Wednesday, August 12, 2015

AKU

Kata penyair John Ashberry: “Ada saatnya kita sadar bahwa tak ada satupun laku manusia yang lebih dramatis dan meyakinkan ketimbang laku kita sendiri.”

Sendiri. Aku. Ketika kecil dan hendak berangkat ke sekolah, rambutku suka disisir ke samping oleh ibu. Diminyakinya pula dengan hijau tancho milik ayah yang, kala itu gemar menyisir rambut ikalnya sebelum berangkat ke kantor.

Langkahku gamang disinari matahari pagi yang hangat, saat berangkat ke sekolah sendiri dengan degup dan gugup. Seratus meter ke kiri dari pekarangan rumah, melewati hijau rerumputan tanah lapang, aku hanya bisa membayangkan seperti apa itu sekolah. Aku tidak merasai bangku taman kanak-kanak, sebab usia lima tahun buku-buku pelajaran kakakku sudah bisa kueja. Kawan-kawan seumurku yang sudah menamatkan pendidikan di taman kanak-kanak, kini sekelas denganku. Di SD Negeri I Passi.

Di sini, hanya kilat bola-bola mata bocah riang kutemui di halaman sekolah. Sebagiannya kukenal, yang lainnya entah siapa mereka. Ibu pernah mengatarkanku ke sekolah hanya saat mendaftar. Selanjutnya ibu melepas putra bungsunya ini dengan bekal, "Belajar yang tekun, dengarkan apa kata guru." Wajah ibu bersinar kala itu.

Lama berdiam diri di sekitar rumah; hanya tanaman pekarangan, kicau burung, dan anak kucing yang pernah kenal denganku. Sesekali berteman pula dengan beberapa lembar buku yang kupangku dengan rapal yang terbata-bata. Aku membaca dan bertutur, sebelum anak seusiaku masih dengan gestur dan ababa-bibu meminta ini-itu.

Setelah merasakan bangku sekolah, aku juara kelas. Setelah naik kelas dua, aku mengeluh pada ayah dan ibu, ingin pindah. Saat ditanyai ibu alasannya, aku hanya bilang tidak suka dengan sekolah itu. Setelah ditanyai terus, alasanku tetap sama aku tidak suka sekolah itu. Padahal alasannya lantaran seorang kakak kelas--anak laki-laki--dari desa tetangga melempariku dengan kerikil. Dia tidak suka sebab aku menjadi idola di sekolah. Aku kerap dikerubuti teman sekelas, bahkan kakak kelas satu tingkat, dua tingkat dan seterusnya. Mereka mungkin suka rambutku yang berbau tancho. Kakak kelasku yang itu mungkin tidak suka. Beruntung akhirnya ayah dan ibu mengerti dan aku pun dipindahkan ke SD Negeri III Passi, yang jaraknya pun persis sama dekatnya. Hanya di sekolah yang ini aku harus berjalan membelakangi matahari. Hangatnya kini di punggungku.

Di sini, aku mulai akrab dengan mereka; guru, murid, dan pemilik kantin. Aku tetap masih menjadi juara kelas dan idola para guru. Waktu bergulir, hingga pupus sudah masa seragam putih-merah. Hingga lulus, aku tetap juara bertahan meninggalkan piala dan piagam pada ajang lomba cerdas-cermat, mengarang, melukis, dan baca puisi.

Sedari kecil, aku kerap bermimpi terbang dengan sekujur tubuh menggigil geli. Mimpi yang bahkan setiap pekan, bulan, hadir begitu saja. Pernah kuceritakan ke ibu lalu katanya itu pertanda sebab aku istimewa. Mungkin ibu benar; rasa senang, geli saat di udara, dan geram sebab mimpi telah usai dengan goncangan lengan ibu, adalah pertanda aku bakal meraih sesuatu yang memang telah aku perjuangkan. Menang dan melayang.

Setelah lulus SD, aku didaftarkannya ke SMP Negeri II Passi yang letaknya di desa tetangga. Kakak kelas yang menjadi alasanku pindah sekolah dulu, tinggal di desa itu. Pikirku, bakalan ketemu dengannya lagi. Benar sudah, dia si remaja laki-laki dengan jabatan ketua OSIS yang penuh kuasa saat itu. Namun ada yang berubah sebab meski dia mengenaliku, perangainya tak seburuk kala di bangku SD. Dia si anak nakal yang pintar dan aku si anak penurut yang pintar.

