Wednesday, November 27, 2013

Kemarau di Negeri Kikuka (Dongeng untuk Sigi)

Di sebuah negeri yang bernama Kikuka. Negeri yang hanya dihidupi hewan-hewan berawalan huruf K. Hanya ada Kelinci, Keledai, Kancil, Kalajengking, Kerbau, Kepiting, dan hewan berawalan huruf K lainnya.

Pada suatu hari yang kemarau, dua hewan berbeda spesies sedang terlibat pembicaraan soal panas matahari yang semakin membakar bumi.

Kelinci bertanya, "Kau tahu Keledai, kenapa bumi semakin panas, dan matahari seperti sudah di atas kepala kita?"

"Kau salah bertanya Kelinci, aku hewan yang pandir. Coba kau tanyakan kepada Kancil, ia sangat cerdik, dan pasti pintar, dan bisa menjawab." jawab si Keledai sembari terus melahap rerumputan.

Kelinci bergegas pergi ke sungai yang tak jauh letaknya dari tempat mereka berada. Benar juga, ada Kancil di sana sedang menyesap air sungai yang tampak kabur dan hanya sedikit itu.

"Hei! Kancil!" teriak Kelinci yang membuat kaget Kancil.

Dengan mata memicing dan sungut hidung yang masih basah, Kancil itu menyahut, "Ada apa Kelinci? Sudah berapa batang wortel yang kau habiskan, kemudian merasa haus dan datang kesini?"

"Aku tidak sedang haus, tapi aku ingin bertanya," jelas Kelinci.

Dahi Kancil mengerut dan saling merangkul, "Pertanyaan apakah itu gerangan?"

"Kenapa bumi semakin panas ya?"

"Oh, soal itu, mari kujelaskan di sana," ajak Kancil ke salah satu pohon besar di tepi sungai. Pohon yang masih rimbun di tengah musim kemarau.

"Kau tahu Kelinci, bumi kita mempunyai lapisan ozon yang berguna menyaring cahaya matahari," Kancil mulai bercerita.

"Nah, kamu lihat rimbun dedaunan pohon ini," lanjut Kancil sambil menengadah, yang diikuti pula oleh Kelinci.

"Dedaunan itu memiliki fungsi yang hampir sama dengan lapisan ozon,"

Kini dahi Kelinci yang dipenuhi bulu tebal terlihat saling merangkul, tapi kedua telinga besarnya tetap berdiri tegak. Siaga. "Tunggu dulu, apa hubungannya?"

"Biar kulanjutkan. Dedaunan itu melindungi kita dari panas matahari, bukan? Coba saja kalau dedaunan itu tidak ada, pasti kita akan merasakan panas terik matahari langsung mengenai kulit kita."
Anggukan dari Kelinci sebagai tanda ia mulai paham dengan apa yang dijelaskan oleh Kancil.

"Lantas apa yang membuat daun-daun itu gugur, kalau contohnya yang pohon tadi?" tanya Kelinci lagi.

"Ini semua perbuatan manusia, coba kau ke perkotaan, karbon monoksida dari asap kendaraan di sana, kepulan asap dari pabrik-pabrik, dan masih banyak lagi hal lainnya yang menyebabkan lapisan ozon itu menipis, atau parahnya hingga berlubang. Lihat pohon ini, coba kamu memelihara api di bawahnya, kepulan asapnya pasti akan membuat daun-daun layu dan gugur,"
Penjelasan Kancil itu membikin Kelinci meringis dan terlihat gigi depannya makin menonjol keluar.

"Kau tahu Kelinci. Kalau pepohonan di hutan ini juga ditebang. Itu juga bisa mengakibatkan lapisan ozon menipis, karena tetumbuhan itu menyerap karbon yang dilepaskan oleh kendaraan atau kepulan asap pabrik-pabrik tadi," jelas Kancil dengan nada sedih, sambil memandang pepohonan yang membentang di hadapan mereka.

Tak lama kemudian Kepiting dengan langkah khasnya datang menghampiri mereka berdua.

"Sedang apa kalian? Pacaran ya? Tak bisa kubayangkan kalau nanti bayi kalian nanti jadi makhluk apa," sapa Kepiting dengan gurauan.

"Nah, ini dia salah satu hewan yang nanti jadi korban penipisan lapisan ozon," kata Kancil.

"Apa hubungannya denganku?"

"Kami sedang membahas soal lapisan ozon, dan kamu Kepiting, salah satu hewan yang paling terkena dampak buruk jika radiasi ultra violet nantinya berlebih," jelas Kancil.

"Aku kan punya cangkang untuk berlindung," jawab Kepiting dengan pongah.

"Justru cangkangmu itu yang nanti akan berubah menjadi penggorengan,"

Kepiting mengatupkan kedua capitnya. "Bikin ngeri saja kau Kancil!"

"Iya, apa yang dikatakan Kancil itu benar," kata Kelinci.

"Kenapa kau bisa sampai kesini?" tanya Kancil.

"Di pantai panasnya memang makin menjadi,"

"Ah, andai saja lautan itu tak asin," harap Kancil, agar ia bisa minum sepuasnya.

Dari seberang terlihat Kerbau, Keledai, dan Kalajengking datang mendekati mereka.

"Kata Keledai, kalian sedang bicara soal cuaca ya?" tanya Kerbau sesampainya.

"Iya, cuaca yang semakin panas. Lihat saja sungai itu makin kering," ujar Kancil sambil menunjuk ke arah sungai dengan moncongnya.

Kalajengking turut membaur bersama mereka, "Tapi aku baik-baik saja, cuaca panas sudah biasa bagiku," katanya angkuh.

"Hei! Kalajengking, bagimu biasa, tapi tidak dengan kami," teriak Kepiting geram. "Kalau kau kesini mau duel, sini denganku! Kita beradu capit di sini!" lanjutnya sengit.

"Hei, hei, tenang dulu kawan. Kita di sini sedang ingin membahas persoalan yang dampak buruknya untuk kita semua. Kamu juga Kalajengking, meski kamu sudah terbiasa dengan cuaca seperti ini, tapi apakah kamu mampu bertahan jika hutan ini terbakar habis karena panas matahari yang berlebihan?" Kancil coba menenangkan suasana yang mulai memanas itu.

Keledai yang sedari tadi bungkam memilih bersuara, "Kalian ini kenapa? Kita sama-sama hewan tapi membicarakan soal kerusakan bumi ini yang diakibatkan ulah manusia, dan hanya manusia itu sendiri yang bisa mengatasinya."

Semua terdiam mendengar ucapan Keledai barusan.

"Sebaiknya kita pergi saja mencari makan dan minum, untuk membuat kita tetap bertahan hidup. Dan untuk Kalajengking dan Kepiting, sebaiknya capit kalian digunakan untuk mencari mangsa saja, bukan untuk diadu," nasehat Keledai.

Sejurus kemudian, mereka beranjak pergi dengan kepala tertunduk. Kepiting dan Kalajengking berjalan dengan saling bergandengan capit. Kepiting yang cara khasnya berjalan ke kiri, ke kanan itu, menyeret Kalajengking bersamanya. Melihat kejadian lucu itu. Kelinci, Kancil, Kerbau, dan Keledai tertawa lepas. Kepiting dan Kalajengking menoleh ke belakang, dan ikut pula tertawa.

Ah, andai saja manusia bisa tertawa layaknya mereka.