Friday, May 8, 2015

Cepat Sembuh Ses

BENRADABEN!!! Begitu salam Om Nal, orang yang diklaim geger otak dan menjadi gila, sebab popor senjata yang menghantam batok kepalanya, di waktu yang lampau, entah karena salah apa. Inilah Bolmut, dengan kisah tragis dan kelucuan Om Nal, kala pertama-mula saya bertugas di sini sebagai biro Bolmut. Om Nal suka bicara yang tak nyambung. Ia sehari-hari lampaui durasi giat para pewarta mengunjungi kantor-kantor. Pokoknya, Om Nal itu BENRADABEN!!
Saya di Bolmut, sebab tugas dari media Radar Bolmong kepada saya yang, kata Uwin terlalu suka meringkuk di balik sarung mendiang ayah saya, yang serupa kantung kangguru. Kalimat itu melesat dari balik botak Uwin dan benjolan sastra di dahinya yang serupa benjolan di dahi dolphin, saat saya, Sigidad, Atol, 83, Yakuza, dan entah julukan apalagi, tengah merayakan ultah April kemarin. Sebuah tafsiran dari berbagai tafsiran dalam tulisannya, tentang saya yang gemar mengucap kalimat, "Jangan pernah dewasa."
Jumat tadi, sahabat saya Shandri sedang merayakan ultah. Ucapan yang sama saya utarakan, "Jangan pernah dewasa."
Iya, jangan pernah dewasa, sebab masa kanak-kanak adalah masa yang penuh keajaiban. Sifat innocence bocah, kepolosan yang selalu menjadi bara yang menguapkan keingintahuan pada pikir mereka. Coba kita melempar pandang pada cahaya bulan malam ini, pada gemintang dan benda-benda yang menggantung di angkasa. Kita sudah merasa terbiasa, sementara bocah selalu ingin tahu, apa itu bidang hitam di angkasa, pijar bintang, pucat purnama, atau arak-arakan halimun. Iya, jangan pernah dewasa kawan, agar kalian selalu merasa ingin tahu.
Malam kemarin, saat tengah berserak gemintang dan botol bir di undangan miras salah satu teman saya, di belahan 'benua' lain tepatnya di Eropassi (julukan Desa Passi); Katz julukan buat Uwin, Ses Rulli, dan kawan-kawan lain pun tengah berpesta kecut. Katz mengirim BBM, ada tulisan dari Ses Rulli, buat saya dan Darwa (Dani). Tulisan itu pun berkesempatan bersilahturahim barusan. Kubacai dan gelak tawa meledak serupa mercon, lalu membedaki langit malam Lapangan Kembar Boroko.
Ses Rulli dan cita-citanya. Ha-ha-ha-ha...
Saya tak ingin lagi ulas-oles tentang rentetan cita-citanya, yang mau jadi aktivis, atau misalnya babulang manuk dan pemabuk mamuig-mamuntag. Saya ingin dengan segera membahas julukan Ses, yang pertama kali diutarakan kawan saya Darwa, sejak Rulli asyik mencermati kusta, TBC, ola'ap, gatal-gatal, di balik bangku kuliah Akademi Keperawatan Manado, eh, Totabuan (entar kena bully lagi).
Oh, Ses, Ses.... kamu tahu kawan, mungkin beda titik koordinat antara Atol, Darwa, dan Ses, yang hidup dan besar di lingkungan Eropassi atas dan kamu di pertengahan. Kami yang di atas sudah terbiasa dengan julukan, tak lagi alergi, seperti Ses yang sekarang tengah mengidap penyakit alergi julukan. Noi kompit kai nami in tangoi, sejak paman Kupit julukan buat Ading menyematkan Darwa ke Dani, Eding dan kawan-kawan menamai saya Atol, Katz (Ketua) dan KPA Bomlest me-mintahang-kan 83, sebutan Bulog (sogili) dan Laji kepada Yunus, atau Adan kepada Anto', Sukro kepada Ewin yang bertransformasi menjadi Bedew (karena kecipratan air liur-ewe'-gidi-gidi), Pqmz kepada Eding, Badut dan Andol kepada Ardi. Juga ada julukan Pinggo', Pinky, dan Pinggirli kepada manusia kekar Ping (ha-ha-ha), Pluri kepada Didin yang karena kebiasaannya bertutur dengan kecepatan melebihi Paman Ocing (Rossi). Pluri disematkan saat Didin asyik main Counter Strike di Play Station,  dengan kecepatan verbalnya, kotak, kotak, untuk reload pluru, menjadi takkatak pluri. Didin yang, bahkan jalan rusak disingkatnya menjadi JRX!. Masih ada lagi julukan Kartolo kepada Karta, Haye untuk Rizki, dan siapa lagi yang belum saya sebut ya? Oh, ada si Ferri yang hitam legamnya membikin ia dipanggil Ale (bukan rasis ya, Ale pun gak merasa gitu). Ada pula Kiki yang dinamai Ji'i karena kelincahannya monalok kon manuk i tete naton komintan. Toput untuk Opan, Pulut buat Awi, dan ah, masih banyak lagi label akrab lainnya. Dan, kami senang....
Oh, ya, hampir lupa, Darwa nitip nih, kata Darwa mongenggeng, "Takdir bukan hukuman, tapi pilihan," ha-ha-ha-ha...
Darwa memang kawan penuh lelucon.
Oh Ses, meski julukan itu adalah kesengajaan yang diucap Darwa, namun di balik itu ada persekawanan yang, yang, yang, sangat luhur.
Label yang membuat kami anak-anak pertigaan merasa akrab, dan menjauhkan kami dari tafsir-tafsir bisik yang berbias mengira. Kami secara gagap dan sepakat, menamai Ses, karena kamu sudah menjadi bagian dari anak-anak pertigaan, biar abad-abad pertengahan, bisa memanjat jauh meninggi menuju yang atas. Tapi sebelum ke atas, Ses memang telah disaring dengan ejek-ejekan khas Darwa. Dua kerabat yang cukup 'akur'.
Semoga, kamu tak lagi alergi. Sebab sungguh aneh, jika Ses tak bisa mengobati penyakit yang sekelas CTM pun bisa memulihkannya. Biar lidah tak lagi terjulur serupa lidah penjahat kelamin, atau petinju yang kena jotos. BBM-mu semalam Ses, yang bilang selamat menikmati Bolmut dengan kesunyiannya. Lalu kubalasi, bahwa yang ramai bukan dari faktor eksternal, tapi dari dalam diri kita-internal-dengan mencipta riuh itu sendiri. Mungkin juga, Bolmut yang pernah kau rasai sebagai hukuman, kurasai seperti sebuah sorga, sebab apapun tentang pesisir pantai, gemuruh ombak selalu berbisik, "Semoga cepat sembuh ya Ses, salam dari Negeri Utara."