puisi itu. Tampaknya kebanyakan penulis politik di (provinsi) Bolmong Raya menghadapi politik sebagai dunia yang terlalu serius, terlalu hitam putih, terlalu matematis, terlalu melibatkan banyak kepentingan sejenis. Dalam tulisan mereka, lepas dari masalah mereka menulis dengan baik atau tidak, saya tidak menemukan puisi, pertanyaan, rasa ragu, kecemasan, kegugupan, dunia manusia nyata yang tidak melulu benar-salah, baik-buruk, dunia yang penuh dengan kemungkinan, kekanak-kanakan yang melegakan, permainan yang cerdas, dugaan yang mengejutkan dan pertimbangan yang tak diperhitungkan namun begitu problematis. Tulisan yang memberi ruang bagi imajinasi dalam politik.

Saya tidak menemukan (lebih tepat saya "belum" menemukan) satupun tulisan seperti itu justru di negeri yang telah melahirkan penulis esai sebesar Katamsi Ginano. Termasuk saya tidak /belum menemukannya dalam tulisan Katamsi sendiri. Saya tidak/belum menemukannya hingga saya membaca sebuah tulisan dalam blog bernama "Getah Semesta" berjudul Kesaktian Abunti di Pilwako Kamunce. Sebuah tulisan, yang jika dinilai dengan standar penulisan yang baku, jelas masih terhitung lemah dengan sekian kekurangan teknis yang tidak perlu. Tapi jika dipasangkan pada kotak pencarian saya yang sederhana akan sebuah perenungan yang membuka kemungkinan bagi imajinasi untuk membingkai setiap bagian dari "peristiwa" politik kita hari ini, maka inilah tulisan yang saya cari.

Perlu dicatat, saya tidak mengatakan bahwa tulisan yang tidak membuka ruang bahasan bagi imajinasi politik itu buruk. Sejak awal saya dengan sengaja telah mencatut nama Katamsi untuk menunjukkan hal ini. Saya ulangi, Katamsi adalah penulis yang baik. Hampir tidak ada satupun tulisannya yang buruk (meski tidak selalu harus diterima sebagai benar) tapi saya tidak/belum menemukan tulisan Katamsi yang memberi kemungkinan bagi imajinasi politik kita. Begitu juga dengan sekian tulisan lain dari penulis lain yang juga baik dan, bahkan, benar. Artinya, saya tidak sedang berpretensi menjadi hakim atau juri bagi begitu banyak tulisan tentang politik kita hari ini di (provinsi) Bolmong Raya.

Saya hanya sedang mencari, secara teoritis, sebuah tulisan yang memberi kesempatan bagi transgresi (the process of overstepping the limit). Saya hanya sedang mencoba menemukan "penyimpangan" dari sifat kaku matematika politik kita hari ini. Sebuah pembalikan (inversion) yang memungkinkan penyingkapan (disclosure). Sebentuk model penulisan yang, dalam catatan sejarah Michel Foucault, ditemukan dalam tulisan-tulisan Sade, Holderlin, Flaubert dan Nietzsche. Yang dalam catatan pencarian saya, dimunculkan secara gagap lewat tulisan Sigidad tersebut di atas.

Saya tidak akan bicara lagi soal kenapa kita membutuhkan imajinasi dalam politik dan kenapa kita membutuhkan itu dalam tulisan atawa dalam cara kita menyusun pikiran. Secara sederhana, saya telah menuliskan itu dalam beberapa tulisan saya di rubrik opini kontraonline.com, terutama dalam tulisan Imajinasi: Puisi bagi Politik Kita Hari Ini. Tapi saya ingin menambahkan di sini bahwa imajinasi politik, setidaknya dalam sebuah tulisan, mampu menjadi kritik yang memutar-balik realitas politik praktis dan mengungkap apa yang ada di halaman belakang "peristiwa" politik bersangkutan.

Saya menuliskan peristiwa dalam tanda kutip untuk menunjukkan posisi peristiwa sebagaimana hal itu dipahami oleh filsuf Alain Badiou. Politik dalam "peristiwa" Badiou bisa menjadi yang-politik dalam pemahaman kita mengenai urusan publik. Di sini, manusia (para politisi) tidak pernah menjadi satu-satunya faktor. Dan di sini pula, dalam model "peristiwa" ini kita menemukan politik sebagai "cara membuat mungkin apa yang hanya nyata" dan, sebaliknya, "membuat nyata apa yang hanya mungkin."

