Thursday, April 23, 2015

Salah Tafsir jadi Kaum Takfir

Bicara konteks, akhirnya Uwin sendiri menjauh dari konteks. Saya
bengong tambah heran dengan cara penafsiran 'barat tak selalu buruk'.
Sejak tulisan pertama, yang saya bincangkan adalah feminisme barat
yang 'mendidik' Kartini di balik tembok keraton. Bukan kah budaya
barat, pendidikan barat, kawan-kawan barat, tradisi minum teh yang tak
lazim bagi pribumi, yang dipermasalahkan? Budaya yang lahir dari
kolonialisme, imperialisme, dan entahisme apalagi.
Bukankah dalam tulisan pertama di www.arusutara.com, hal tersebut yang
dikau pertanyakan? Seluruh asupan gizi dari mata kucing yang dikau
poles menjadi Politik Etis.
Bahkan di tulisan kedua saya, dengan terang saya bedakan antara yang
si Jawa dan si Aceh. Tetap saja bagi saya Kartini adalah pemikir
feminisme pertama di Indonesia. Jauh sebelum para cendekiawan lain
lahir.
Kartini gegerkan pemerintah kolonial Hindia Belanda, dalam melawan
diskriminasi terhadap kaumnya. Belanda dibuat bingung, mengapa
seseorang yang dibesarkan oleh kultur budaya patriarkis dan berada di
bawah jajahannya, bisa memiliki pemikiran semodern dan selengkap itu?
Mereka sendiri lupa, Kartini berkamuflase dengan budaya mereka, agar
bisa menyamai taraf pemikiran si kantong gulden.
Sebenarnya, gerakan feminisme yang dijuangkan Kartini, merupakan
perjuangan mentransformasikan sistem dan struktur yang tidak adil,
menuju ke sistem yang adil bagi perempuan maupun laki-laki. Jelas
poligami ia tolak dengan paradoks. Ia menjalani sekaligus menolak.
Kartini merasai. Mungkin lebih tepat ambivalensi.
Bahkan di Indonesia sendiri, sejarah perjuangan kaum feminis telah
dimulai pada abad ke-18 ketika Kartini ada.
Banyak yang dikau tak pelajari mengenai feminisme yang Kartini
genggam. Feminisme yang ia pelajari dari barat, namun cenderung
'sendiri' dan menjadi sebuah sintesis dari patriarki dan feminisme
barat itu sendiri.
Makin membuat saya heran, ketika barat yang saya maksud, telah jauh
melenceng dengan disamakannya tafsir ala kaum takfir, padahal bukan
itu yang saya maksud. Mungkin kata menuduh lebih tepat bersanding di
laptop dikau.
Barat yang terang lalu menuju gelapnya Nusantara. Barat yang selama
ini dikau katakan telah merayap jauh menembus kebaya Kartini,
mendidiknya dan menyarukannya menjadi praduga Politik Etis.
Sampai di sini, saya hanya bisa berkata.... Lebe bae maen CoC jo.