Di sekolah ini, aku masih juara. Lomba demi lomba serupa kuikuti; cerdas-cermat, mengarang, dan baca puisi. Aku mengenal lebih dekat Chairil Anwar di bangku SMP. Saat di SD, meski perpustakaannya tidak begitu lengkap. Kemudian, aku mewakili sekolah di ajang lomba baca puisi yang seingatku berlangsung di halaman SMA Islam Kotamobagu. Di sana, seragam putih merah, putih biru, putih abu-abu berbaur. Puisi Charil, Aku, kubacai dengan lantang.

Kalau sampai waktuku/ 'Ku mau tak seorang kan merayu/ Tidak juga kau/ Tak perlu sedu sedan itu.

Aku juara satu untuk tingkat SMP.

Sebulan kemudian di lomba cerdas cermat tingkat SMP se-Bolmong, aku dan dua kakak kelasku sebagai pendamping kanan-kiri turut serta. Aku pembicara dengan materi lomba pelajaran umum. Kami mengalahkan perwakilan SMP Negeri I Kotamobagu di babak final. Sekolah elite kala itu setingkat SMP. Tuan rumah pun mereka. Kami bersorak saat dewan juri memutuskan kamilah pemenangnya. Kami mengalahkan anak si dokter ini, si pejabat itu, dan si polisi ini.

Kemudian kelas dua SMP teman-teman sekelas berubah. Untuk mereka yang tergolong pandai, disatukan ke kelas 2A. Aku menemukan saingan dan perebutan juara kelas menjadi sengit. Aku masih tetap juara kelas namun di caturwulan berikut aku peringkat kedua. Berikutnya aku kembali juara kelas. Hingga aku terpilih sebagai ketua OSIS.

Naik ke kelas tiga formasi kembali berubah. Aku tetap di kelas 3A bersama saingan-saingan semasa kelas satu dan dua. Hingga ujian akhir, NEM kami tertinggi se-Bolmong, aku dan dua teman sekelas. Guru-guru bangga dan melepas kami dengan tangis. Bukan aku lagi yang menjadi idola, tapi kami, angkatan kami, dan itu tercatat sebagai prestasi sepanjang masa. Nilai Ebtanas murni tertinggi se-Bolmong.

Lalu SMA Negeri III Kotamobagu jadi pilihan ibu, bukan pilihanku. Aku yang terlalu lama menghirup bau matahari pagi, pepohonan, dan udara murni, kini harus beradaptasi dengan hiruk pikuk perkotaan, semrawut rumah di lorong-lorong, ramai pasar, dan lalu lalang kendaraan yang kurasai menghimpit dada.

Aku ditempatkan di kelas 1A. Binsus istilahnya untuk kelas bimbingan khusus. Teman sekampungku yang kukenal baik, semuanya kelas tiga. Aku sendiri di bangku kelas paling belakang, sebab minder dengan gaya-gaya borjuis di sekitarku. Cerita mereka tentang musik, merek tas, sepatu, dan bolos.

Aku mulai bosan. Jam istirahat kuluangkan dengan berbaur bersama kakak-kakak kelas yang adalah dua kerabat dan satunya lagi tetangga. Aku berkawan dengan geng sekolah kala itu, sebab kedua kerabatku itu termasuk dalam daftar orang paling disegani di sekolah, bahkan di sekolah lainnya.

Kudapati dunia yang begitu liar, begal, dan penuh begundal. Aku terbawa arus dan juara kelas hanya jadi memori di bangku SD dan SMP. Nilaiku jatuh memacak di rapor yang kerap kusembunyikan dari ibu. Aku memilih pindah baru pada caturwulan II, sebab daftar hadirku pun hampa memutih.

Saat pindah ke SMA 4 Kotamobagu, aku diantarkan ayah dengan wajah muram. Tersisa murka di guratan dahi dan bola matanya. Aku hanya terus menunduk hingga kegagalan serupa mengulang. Sebab musababnya sepele, aku didaulat menjadi ketua kelas mengalahkan pesaing anak 'negeri' (Genggulang). Dia tidak suka, lalu menghasut puluhan temannya untuk mengejarku. Kemejaku dirobek kawat duri pagar sekolah setinggi dua meter. Aku melompat dikejar puluhan orang yang entah oleh sebab apa.

