Monday, November 18, 2013

Gelora Ambang

Jam 11.00 WITA. Mendung tebal menggantung di langit Kotamobagu Rabu (30/10), ketika saya dan seorang teman memutuskan ke Gelanggang Olahraga (Gelora) Ambang, Togop, Kota Kotamobagu.


Tak butuh waktu lama menemukan stadion yang pernah jadi kebanggaan di masa keemasan Persatuan Sepakbola Bolaang Mongondow (Persibom), kala Kabupaten Bolaang Mongondow dipimpin Bupati Marlina Moha Siahaan. Letaknya tak jauh dari pusat kota. Jika ditarik garis lurus, jaraknya dari kantor Pemerintah Kota (Pemkot) Kotamobagu hanya sekitar dua ratus meter.

Sekira tiga menit menerobos gerimis dengan sepeda motor, tibalah kami di lokasi tujuan. Pemandangan mengharu-biru segera menyergap: Gelora Ambang bak lahan tidur yang lama ditelantarkan dengan bangunan-bangunan tak terurus; tribun depan, yang didiami beberapa keluarga, dikerubuti semak-belukar. Lapangan tenis yang sukar dikenali lagi, hanya lantai birunya yang tampak seperti biru langit di antara arak-arakan awan kelabu.

Kondisi tadi belum seberapa. Saat kendaraan roda dua kami merangsek ke dalam, tak ada lagi tameng yang mengitari lapangan sepakbola. Lapangan hampa tertembus pandang begitu saja. Kemuning tanaman jagung memasuki usia matang menyambut kami. Hingga sapuan tatapan ke sekeliling memupus, hanya tampak tanaman jagung dan belukar tak terawat. Semrawut. Tribun barat lebih mirip gelondongan kayu raksasa di hutan liar dan dirayapi segala jenis tetumbuhan simbiosis parasitisme. Seng atapnya karatan dan bocor di sana-sini. Cat tiang-tiangnya mengelupas dan juga berkarat.

Selagi asyik berkeliling, kami dikagetkan suara anak-anak kecil yang bermain riang di kolam renang. Lima sampai enam orang anak laki-laki dan perempuan sedang mandi di sana. Oh, ternyata masih ada juga salah satu fasilitas di sini yang bisa digunakan selain bangunan lainnya yang difungsikan sebagai tempat tinggal.

Hujan yang kian deras memaksa kami berteduh di tribun mini di area kolam renang. Sedangkan anak-anak itu kelihatan bertambah riang seiring makin melebatnya hujan. Mereka berteriak-teriak, tertawa, berlari di tepian kolam, meloncat, berenang, dan sesekali menyelam.
Di dekat kolam, ada seorang ibu yang biasa disapa Tanta Ebi sebagai penjaga kolam. Suaminya Romy Gunena adalah "juru kunci" Gelora Ambang. Tanta Ebi sendiri membuka warung kecil-kecilan yang lebih mirip kantin. Menurut Tanta Ebi, untuk mandi di kolam, setiap anak dipunguti biaya Rp. 3 ribu. "Dorang boleh mandi sampe malamise (mereka bisa mandi sampai gelagapan tenggelam)," ujar Tanta Ebi bergurau.

Hanya tinggal kolam berair dangkal, tempat anak-anak bermain itu, yang masih termanfaatkan. Sedangkan kolam besar di sebelahnya dibiarkan tak terurus; hampir seluruh ubin lantainya tertutup lumpur yang mulai ditumbuhi rerumputan setinggi betis orang dewasa.
Melihat anak-anak jumpalitan di kolam kemudian berlarian kecil ke tribun mini dan menikmati kudapan pisang goroho goreng, membikin perut saya tergoda lapar lantas memesan sepiring pisang goreng goroho yang disajikan dengan potongan-potongan kecil atau biasa disebut pisang stick.

Begitu hujan mereda, kami bergegas ke kantor Pemkot Kotamobagu setelah berpamitan dengan Tanta Ebi untuk menemui Asisten III, Dra Djumiati Makalalag untuk menanyakan status aset Gelora Ambang. Yang dituju sedang tidak di tempat. Kami menghubunginya lewat ponsel, namun tak terhubung. Setelah disusul dengan pesan singkat, ia membalasnya setelah berselang dua jam. Ia mengatakan bahwa aset itu belum ada penyerahan secara resmi dari Pemkab (Pemerintah Kabupaten) Bolmong (Bolaang Mongondow). "Ada rencana pembahasan untuk penyerahan secara resmi nantinya, tapi waktunya saya belum tahu persis. Nanti coba ditanya kepada Sekkot (Sekretaris Kota) dan Kadis PPKAD (Kepala Dinas Pengelolah Pendapatan Keuangan dan Aset Daerah)," balasnya di pesan singkat.

Harusnya kami berlama-lama di Gelora Ambang tadi. Agar lebih lama mengenang. Ada yang harus menggelora kembali. Miris mengingat kembali apa yang baru saja kami lihat. Dana milyaran telah habis digerus dari kantong rakyat hanya untuk biaya perawatan atau sekadar pugar sana-sini.

Pada masa penjajahan Belanda, infrastruktur yang dibangun oleh mereka hingga kini awet. Berabad-abad tetap bertahan. Karena mereka pikir akan hidup selamanya di negeri ini. Jika hal yang sama dipikirkan oleh para pihak yang menangani proyek pembangunan prasarana di negeri ini. Maka tak akan ada lagi 'tembok' di negeri (atau daerah) ini yang akan dibangun asal-asalan. Runtuh, remuk, dan punah seketika. Binasa tak tersisa.