Wednesday, April 22, 2015

Para Sisifus Pendorong Jerigen Air


Jejeran jerigen air di beberapa desa yang dilalui, seperti sebuah penanda krisis air yang melanda Kecamatan Likupang Barat, Kabupaten Minahasa Utara.

Laporan: Kristianto Galuwo (Radar Bolmong)

MENDUNG seakan berkejaran dengan laju mobil yang kami tumpangi. Setelah menempuh perjalanan sekira 80 menit dari Kota Manado, Sulawesi Utara, Selasa (11/11/2014), akhirnya saya reporter-dari Radar Bolmong dan tim Manado Post Group (MPG) yang terdiri dari reporter asal Posko Manado, Maluku Utara Post, Luwuk Post dan Gorontalo Post, tiba di bibir Kecamatan Likupang Barat.

Desa Munte mengecup dingin dan menyambut kami dengan rimbun hijau pepohonan. Di pinggir jalan, tampak satu-dua jerigen air ukuran 25 liter terparkir, sedang ditunggui empunya. Air mengalir dari pipa berdiameter 3 centimeter (cm), lalu terhubung ke sebuah bak penampungan hasil Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM).

Meski alir air tak terlalu deras, desa ini terbilang pasokan airnya cukup lumayan. Kami terus menembus ke desa selanjutnya, Desa Mubune dan Desa Maliambao. Aktifitas warganya biasa saja. Meski sesekali seliweran sepeda motor yang mengangkut satu jerigen air dan gerobak-gerobak pengangkut.

Terus ke dalam, kami jumpai lagi sebuah desa. Namanya Desa Bulutui, kemudian Desa Bahoi dan Tambun. Kondisinya sama. Warganya masih segar barusan diguyur air hujan. Suplai air pun memadai. Desa yang kami lalui, jika jerigen air berderet penuh, pun gerobak yang dijejali jerigen air. Maka desa tersebut belum pada taraf memprihatinkan. Begitu pun sebaliknya, semakin sedikit jerigen air di pinggir jalan, maka desa tersebut sedang tidak baik-baik saja.

Saat menanjak memasuki desa selanjutnya, Desa Serei, seorang perempuan muda berdaster cokelat, basah kuyup. Warna kulitnya tampak telah menyatu dengan warna dasternya. Ia seperti Sisifus-tokoh mitologi Yunani, yang dikutuk mendorong batu karang ke puncak gunung, selama-lamanya. Tapi perempuan ini bukan mendorong, ia tengah susah-payah menarik gerobak mini 30x30 cm, bermuatan dua buah jerigen ukuran 10 liter. Saat melihat lebih dekat, tak bisa lagi membeda, mana keringat dan yang mana air hujan di wajahnya.

Mobil kami berhenti. Saat dipotret, ia enggan dan coba menghindar. Seperti menyangkal sangka, bahwa bukan kondratnya untuk menarik beban seperti itu. Saat ditanyai, dengan malu-malu ia menjawab.

"Ada mata air di bawah, coba ke sana saja. Lagi banyak orang sedang menimba air," jawabnya sambil terus berlalu.

Setelah itu, tampak seorang ibu menyusulnya. Masih dengan beban yang sama. Tak lama kemudian, bocah-bocah kembali saling menyusul, berkejar-kejaran saling mendahului menuju puncak desa. Setiap menit, bertambah satu per satu Sisifus di desa ini. Tapi, saksama kami bisa menilai, pasokan air di desa ini masih memadai. Ada tiga sumber mata air melimpah di desa ini.

Kami pun melanjutkan perjalanan. Menuju desa selanjutnya, Desa Tarabitan. Hewan piaran seperti anjing, babi, dan ayam, lalu lalang di jalan. Tampak seperti sedang mengendus tanaman kering. Setelah bertanya, kami dituntun menuju rumah Hukum Tua.

Sedang asyik berbincang dengan ibu-ibu yang menongkrong di warung. Seorang pria tak bersendal, bercelana abu-abu sebatas paha, dengan kaus berkerah lusuh menyapa kami. Ia memperkenalkan diri, namanya Mahones Ibrahim.

Kami baru sadar, dia adalah Hukum Tua Desa Tarabitan. Rambutnya gondrong sebahu. Entah kapan ia terakhir kali keramas. Desa yang dipimpinnya selama selusin tahun di dua periode, yang paling mencecap kekeringan dan kekurangan air bersih.

"Tanah di bawah desa kami ini batu cadas dan berada di tanjung, sangat sulit mencari mata air di sini," tuturnya dengan suara agak berat.

Selang beberapa menit kemudian, ia mengajak kami menuju bak penampungan air yang diprakarsai pembangunannya oleh Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Propinsi Sulawesi Utara di tahun 2008.

