Thursday, November 27, 2014

Patung Bogani (Bagian 2 dan 3)

Liliyanti Mokodompit dan lukisan karya Pak Moko. Foto: Sigidad

KELUARGA SENIMAN PAK MOKO BICARA...

Sesuai penuturan pengiat budaya Chairun Mokoginta, seniman asli Bolmong, Tawakal Mokodompit yang merancang dan membuat patung Bogani. Dari hasil penelusuran, akhirnya keluarga mendiang Pak Moko--sapaan akrab Tawakal Mokodompit--berhasil ditemui lalu berkisah...

Liputan: Kristianto Galuwo

MENDUNG menggantung di langit Kotamobagu. Tidak lama kemudian hujan turun membasahi perjalanan pencarian keluarga mendiang Pak Moko. Tak jauh memang, ternyata hanya sekira 200an meter dari letak patung Bogani.

Seorang ibu di warung menunjukkan rumah adiknya Pak Moko, mendiang Harsono Mokodompit, yang ternyata adalah ayah dari Liliyanti Mokodompit, seorang staf di Sekretariat Dewan DPRD Bolmong. Lili sudah cukup akrab dengan para awak media.

Karena urusan mendadak, ia dan suaminya Soejarwo Kastur mengajak untuk ikut serta di mobil Avanza yang mereka kendarai.

"Ayo ikut, nanti di dalam mobil saya cerita tentang Tua' Moko. Kebetulan lagi hujan," ajak dia dan suaminya.

Di perjalanan menuju kantor cabang Bank Sulut yang terletak di Jalan Kartini Kotamobagu. Pembicaraan pun mengalir begitu saja.

"Tua' Moko memang yang membuat patung Bogani. Kakak beradik dua-duanya seniman. Ayah saya pun seorang pelukis sekaligus pematung. Patung di Gedung Bobakidan, sepasang laki-laki dan perempuan itu ayah saya yang membuat. Juga dengan patung di Taman Makam Pahlawan. Nah, kalau patung-patung karya Tua' Moko, nanti coba saya hubungi lewat telepon salah satu putranya di Jakarta," tutur Lili, putri ke lima dari mendiang Harsono Mokodompit.

Sesampainya di tujuan, suaminya turun lalu masuk ke dalam Bank. Lili pun mencoba menghubungi putranya Pak Moko. Saat berhasil dihubungi, lalu mereka bertegur sapa. Putranya yang bernama Dzikrullah Mokodompit pun menceritakan. Dari penuturan ayahnya (Pak Moko) semasa hidup, ada beberapa patung di Manado yang juga dibuat oleh ayahnya.

"Ayah pernah cerita, kalau patung Bogani itu dia yang membuat. Tahun tepatnya saya tidak ingat lagi. Ada beberapa patung juga yang dibangunnya di Manado dan Gorontalo. Kalau di Manado itu patung Worang di Pasar 45. Terus patung Kuda. Juga patung di lapangan Tikala, ada yang pegang-pegang obor itu. Ada yang di Gorontalo, patung Nani Wartabone," kenang putra kedua Pak Moko, dari tujuh bersaudara ini.

Pak Moko berpulang 4 Desember 2010 silam karena stroke. Ketujuh putra dan putrinya pun menetap di Jakarta dan Manado. Dzikrullah menuturkan, saat di Jakarta, ayahnya pernah beberapa kali menggelar pameran lukisan semasa hidup.

"Ayah beberapa kali menggelar pameran lukisan, di Blok M Square, Ancol, juga di Pasar Seni Jakarta," terangnya, Kamis (27/11).

Ia sekeluarga berencana akan mempertanyakan kembali ke pemerintah setempat, mengenai klaim dari beberapa hasil karya mediang ayahnya. Juga meminta pemerintah agar mencantumkan nama pembuat di setiap patung hasil karya ayahnya.

