Saturday, May 9, 2015

Telunjuk Si Penuduh Santet

Saya seakan ingin tunduk, lalu menciumi telapak kaki ibu, kala mengingat tutur kisah tentang berpulangnya kakak perempuan Irmawaty Galuwo, saat saya di usai sekolah dasar, di tahun yang purba. Keping-keping kisah tak lagi jelas di ingatan, sebab cerita ini begitu personal dalam keluarga. Ibu pernah bertutur, kakak Ir meninggal karena disantet! Bahkan, cerita mahluk halus yang menampakkan diri di rumah usai kakak berpulang, berdengung ramai.
Iya, kakak meninggal tak wajar, sebab seluruh organ tubuhnya hancur dan menghitam. Kakak saya ini cantik, bentuk rupanya dipinjami wajah Sigi, dengan dagu meruncing serupa stalagtit mau memacak ke bumi. Binar matanya cerlang, dengan rambut keriting memahkotai. Dan ia meninggal di usia 20 tahun.
Ibu dendam tentunya. Ahli spiritual segala kutub dikejar dengan harap, agar dendam terbalas. Namun akhirnya, ibu ikhlas dan serah luruh ke hadirat. Nama si tukang santet dikantongi, tapi ibu mengucap, biarkan saja, mungkin sudah jalan kakakmu berpulang dengan kematian seperti itu.
Dari sinilah, menyoal santet selalu mengundang tanya dan sebuah hal yang irasional bagi saya. Kenapa begitu? Kenapa begini? Ah, kenapa bisa? Dan serentetan tanya, yang membikin saya menyimpul, persetan dengan itu, sebab tak masuk akal. Supranatural, yang gaib, yang transenden, memang selalu mencipta tanya. Hingga pada Sabtu (9/5) kemarin, berjejal gambar di BBM, terkait pembunuhan sadis di Kelurahan Mongkonai, Kecamatan Kotamobagu Barat, Kotamobagu. Si A menuding si B menyantet keluarganya, lalu si A memenggal kepala, jemari, dan melampiaskan kira di sekujur tubuh korban berkemeja kotak-kotak. Kepala lepas tanpa dialog kenapa begini dan begitu. Foto-foto segar pun tersebar sepersekian detik.
Usai memenggal, kepala si B dijinjing si A dengan rasa yang entah seperti apa. Mungkin saja dengan ucap; saya pembunuh sadis, saya emosi, saya mengadili, saya habis kesabaran, saya ingin membunuh! Dan entah apalagi yang sedang dirasa si A.
Korban dan si penjagal warga yang sama, dan mungkin saja pernah sederet kursi dengan kelakar akrab. Tapi kita tak pernah tahu, apa gundah yang merasuk ke relung si A, meski asupan gizi tayangan Tv kita yang berbau supranatural, atau pun segala yang gaib, jelas tentu bukan menjadi dasar pijak pikir, apa yang membuat si A itu begitu tega. Nekat tak selalu soal tontonan. See and do. Ia hadir begitu saja, mengira, lalu menghukum. Nekat itu begitu absurd.
Tentu saja, pembunuhan ini bukan terinspirasi tayangan hukuman pancung ISIS kepada sejumlah wartawan asing, atau hukuman penggal di Arab. Pun hukuman mati di Nusakambangan yang, bisa diselancari pemberitaannya di ponsel Mito, dengan begitu cepat. Jelas ada alasan yang menjadi sebab, lalu berkatalis dan segera memuncak jaya dengan kesimpulan, saya harus membunuhnya.
Apa yang dialami si A, apapun itu, jelas ia lebih mafhum, meski kita berhak menduga.
Sama seperti saat ibu bertutur tentang kakak, saya pun menduga benar lalu berniat dengan segala imajinasi superhero; saya ingin membalas dendam, serupa film superhero dan bollywood dengan segala ketertindasan. Tapi kali ini, apa yang dipikir si A yang kekar dan botak itu tak pernah bisa kita duga. Pembaca pun mungkin pernah merasa, kerabat atau siapa saja yang pernah disantet, lalu iba. Namun pembuktian selalu menjadi kendala, sebab ini adalah tentang yang jauh dari logika, pun jelas jauh dari pembuktian yang bisa diindrai.
Sekadar sebagai penimbang; kakak kandung saya perutnya membuncit. Saat ke rumah sakit, penyakitnya sukar didiagnosis. Saya memilih ke dukun, lalu kata dukun kakak saya disantet. Sebab rasa sayang terhadap kakak, saya pun sepakat lalu menghukum si penyantet.
Apakah alasan ini bisa diterima?
Dalam sidang yang kerap saya ikuti. Logika dijunjung tinggi. Apapun yang tak rasional ditelisik lalu disanggah dengan jawab yang, tentu saja rasionalitas diutamakan.
Turut berduka untuk keluarga yang ditinggalkan. Turut prihatin atas apa yang dilakukan si A dengan begitu tak manusiawi, meski hukuman untuknya tentu saja tak harus mati pula. Saya tak bisa dengan jelas merentang soal santet, meski penyakit yang sukar itu kerap tertukar dengan canda.
Satu mungkin yang bisa kita renungi di sini, bahwa yang sedang mengasuh iblis, jelas bukan si tertuduh. Tapi si penuduh dengan telunjuk yang, seharusnya ia arahkan tepat ke dahinya sendiri.