Wednesday, August 5, 2015

Menu7u Graha Pena

"Saya hanya lulusan SMA."

Ucap itu yang berdenging di telinga, terus dan menerus. SMA, akronim dari Sekolah Menengah Atas yang, kalau standarisasi menjadi wartawan di Jawa Post Group (JPG), SMA memiliki nilai 7-lah. Lumayan tidak aman. Sebab di sini harus sarjana. Bahkan bukan hanya di sini (JPG), Kompas Group, Tempo, lebih harus begitu. Sarjana.

Ingat saya, saat di-interview Fauzi Permata yang sebagai Pemred Radar Bolmong (RB), setahun lalu.

"Di sini memang harus sarjana."

Saya hanya berusaha tetap tegap, namun datang rasa kecil melahap.

Lalu kenapa saya bisa di RB? Jawabannya karena saya bisa menulis. Itu saja. Semua orang memang bisa menulis (lihat daun jatuh, tulis!), Fauzi lantas bertanya apa nama blog di mana tempat saya mencurahkan tinta pena. Saya mengeja Ge-tah Se-mes-ta kala itu. Dicarinya dan dibacai. Pikir saya dalam hati, "Awas kena getah." He-he-he.

Ah, akhirnya saya diterima. Wapemred Firman Toboleu mengangguk pula. Lega saya. Tanya dari Fauzi yang terakhir terdengar tegas. 

"Anto' (pakai koma) apakah kamu bisa dan siap menerima sistem yang ada di Radar Bolmong?"

Sepuluh jemari saya saling merangkul di atas paha kanan, lalu kugoyang-goyangkan sedikit untuk menghilangkan gugup. Iya, jawaban saya bakal merubah Sigidad dari wartawan media elektronik di www.lintasbmr.com kemudian ber-nomaden ke www.pilarsulut.com, lalu menjadi wartawan koran harian RB. Terbesar di Bolmong Raya loh. Ini pohon besar, sudah banyak diterpa angin kencang pula. Tapi nyatanya tetap kokoh. Tegar! (sembari mengacung).

Lalu, pelan dan pasti saya menjawab dengan segaris tanya, "Bagaimana saya bisa siap dan menerima sistem yang ada, jika saya belum menjalaninya? Maka saya harus menjalaninya terlebih dahulu!"

Ada seru di situ. Seru itu pertanda semangat yang keras dari Sigidad yang dikenal pemalas.

Saya tercacat sebagai wartawan magang, tepat hari ulang tahun ke-6 RB. Wuih, momen tercatat dengan tepat Sigidad.

Sambil menenteng kamera merek Harry Tri Atmojo (Mas, red), saya mulai jepret sana, jepret sini. Foto-foto lepas jelas Mas. Eh, tersaring dan nangkring di halaman. Bangga saya kala itu, apalagi tercatut nama Anto Radar Bolmong di sana. Akhirnya impian bisa di koran besar tercapai. Impian saya untuk melangkah menjadi JURNALIS.

*

Dalam setiap perusahaan media, jelas ada banyak wartawan. Tapi, mungkin hanya RB yang memiliki satu wartawan perempuan yang aneh bin ajaib. (ukuran dalam jangkau pergaulan dan wilayah perjalanan hidup saya). Namanya Roslely Sondakh. Biasa dipanggil Eling. Kalau di Eropassi (Desa Passi tempat asalku), Eling itu seorang laki-laki. Ha-ha-ha-ha! Padahal Eling ini cantik loh, tole' le.

Terus Sondakh-nya dari mana ya? Tanya yang kerap membikin seteru antara Sondakh Vs Mamonto di dapur redaksi. Pasra Hidayat Mamonto atau si gembul Eges pernah digampar hanya gara-gara ejek-ejekkan marga. Saya memilih lari meski pernah satu dua kali terpaksa meladeni mulut bawelnya Eling. Namun Eling meski sendiri, tak mau kalah dikerubuti Mamonto Cs. Ada Pasrah Hidayat Mamonto, Rusmin Mamonto, Gufran Mamonto, sama Radar Mamonto.