Pembicaraan pun berakhir. Lili dan suaminya mengajak kembali ke rumah, untuk melihat lukisan hasil karya Pak Moko, yang terpampang di ruang tamu rumahnya. Sesampainya di rumah, sebuah lukisan ukuran 1.30 x 1.30 meter menyambut kami. Terlukis empat orang perempuan cantik berhijab dan seorang bocah perempuan berhijab pula, dengan raut wajah berbeda-beda

"Lukisan ini saya ambil di rumah Tua' di Manado. Beruntung lukisan ini masih ada. Jadi bukti kalau Tua' memang seorang pelukis," katanya. Sambil mengusap-usap lukisan tersebut.

Kemudian ibunya Lili, Ramlah Manoarfa menujukkan foto Pak Moko yang menghiasi dinding ruang tamu.

"Ini foto mendiang Pak Moko, kakak dari suami saya. Rambutnya panjang tapi dikuncir. Istrinya Linawaty Talot, juga sudah meninggal dunia," tutur Ramlah.

Ia juga menunjuk sebuah mural di tembok rumah, karya mendiang suaminya. Sepintas melihat foto Pak Moko, jika rambutnya digerai sambil mengenakan ikat kepala, juga dengan janggut lebatnya semasa ia muda, Pak Moko mirip dengan patung Bogani hasil karyanya. Hal itupun dikatakan Lili, sebab Pak Moko memang sangat mirip dengan wajah patung Bogani.

Tak berlama-lama lagi, wartawan koran ini pamitan. Sesudah itu, Chairun Mokoginta mengabari, ia baru saja bertemu dengan H.D Makalalag, mantan Ketua KPU, yang pada saat patung Bogani dibangun, ia adalah kepala urusan rumah tangga di masa kepemimpinan Bupati O.N Mokoagow.

"Saya baru saja bertemu dengan H.D Makalalag. Ia juga mengatakan patung Bogani di Kotobangon dibangun saat pemerintahan Bupati O.N. Mokoagow dan yang membuatnya adalah Tawakal Mokodompit," terang Chairun.

Terang sudah, siapa yang berjasa dengan karya hebat patung Bogani. Simbol patriotisme di Kabupaten Bolmong. Sejarah harus diluruskan. Sejarah patut dikenang. Agar generasi kita tahu, negeri Totabuan memiliki seniman-seniman hebat.


Patung Bogani (Bagian 3)


Bogani menjadi maskot KPU Kota Kotamobagu. Gambar: KPU Kota Kotamobagu

BOGANI DIJADIKAN MASKOT DAN DIHORMATI

Berbagai cara menjadi bentuk sanjungan mereka kepada tokoh Bogani. Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Kotamobagu menjadikan maskot Pemilihan Wali Kota Kotamobagu (Pilwako) 24 Juni 2013 silam, hingga Anggota Dewan Perkawilan Daerah (DPD) RI Benny Ramdhani (BRANI) yang melakukan “ritual” pembasuhan Patung Bogani.

SAAT ditelepon, Ketua KPU Kotamobagu, Nayodo Kurniawan mengatakan sedang berada di acara duka keluarga.

“30 menit lagi yah, kalau sudah di rumah nanti saya hubungi lagi,” katanya. Setelah menunggu, tidak sampai 30 menit lamanya, telepon berdering dan ternyata dari Nayodo yang biasa disapa Kak Nanang.

“Saya sudah di rumah, kesini saja,” ajaknya, disusul dengan sedikit petunjuk letak rumahnya yang berada di Kelurahan Gogagoman, Kecamatan Kotamobagu Barat.

Disambut di teras rumah panggungnya, Kak Nanang segera mengulas tentang penulisan sejarah pembuat Patung Bogani, yang dipublikasikan koran Radar Bolmong, edisi Rabu (26/11) dan Kamis (27/11).

“Iya saya baca, memang seharusnya hal-hal seperti ini digali, agar generasi muda tahu,” katanya, sambil memantik korek apinya. Sebatang rokok tersulut, lalu cerita berlanjut.

