Saturday, November 23, 2013

Patung Bogani

Hiruk-pikuk Kota Kotamobagu dengan terik matahari yang bertengger di ubun-ubun pada pukul dua belas siang, memantik didih yang memuaikan segala baja. Tapi tidak dengan sebuah patung yang berada tepat di pertigaan Osion, Kotobangon. Meski bersikutan dengan seutas jembatan yang di bawahnya ada alir sungai, tak membuatnya tampak segar. Tapi ia tetap terlihat tegar.

Patung Bogani. Fatamorgana yang meruap sebab panas kulit aspal, memanggangnya dan menghanguskan seketika jamur-jamur musim penghujan yang menyelimuti dan melumuti kulitnya. Cat kecoklatan dan purba di sekujur tubuhnya seperti mengisyaratkan: aku sejarah yang terlupakan, aku hanya seonggok patung yang ter-vandalis oleh ketidakpedulian, dan istirah di belukar salah satu bukit yang mencuat, mendinding Kotamu. Di bukit Tudu Passi. Pun belulang yang terserak di seantero kandung bumimu.

Satu dua hal yang menambah kesedihan; seliweran kita para liliput Bogani, apakah masih sempat menjelikan pandang dan memikirkan hal yang biasa itu menjadi tak biasa? Seonggok patung yang dengan kekar dan perkasa, memaksa bertahan dari sejarah yang mengelupas dan akan binasa, ia butuh sekerjap tatap. Atau kita memang benar-benar telah melupakannya?

Dari sekian banyak patung-patung yang hanya mengilustrasikan sosok wajah, patung Bogani adalah salah satu patung yang memiliki eksistensi sepenuhnya, dari mulai: bentuk tubuh yang ideal bagi penggambaran sosok manusia, senjata tombak, dan tameng siaga di genggamannya. Patung ini tak hanya sekadar penanda ke kiri, ke kanan, atau berpusarnya puluhan kendaraan. Ia adalah kabah-nya Bolaang Mongondow.

Mungkin dibandingkan dengan ratusan patung bersejarah dan arca-arca galian di pelosok negri, patung Bogani memang tak setara. Patung ini, yang menjadi hiasan sebuah kota, yang cenderung meramaikan lanskap sebuah perkotaan, yang seharusnya dirawat dengan baik, terbengkalai begitu saja. Siapa yang mau berpose dengan patung ini? Mungkin hanya orang udik yang rela. Tapi setidaknya, mereka yang udik lebih memahami apa itu bentuk kesederhanaan dan penghormatan sejarah. Orang-orang yang rela berpose dan udik itu, lebih mulia dari mereka yang berdasi, mereka yang enggan.

Entah engkau dibikin dari lempung, semen, atau sekumpulan raga yang terbuang. Saya akan sangat dengan bangga memunggungimu dan bergagah-gagahan sekalipun setara tengkukmu. Saya anak Bolaang Mongondow yang akan terus bertanya, "Ki ine nomia kon patong Bogani?" (Siapa yang membuat patung Bogani?)

Penelusuranku tak sia-sia. Setelah menjaring beberapa link di internet. Saya dipertemukan dengan salah satu blogger (http://graceeditha.wordpress.com/2010/10/18/alex-b-wetik-ayah-teman-guru-ku/) yang ternyata adalah putri kandung dari seniman asal Minahasa yang melukis patung Bogani. Grace M. E. Wetik namanya, putri dari sang seniman Alex B. Wetik. Terima kasih untuk karya besarmu pak Alex.

Mari berpose!