Di kantor, jika Anda mendengar cekikikan seperti kuntilanak beranak, maka itu pertanda Eling telah datang dari berburu berita berdarah-darah. Liputan apa coba? Penjahat, rusuh, cabul, tilang, tikam, bunuh. Ha-ha-ha-ha.... Eling tak mau luput atau bobol berita crime. Jika data kurang; kepalanya tegap, cemas, mata liar, lalu mengisap rokok dengan ritme cepat (wuitttss sensor). "Pemar le!" ketusnya.

Eges pun demikian, tak kalah cemas. Pernah kutanyai, "Eges sudah berapa beritamu?"
Kilat kulit wajahnya yang disapa temaram layar laptop, lusuh menjawab, "Sudah sepuluh." Ha-ha-ha-ha-ha.... Halaman dalam, penugasan, dan berita tambahan. Aih, di dapur redaksi itu kejam bro! Jangan berharap tugasmu selesai, lalu menghilang seperti gaya senyap-senyap mafioso-nya si Muri. Setiap mata, telinga, mulut, menjadi awas. Ada informasi apa saja, Ruuuunnnn Craaabbbbb!! Ruuuunnnn!!

Oh, ya, kita tinggalkan dulu hingar di dapur redaksi. Ngomong soal pendidikan saya yang hanya SMA, Eges dan Eling ini anak kuliahan di Universitas Dumoga Kotamobagu (UDK). Eling sudah diwisuda lalu menyandang sarjana pertanian. Hmmm.... Mau bertani di mana Eling? Bakatmu itu jadi wartawan. Cerewet dan cermat.

Sementara Eges memilih tetap fokus dengan pekerjaan yang, menurutnya bisa mencerahkan masa depannya. Secerah layar ponsel yang kerap digonta-gantinya itu. Android Oppo miliknya malah kini jadi ponsel 'kesombongan' saya saat ini, untuk ber-CoC dengan TH 9 cacat! (nyombong kok pake Oppo, boleh, boleh, Ha-ha-ha-ha). Eges pun akhirnya mengaku ia hanya lulusan SMA, sebab kuliah tak berujung. Sudahlah Eges, terus latih menulis. Pramoedya Ananta Toer saja hanya berakhir di bangku SMP kelas 2 tapi malah dapat gelar doktor.

Terlalu banyak ketawa, sampai lupa saya sudah setahun di RB. 6 Agustus 2008-2015, 7 tahun sudah kiprah RB di bumi Totabuan. Kemudian rindu ini tiba-tiba hadir di kenang dapur redaksi. Rindu kepada mereka yang telah datang dan pergi. Ada Sandi Mokoagow (yang ngajarin Eges menulis berita), Fredi Saripi, Eling dan Ale (cocok disandingkan namanya di undangan nikah), Abdul Melangi Mewangi Sepanjang Hari, Rusmin Mamonto, Aping Manangin. Ada Renal anak iklan yang bercita-cita menjadi wartawan, namun setelah berkesempatan menjadi wartawan, bulat memilih melanjutkan kuliah (sangat konsisten).

Oh, ya, ada Mul Pontororing yang juga suka tertawa bersama di dapur redaksi, rebutan colokan, yang akhirnya ikhlas mengalah karena dia bukan anak negeri, ha-ha-ha, padahal tak perlulah kalimat itu meng-ada, sebab kita semua anak Indonesia (ini cerita fiksi, karangan saya). Jadi ingat lagi Pramoedya Ananta Toer yang paling alergi dengan ego kewilayahan. "Aku bukan Jawa dan ogah berbahasa Jawa. Aku orang Indonesia!"

Jika saya gembungkan ke skala bumi, yah, saya ini anak bumi, jadi tidak ada kata yang mengklaim atau meringkus saya ini sebagai anak pribumi ini dan itu.

Saya (kita) kan, lahir di bumi, bukan? Jadi tidak ada yang namanya penduduk pribumi Aceh atau penduduk pribumi Papua. Kita semua penduduk BUMI MANUSIA.