Wartawan koran ini menanyakan alasan, kenapa saat Pilwako 24 Juni 2013 silam, KPU Kotamobagu menjadikan Bogani sebagai maskot.

“Bogani adalah sosok kesatria, jujur, amanah dan memiliki keselarasan antara perkataan dan perbuatan. Sehingga KPU Kotamobagu menjadikan Bogani sebagai maskot, dengan maksud agar masyarakat melihat, sosok seperti Bogani yang pantas menjadi pemimpin dalam membawa Kotamobagu ke depan,” jelas Kak Nanang.

Ia pun meminta kepada pemerintah agar terus menjadikan Bogani sebagai maskot Bolmong sepanjang masa.

“Harus jadi maskot sepanjang masa. Insya Allah, jika ada Pilwako selanjutnya, Bogani akan tetap menjadi maskot KPU,” harapnya.

Bukan hanya itu, ia meminta pemerintah agar bisa menganggarkan di Rancangan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (RAPBD), terkhusus untuk dinas terkait melakukan riset sejarah.

“Pemerintah harus ada anggaran untuk itu. Bahkan bisa membuat buku sejarah Bolmong, yang dirangkum dari catatan atau keterangan para sejarahwan. Buku-bukunya bisa dibagi di sekolah-sekolah, biar jadi referensi para generasi muda,” terang Nayodo dengan nada serius.

Tak lama kemudian datang Aditya Tagela, salah satu komisioner devisi hukum dan pengawasan KPU Kotamobagu.

Ditanyai soal ide pencatutan Bogani sebagai maskot. Nayodo dan Aditya sepakat, itu adalah ide bersama.

“Itu ide bersama, ada plenonya juga saat itu,” terang Nayodo yang disepakati Aditya.

Setelah bercerita panjang lebar, ia mengambil sebuah kaos yang bergambar tokoh kartun Bogani-yang menjadi maskot-lalu menghadiahkan kaos itu kepada wartawan koran ini.

Berpamitan pulang, wawancara pun berlanjut kepada salah satu anggota DPD RI perwakilan Bolmong, Benny Ramdhani. Sedang berada di Ibukota Jakarta, Benny diwawancarai melalui sambungan telepon. Salah satu momen penting yang dilakoninya saat Pesta Demokrasi 9 April 2014. Ia yang mencalonkan diri sebagai perwakilan Bolmong untuk merebut kursi di DPD RI, berhasil menarik simpatik masyarakat dengan aksinya yang melakukan “ritual” pembasuhan patung Bogani.

Bogani adalah simbol heroisme dan patriotisme. Patung Bogani itu seolah-olah dilupakan. Momennya pada saat itu, tatkala suara calon perwakilan Bolmong terancam dicuri, maka itu sebagai bentuk permintaan restu kepada Bogani, untuk siap melakukan perjuangan jika nanti ada kecurangan,” terang Benny dengan nada suara penuh semangat

Selain itu, ditambahkannya, pembasuhan patung Bogani adalah bentuk kritik kepada semua pihak, yang mengabaikan dan bertindak seasalnya terhadap patung Bogani.

“Kita lihat saat ramai pesta demokrasi, ada beberapa stiker partai yang ditempelkan di tubuh patung Bogani. Selain itu di ujung tombaknya diikatkan bendera partai, harusnya itu dilarang,” sampai Benny, Jumat (28/11).

Benny juga mengeluhkan kurangnya perhatian pemerintah untuk melakukan perawatan patung-patung dan monumen-monumen bersejarah di Bolmong. Juga kepada generasi muda, ia menyampaikan agar terus menjaga dan membuka mata hati, supaya bisa meneladani tokoh Bogani, sebagai simbol perjuangan.

Besar harapan Benny, agar seluruh elemen masyarakat di Bolmong, bisa mengenal lebih jauh ke dalam, menggali sejarah dan budaya daerah yang mulai terlupakan.