Kembali ke Sigidad, apa yang membuat cerpen post-cerpen tentang Komkomci, Kamunce, dan Abunti yang ditulisnya sebagai esai itu telah membuka kemungkinan bagi transgresi dan pembalikan yang memungkinkan penyingkapan? Pertama, sadar atau tidak, dia terlebih dahulu telah melakukan inversi (pembalikan) atas kenyataan menjadi kemungkinan. Kita tidak perlu percaya bahwa ada daerah Komkomci, pilwako di Kamunce dan dukun bernama Abunti. Kita bahkan tidak membutuhkan rasionalitas Cartesian sederhana untuk menemukan eksistensi cerita itu sendiri. Tapi kita, lewat tuturan Sigidad dalam tulisan itu, telah dijebak ke dalam sebentuk kecurigaan bahwa mungkin ada konteks nyata bagi dongeng yang telah dia tuliskan itu.

Kedua, tulisan yang dituturkan dengan cara berbahasa yang masih kurang canggih itu justru secara canggih telah membuat pembedaan yang signifikan antara politik sebagai peristiwa kalkulatif dengan politik sebagai peristiwa imajinatif. Dengan cara itu, Sigidad telah mendorong tulisannya melewati batas kenyataan dan menjadi sebuah upaya transgresi. Tidak ada satupun manusia di muka bumi Bolaang Mongondow ini yang akan mengelak dari kenyataan bahwa politik selalu bersifat kalkulatif dan, demi Tuhan yang selalu mungkin, tidak ada satupun dari mereka yang akan mengabaikan hitungan dalam politik. Tapi Sigidad, sengaja atau tidak, telah melewati batas hitung menghitung politik dan menawarkan sebuah dunia yang berbeda yang, sayangnya, selalu mungkin bagi laku politik kita hari ini; sebuah imajinasi.

Ketiga, manakala kita selalu berbicara tentang apa yang dilakukan para politisi, tim sukses mereka, kampanye-kampanye (pidato, poster, pamflet, stiker dan kaos) sebagai realitas berlanjut, Sigidad membicarakan sebagai sebuah diskontinyuitas. Dia hanya mengungkapkan satu contoh saja, yang dituturkannya sebagai sebuah cerita pendek, dengan plot sederhana dan tema yang terhitung kecil (tidak ada elaborasi dalam tulisan itu) tapi dengan cara yang begitu membebaskan bagi menyebarnya tafsiran dan upaya untuk membuka kemungkinan. Tentu ada cara penafsiran yang berbeda-beda bagi setiap pembaca. Namun setiap penafsiran yang mungkin bisa mengusir kenyataan dari apa yang dituliskan Sigidad dan menggantinya dengan apa yang hanya merupakan kemungkinan semata.

Artinya, Sigidad tidak berupaya untuk tampak logis. Dia bahkan tidak melakukan strukturasi atas rasionalitas tulisannya dan, tentu saja, cara berpikirnya. Tidak melakukan analisa namun juga tidak berupaya menemukan sintesa. Dia hanya menuturkan "fakta" dengan cara yang begitu telanjang untuk membalikkannya. Dia mengungkapkan "fakta" dengan cara menyingkirkan "kenyataan" dari fakta tersebut. Sebuah kekurangajaran yang cukup cerdas untuk mengkritik pemahaman kita mengenai batas faktual dari sebuah peristiwa nyata. Sebuah cara yang mestinya hanya ada dalam cara berpikir Sigi bukan pikiran bapaknya.

Keempat, saya terkejut nyaris dengan keterkejutan yang sama jika saya membaca catatan pinggir Gunawan Mohammad, saat membaca paragraf terakhir dalam tulisan Sigidad tersebut. Secara lengkap saya kutipkan di sini, "Di kejauhan, seseorang tegak berdiri di bawah pohon Kandasuli dengan tatapan kosong. Sepertinya sarat beban. Entah siapa orang ini. Bibirnya yang kering sekonyong-konyong merekah dan terbata hendak mengucapkan sesuatu. Sepertinya; "Adakah tumbal dari semua ini … ""