Kemudian, aku menjadi siswa berseragam putih abu-abu penghuni terminal yang pertama datang dan terakhir kali pulang. Ko' Cao', Sipatuo, WC umum pasar, jadi tempat tongkrongan rutin. Uang jajan kuhabiskan di sana. Ayah dan ibu, dari informasi tetangga akhirnya tahu aku bukan lagi si bocah berminyak rambut tancho, yang rambutnya tersisir rapi ke samping. Aku kini remaja berambut urak-urakan, dengan celana dan kemeja bergambar simbol peace, Slank, Sepultura, dan Guns 'n' Roses. Apa yang keren pasti dicoretkan ke seragam, dari bawah lutut hingga ke kerah kemeja.

Aku berubah dari bocah penurut yang selalu tepat waktu berangkat dan pulang sekolah, menjadi remaja yang jarang pulang ke rumah. Seragam sekolahku yang lain dikunci ibu di lemari. Hanya sepasang seragam yang penuh coretan membalut raga. Aku ini binatang jalang/ Dari kumpulannya terbuang.

Aku pindah sekolah lagi tanpa sepengetahuan ayah dan ibu, yang memang saat itu tak mau tahu lagi denganku. SMA Muhammadiyah menjadi pilihanku. Gokil, di bangku kelas dua hanya ada kami bertiga. Di ruang kelas ada tenis meja tempat si guru menunggui kami. Jika hanya seorang yang hadir, maka diajaknya untuk berkeringat ria dengan main tenis meja. Sialan.

Waktuku tersita jauh lebih banyak di terminal. Teman-teman seangkatanku telah kelas tiga. Aku yang kala bocah selalu unggul kini ketinggalan kelas. Mimpi melayang pun tak pernah hadir lagi sejak SMA. Aku tercenung, mungkin ibu benar. Aku tidak lagi istimewa.

Tak lama, aku pindah ke SMA Islam yang dijuluki SMA SLANK, akronim dari sekolah lawer asal naik kelas. Aku kelas dua di saat seragam teman seangkatan berwarna-warni. Saat pesta kelulusan mereka, aku berbaur dengan kebahagiaan namun ada sedih di sudut tawaku. Hingga akhirnya, aku putus sekolah. Aku hanya menikmati ijazah ujian persamaan yang dramatis dan penuh rahasia.

Kini, sekolahku alam raya. Aku menemukannya di desaku sendiri. Tak jauh dari tanah lapang yang kerap kulewati saat pertama kali melangkah dengan degup dan gugup. Setidaknya kini aku jauh lebih merdeka tanpa secuilpun rasa sesal, meski pernah sekali mengingat perkataan ayah, yang hendak menitipkanku ke perguruan tinggi di akademi gizi di Manado.

Ayah paham betul pelajaran kesukaanku itu; biologi, fisika, dan bahasa Indonesia. Nilai tertinggi sejak SD ialah pelajaran membelah dirinya amuba. Pada akhirnya ayah benar, aku terus membelah diri dari Kristianto yang dipungutinya dari nama pebulu tangkis legendaris Christian, menjadi Yanto, Anto', Kris, 83, Ya', Yakuza, Atol, lalu menjadi Sigidad.

Aku terus melangkah, menikah, bercerai, berpetualang, lalu kembali pulang. Rumah memang selalu menjadi alasanku untuk bisa mendekam nyaman.

Aku tak berhenti, meski puluhan pekerjaan berganti rupa.

Biar peluru menembus kulitku/ Aku tetap meradang menerjang/ Luka dan bisa kubawa berlari/ Berlari/ Hingga hilang pedih peri/ Dan aku akan lebih tidak perduli/ Aku mau hidup seribu tahun lagi.

Sebenarnya aku tidak ingin menjadi dewasa, biar ibu masih menyisiri rambutku dan meminyakinya dengan tancho milik ayah. Aku ingin rasai hangat matahari di punggungku lagi.