Benny Ramdhani saat aksinya membasuh patung Bogani. Foto: Koleksi pribadi

Catatan: Ketiga liputan bersambung Patung Bogani, dimuat di koran Radar Bolmong, sewaktu saya masih sebagai wartawan di sana. Sengaja saya sadur di blog, untuk kepentingan dokumentasi pribadi.

Wednesday, November 26, 2014

Patung Bogani (Bagian 1)

Patung Bogani di simpang tiga Kotobangon. Foto: Sutha

PATUNG BOGANI YANG TERLUPAKAN

Tak banyak yang memperhatikan lalu prihatin dengan sebuah patung, yang berdiri tegar di simpang tiga Kelurahan Kotobangon. Patung Bogani, sekujur warna cokelat tubuhnya memudar dan berlumut, seakan waktu memakannya perlahan dan membuat kita melupakannya.

Liputan: Kristianto Galuwo

SEJARAH memang untuk diingat. Mereka yang tidak mengenal masa lalunya, akan dikutuk untuk mengulanginya. Begitu kata George Santayana, filsuf asal Spanyol (1863-1952). Begitu pun dengan masyarakat Bolmong, mungkin harus diingatkan kembali dengan sejarah Bogani. Tidak banyak generasi muda yang mengenal dan tahu siapa Bogani, bahkan hanya untuk seonggok patungnya pun, mungkin sebagian masyarakat Bolmong tidak atau belum mengetahui sejarahnya.

Menurut sejarah, Alex B. Wetik yang merupakan salah satu pendiri Jurusan Seni Rupa di Lembaga IKIP Manado atau UNIMA, ia adalah pelukis sekaligus pematung yang mendesain Patung Bogani. Ia pun dikenal membuat patung-patung di Sulawesi Utara di antaranya: patung Sam Ratulangi di Manado, Yesus di Gereja Katolik St. Ignasius Manado, relief di Gedung Bukit Inspirasi Tomohon, patung Sam Ratulangi di Tondano, patung Sarapung dan Korengkeng di Tondano, dan patung Bogani di Kotamobagu, pun masih banyak karya-karya lainnya.

Akan tetapi, sumber lain yang merupakan budayawan Bolmong, Chariun Mokoginta mengatakan, dari hasil penelusurannya, pelukis dan pematung yang membuat patung Bogani adalah Tawakal Mokodompit.

"Menurut sepengetahuan saya, Tawakal Mokodompit yang membuat patung Bogani. Kiprahnya dalam seni lukis pun hingga ke ibukota Jakarta. Dia bersama Pak Tino pernah mengisi program acara 'Mari Menggambar' di stasiun TVRI dulu. Adiknya pun Harsono Mokodompit adalah seorang pelukis. Tapi saya pernah menelusuri keberadaan mereka, hingga diketahui keduanya sudah meninggal dunia. Yang saya kenal, keduanya adalah budayawan sekaligus pematung di Bolmong," tutur Chairun saat ditemui di kediamannya di Kelurahan Genggulang Kecamatan Kotamobagu Utara, Rabu (26/11).

Kedua kakak beradik itu menurut Chairun, sangat memperhatikan kebudayaan Bolmong dari segi adat istiadat, semboyan-semboyan budaya, juga simbol-simbol.

"Setahu saya juga keduanya itu di masa muda mulai eksis di dunia seni. Seingat saya saat kepempimpinan Bupati O.N Mokoagow, mungkin di periode tahun 1966-1976, patung Bogani dibuat," tutur Chairun, sambil mengingat-ingat.

Diceritakannya, tokoh Bogani yang menjadi model patung adalah Bogani Paloko. Sebab yang bermukim di sekitar aliran sungai dan wilayah Kotobangon sampai ke puncak Ilongkow adalah bogani Paloko.