Orang itu, yang sebelumnya tidak pernah muncul dalam seluruh bangun tulisan tersebut, tiba-tiba hadir untuk mewakili pikiran terakhir penulis, kesimpulan non-tautologis, yang hendak disampaikannya. Dan orang itu, yang jelas tidak penting siapa (…Entah siapa orang ini) telah mengungkapkan dengan cara yang mulai penting bagaimana (tatapan kosong, sarat beban, bibir kering, dan terbata) dan jelas penting kenapa karena dia hanya "hendak" mengungkapkan sesuatu. Dia mungkin tidak pernah mengungkapkan itu atau dia telah mengungkapkannya dengan cara yang sebegitu samar: …Adakah tumbal dari semua ini? Lalu kenapa penulis tahu apa yang diungkapkan orang itu? Dan menuliskannya sebagai pertanyaan yang begitu meyakinkan?

Sigidad, sadar atau tidak, telah mempermainkan kita dan, sekaligus juga, mempermainkan seluruh pengetahuan dan pemahaman kita akan peristiwa politik menjadi sebuah "peristiwa" dari yang-politik. Sigidad, mungkin sadar, bahwa dia sedang melemparkan kritik tapi mungkin tidak cukup sadar bahwa dia sedang melakukan transgresi; mengajak kita melakukan revolusi dalam cara kita memaknai setiap peristiwa politik agar menjadi "peristiwa" dari yang-politik. Jika dibandingkan dengan penulis yang ditemukan Foucault, maka apa yang dilakukan Sigidad bisa dibandingkan dengan apa yang dilakukan Marquis de Sade yang menuliskan transgresi; mengajak kita memahami peristiwa seks sebagai "peristiwa" dari yang-seksual.

Terakhir, kenapa saya selalu menggunakan kata "sadar atau tidak" seakan saya meragukan niat yang mungkin telah ada dalam benak Sigidad ketika menekan (bukan menindis) keyboard Blackberry atau komputernya? Jawabannya sederhana, saya tidak pernah menutup kemungkinan bahwa Sigidad dalam tulisan ini tidak akan pernah muncul lagi dalam tulisan-tulisannya yang lain. Sigidad mungkin akan mulai berpikir dengan cara yang sama yang dilakukan kebanyakan kawan-kawannya; melihat peristiwa politik sebagai peristiwa matematis dan mulai menghitung-hitung kenyataan sesuai tabel statistik seolah hendak menjadi pengamat politik tingkat daerah. Membutakan mata kanak-kanaknya untuk melakukan transgresi dan menemukan imajinasi dalam yang-politik. Membunuh Sigi dalam dirinya agar menjadi orang dewasa yang menjemukan itu.

Dengan selalu menuliskan "sadar atau tidak" saya sedang berupaya untuk menunjukkan bahwa tulisan saya tentang tulisan Sigidad tersebut tidak lebih dari sebuah cara penafsiran dalam berbagai model penafsiran lain yang keabsahannya hanya bisa ditemukan atau dalam kerangka pikiran saya sendiri atau dalam tulisan Sigidad tersebut. Saya hanya sedang menuliskan satu tulisan Sigidad dan bukan seluruh tulisannya karena mungkin setelah tulisan ini, saya tidak akan pernah lagi menemukan transgresi dalam tulisan Sigidad dan imajinasi dalam cara dia merenungkan politik.

Namun saya sedikit terhibur dengan penemuan saya atas dua tulisan lain Sigidad yang berjudul "Ronin Ababil" Pembunuh Ayu dan, terutama, puisi Cinderella di Pelabuhan dalam blog yang sama. Saya menangkap kembali cercah-cercah transgresi itu; kemampuan untuk mengajukan imajinasi sebagai alternatif bagi keseriusan perhitungan kita yang, dalam beberapa tulisan kawan-kawan, telah menjadi semenjemukan sikap Ismail Dahab saat sedang berkonsentrasi memenangkan calon yang dia dukung atau semenjemukan sikap Nayodo Kurniawan saat mengamankan pilwako dalam kapasitasnya sebagai ketua KPU Kotamobagu.

"Why so serious?" kata Joker dalam salah satu adegan film The Dark Knight.

Oleh: Amato Assagaf

Dimuat di www.kontraonline.com

http://m.kontraonline.com/13009/why-so-serious-transgresi-dalam-imajinasi-politik-sigidad/

Powered by Telkomsel BlackBerry®