Friday, October 25, 2013

Abu-Abu

Rimba terlalu sepi malam ini. Ada ketakutan menelan jutaan siluet pepohonan. Segala hewan nokturnal memilih bungkam dan sepertinya lebih diam dari mati. Malam ini, hantu pun enggan menggoda.

Satu jam. Dua jam. Tiga jam. Terdengar suara rumput kering saling bergesekan. Tak ada yang bisa memastikan suara apa. Jika saja seekor Otus manadensis rela bertengger di cabang basah. Menyergap tanpa suara, tanpa kepakan sayap. Tapi malam ini. Semua mati. Kecuali daun kering itu.

Hutan di rimba masih terus menutup mata. Hingga sederak batuk memecah. Segala yang mati di rimba ini kembali bersedia hidup untuk menyaksikan siapa yang berani mengalahkan ketakutan malam ini. Tampak tak jauh sosok ringkih menyeret kaki melukis sepanjang tanah dengan satu warna. Gelap. Langkahnya coba memetakan dunia. Kini, ada seekor Otus mengintai. Otus yang bisu.

Ada yang kembali mendidih di lehernya. Dan batuk berderak untuk kedua kali. Kabut tersingkap oleh suara itu. Satu dua gemintang mengintip. Disusul puluhan, ratusan, jutaan, dan tak terkira lagi. Seketika rimba dan langit diramaikan batuk.

Terlalu lama di gulita sosok itu makin misteri. Kenapa ia memilih gelap jika di luar sana ada yang menawarkan cahaya. Tapi gelap seringkali menajamkan indra. Jika ditanya kepada orang buta apa warna kesukaannya, ia pasti mejawab gelap, bukan hitam. Ia tak pernah diberi kesempatan mengenali warna. Alangkah bodoh bertanya warna kepada buta. Jika ditanya apa yang paling ia damba, mungkin ia menjawab, cahaya. Tapi sekali lagi pertanyaan bodoh. Pernahkah seseorang ditanyai sesuatu yang jawabannya tak pernah ia kenali.

Satu demi satu makhluk malam bermunculan dari lubang gelap di tegap pepohonan raksasa, dari balik batu, rerimbun semak, kulit tanah, dari angin. Tiga kunang-kunang meloncati udara. Jangkrik-jangkrik memetik kecapi. Kini riuh di rimba. Orang itu menghidupkan. Tapi ia bukan Isa. Yang tadi mati ingin berterima kasih. Tapi ia bukan Sulaiman yang bisa membalas ucap. Ia terhenti, duduk pada batu seukuran pusara. Selonjoran dengan sepuluh jemari kaki mau menggaruk langit dan punggung kaki yang penuh lintah. Semakin jelas. Ia bukan hantu. Meski baunya persis cacing tanah.

Kenapa hantu kebanyakan digambarkan dengan dua warna saja. Hitam putih. Kenapa tak abu-abu. Pertanyaan itu membatu. Menunggui pantat yang siap menduduki. Lihat, ia masih bisu seperti batu yang abu-abu.

Pepohonan makin merangkul. Memaksanya menghidu udara kematian. Meremas paru-parunya yang ternyata telah berpuluh-puluh tahun bergelayutan pada rating rapuh. Ah, malam selalu menyimpan rahasia. Ia yang kini tak lagi mendamba cahaya. Apalagi gelap sedari janin menyelaputi binar matanya yang, kini diitari keriput abadi. Ia hanya ingin mencari sebongkah batu abu-abu dengan meraba. Untuk pusara yang nanti menduduki jenazahnya.

Rimba kembali semati batu. Hanya Otus yang benar-benar mengenalinya. Ia bukan jantan, bukan betina. Ia abu-abu.

Powered by Telkomsel BlackBerry®