"Ada begitu banyak Bogani di Bolmong, seperti Bogani Ki Bagat, Inde Indou, Inde Dikit, Dugian, Paloko, Ponamboian, Dondo, Pongayow, Lingkit, Mogedag dan masih banyak lagi. Tapi menurut saya, yang menjadi tokoh patung Bogani adalah Bogani Paloko. Sebab dulu yang berdiam di sekitar aliran sungai adalah Bogani Paloko dan masyarakat yang dipimpinnya," urainya, sambil mempersilakan wartawan koran ini, untuk minum teh yang dihidangkan istrinya.

Diketahui ada dua sebutan untuk simbol patriotisme di Bolmong itu. Bogani untuk laki-laki dan Bigani untuk perempuan. Dari bahasa 'purba' Mongondow, diartikan Bogani adalah manusia yang bisa menghilang.

"Artinya Bogani itu manusia yang bisa menghilang. mereka pun dipilih karena sifat dan sikap mokodotol atau patriotisme yang dimilikinya," terangnya.

Menurut Chairun ada satu semboyan yang menjadi sebuah prinsip bagi para Bogani.

"Prinsipnya yakni tampangan dodot atau artinya pemimpin dulu yang harus mati baru sesudah itu rakyat," dituturkan Chairun dengan gestur tubuhnya yang mengisyaratkan seorang Bogani menaungi rakyatnya di antara kaki kiri dan kanannya.

Ada empat kriteria menurut Chairun agar bisa menjadi Bogani. Yang pertama Mokodotol atau sikap patriotisme. Yang kedua adalah Mokorakup yang artinya bisa mengayomi masyarakat yang dipimpinnya, baik itu dari kecukupan sandang dan pangan. Ketiga Mokodia yang diartikan mampu mengemban amanah, paham dengan budaya dan adat istiadat, juga mampu menerapkan keadilan tidak terkecuali anggota keluarga. Yang keempat Mokoanga' yang diartikan harus simpatik perilakunya.

Mengenai dua senjata yang digenggam patung Bogani, diberi nama Tungkudon untuk tongkat yang juga sekaligus sebuah tombak, di genggaman tangan kanannya. Sedangkan tameng di tangan kiri diberi nama Kaleaw. Dari posisi Patung, diutarakan Chairun adalah apa yang disebut dengan opat noponulukan atau empat penjuru angin.

"Ini dari perspektif budaya yah, kiblatnya orang Mongondow itu menghadap utara. Jadi Tungkudon-nya menghadap utara atau Tombaian artinya kebahagiaan atau kesenangan. Kalau ke barat itu disebut Toyopan yang artinya tidak baik, karena itu patungnya agak condong ke selatan. Sedangkan timur itu disebut Silangan, makanya harus dibelakangi karena tidak baik menantang arah terbitnya matahari. Untuk ke selatan itu Tontongan artinya apa yang nampak dalam pandangan," urai Chairun. Ia kembali memantik api dan menyulut rokoknya, kemudian melanjutnya cerita.

"Tidak pernah para Bogani dulu berselisih. Ada sejarah soal Mokodoludut, pemimpin dari Dumoga. Versinya ada dua menurut hikayat, Mokodoludut itu berasal dari telur. Sementar versi logisnya, ia bayi yang ditemukan Bogani Amalie dan Inalie. Saat ditemukan katanya ada suara gemuruh dan angin yang bertiup kencang. Semua Bogani berkumpul dan kemudian disepakati bayi tersebut diasuh dan dibesarkan. Sebab akan menjadi pemimpin nantinya," tuturnya.

Chairun pun mengakhiri perbincangan panjang dengan penyampaian, bahwa budaya-budaya Bolmong beraneka ragam. Tokoh-tokoh dan para pelaku sejarah pun harus diingat. Agar generasi bisa memahami, betapa Bolmong ini begitu kaya kebudayaannya dan memiliki sejarah patriotisme yang patut dikenang.