"Kami bergantung dari bak penampungan ini. Airnya bisa disedot dengan pompa bertenaga diesel, tiga hari sekali. Untuk memenuhi kebutuhan 882 penduduk Tarabitan. Bulan Juni kemarin hingga Oktober, kami sangat kesulitan air karena musim kemarau. Penduduk bahkan rela mandi memakai air laut," ceritanya, sambil sesekali menggaruk pahanya. Mengisyaratkan kondisi mereka dan penyakit yang dominan di desanya. Pastilah, selain diare, penyakit kulit menggerogoti masyarakat di desa itu.

Di bak penampungan berukuran 10X2 meter. Di samping kirinya ada mata air khusus untuk dikonsumsi sebagai air minum. Samping kanannya, ada lagi sumur khusus digunakan untuk mandi. Satu lagi sumur di bagian depan, bisa dikonsumsi sebagai air minum. Ketiga sumur itu berukuran 2 x 2 meter.

Usai itu ia mengajak lagi ke satu bak penampungan berjarak sekira 100 meter. Kali ini ada sebuah gedung, tempat mesin bertenaga surya yang berfungsi memompa air.

"Ini meski memakai tenaga surya, tapi tidak bisa menyedot air, sebab debit air turun. Rencananya saya mau meminta pemerintah untuk memindahkannya di bak yang satunya lagi, biar tidak boros solar. Ini kan, memakai tenaga surya. Yang di bak sebelumnya, 20 liter solar, hanya untuk tiga kali memompa air," keluhnya.

Besar harapan Mahones yang hanya lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP), demi kebutuhan air warganya, upaya untuk menggali mata air terus dilakukannya secara gotong royong dengan masyarakat. Mahones ingin desanya mandiri.

Setelah sebelumnya berpamitan dengan Hukum Tua, untuk melanjutkan perjalanan ke desa berikutnya, Desa Sunsilo, Mahones menawarkan rumahnya menjadi persinggahan, jika kami tak sempat kembali ke Manado.

Kami pun melanjutkan perjalanan menuju desa berikutnya. Desa Sunsilo tak kekurangan air. Sama halnya dengan desa Paputungan, Tanah Putih, Jaya Karsa, Termal, dan Palaes. Desa lainnya di Kecamatan Likupang Barat, Kabupaten Minahasa Utara, berada di pulau.

Ada lima desa di pulau tersebut. Desa Gangga Satu, Gangga Dua, Kinabuhutan, Talise, dan Air Benua. Sesuai data Dinas Catatan Sipil Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Minahasa Utara. 17741 jiwa penduduk mendiami Kecamatan Likupang Barat. Mayoritas penduduknya berasal dari suku Siau, Kabupaten Sanger.

Bupati Minut, Sompie Singal, saat berkesempatan ditemui di Kantor Bupati, meski dengan keterbatasan waktu, Sompie sempat menjawab beberapa pertanyaan yang kami lemparkan.

"Nanti 2015 akan dianggarkan untuk pembangunan pipa air di sana," sampainya, dengan pengawalan yang ketat saat menuruni tangga.

Pihak Perusahaan Air Minum Daerah (PDAM), melalui Kepala Bagian Umum, Welly Daniel, mengutarakan, pihaknya tinggal menunggu anggaran dari pemerintah tersebut.

"Kalau sudah ada anggaran, tentunya kami tinggal membangun pipa-pipa," kata Welly. Ditanyai upaya pihak PDAM untuk menyalurkan bantuan air bersih ke desa-desa yang dilanda krisis air.

Sejauh ini kata Welly, pihaknya belum bisa berbuat apa-apa.

"Untuk pipa PDAM di sebagian desa di kecamatan tersebut sudah ada. Sementara desa yang kekurangan air, pihak kami belum bisa berbuat apa-apa, secara teknis kami bisa membantu, tapi secara finansial, tentunya menunggu kebijakan pemerintah daerah," katanya, di hari kedua penugasan kami, Rabu (12/11).

Kecamatan Likupang Barat, terkhusus Desa Tarabitan yang berdiri sejak tahun 1954, di sana desanya landai. Akses jalan pun masih bisa dibaui aspalnya yang terpanggang terik matahari.

Di sana tak ada Sisifus yang dikutuk mendorong jerigen air berulang-ulang. Hanya ada seorang Hukum Tua dengan usia separuh abad, berjuang demi 882 jiwa masyarakatnya. Agar tak menjadi Sisifus yang terkutuk, mengulangi perbuatan sia-sia mendorong batu karang ke puncak bukit. Lalu batu tersebut kembali bergulir jatuh. Sisifus mengulangi perbuatan itu selama-lamanya. Tapi Mahones Ibrahim, tak ingin menjadi Sisifus.

Tulisan feature ini saat pelatihan wartawan liputan khusus di Manado Post. Tulisan mentah ini, terpilih meski masih melewati proses editing, selanjutnya dimuat di halaman pertama koran Manado Post.

Terima kasih mentor Idham Malewa.