Oke, terlalu serius, kita teruskan ke CoC, eh, ke Egesnya. Iya, saya dan Mul terkena dampak agitasi propagandanya Eges, yang menyolokkan flash disk ke laptop kami. Akhirnya game CoC menghijau di layar laptop lewat aplikasi android bluestacks. Dengan koneksi internet yang super cepat, saya dan Mul berlomba-lomba siapa yang duluan mentok base, TH, troops, dan lain sebagainya. Kebayang main CoC pakai satu telunjuk atau mouse? Ehu!

Game menjalar ke segala sudut ruang meski hanya di waktu luang. Namanya kerja, harus kerja dulu. Berita selesai, baru bisa main game. Siap Bos! berita usai sudah (tangkis). Kerja keras demi ponsel android, demi main CoC. Ha-ha-ha-ha.

Tak berselang lama, kabar itu datang. Mendebur dada kami saat mendengar, JPG diharuskan memiliki maksimal tiga pewarta yang pure news. Tidak harus ditargetkan ini dan itu. Hanya berita.

Tiga terbaik itu akhirnya diputuskan, Eling, Eges, dan Anto' (Aih, saya euy, saya, Sigidad euy, bangga).

Tes, tes, dan tes, dilakukan Pemred Fauzi dan Wapemred Firman. Pertanyaan demi pertanyaan dilempar. Ha-ha-ha-ha... Sialan! Eling membikin kacau ruang saat 'diinterogasi'. Gelak tawa, muka merah, kepul asap, dan segalanya menebal di ruangan. Tak ada yang tersisa. Hanya kekeluargaan. RB memang telah menjadi keluarga besar kami, seiring dengan tawa-tawa renyah dan geram meledak. Mana berita!! Deadline!! Cepat rapat proyeksi!! Kami sudah terbiasa. 

Setelah itu, kami bertiga menunggu. Menunggu. Cemas. Ingin jadi wartawan liputan khusus. Jadi? saling tanya. Kapan? Hingga....

Seminggu kemudian pagi berkabut. Dengan mata merah saya dan Eges terbangun. Ponsel berdering, kami harus berangkat sekarang juga ke Graha Pena Manado. Seluruh anak media Manado Post Group (MPG) sudah datang dari pelosok. Gorontalo Post, Radar Gorontalo, Luwuk Post, Maluku Utara Post sudah tiba. Radar Bolmong masih tidur. Ha-ha-ha. Cusssss!!! Dimodalin Bos!!!
Terlambat!

Radar Bolmong sudah rapor merah, terlambat pula. Namun langkah kece tegap memasuki Graha Pena. Eling jadi penunjuk jalan, sebab ia pernah "divaksin anti rabies" di tempat ini.
Memasuki ruangan di lantai 5, kami tinggal mendengar lentingan materi penghujung. Hingga esok hari materi lanjutan diajarkan, lalu pada hari ketiga kami ditugaskan ke lapangan. Panjang ceritanya. Bisa sebuku. 
Tapi begitu leganya, saat liputan Radar Bolmong yang akhirnya terpilih terbaik dan dicetak di Manado Post. Halaman satu coy! Itu bukan tulisan saya, tapi tulisan dari hasil kerja team work kami. Saling tanya antara saya, Eges, Eling, dan kawan-kawan lainnya. Hasil liputan dari tim yang kami namai MaLuBoGo (Maluku Utara Post, Posko Manado, Luwuk Post, Radar Bolmong, dan Gorontalo Post), iya Manado Post, Radar Manado, dan Radar Gorontalo tak ada yang mewakili pelatihan. Ada kredo dari MaLuBoGo yang kurangkai sendiri, akronim pula dari MaLuBoGo, yaitu "Malu bertanya jadi bogo-bogo (bodoh)" Ha-ha-ha. 

Usai pelatihan, kami pun dijuluki Kopasus. Pulang dan bertugas sebagai Kopasus memang berat. Liputan kami apa saja asal harus yang meng-etalase.

Setelah itu, bulan, pos liputan, dan tawa silih berganti. Ah, RB. 7 tahun sudah, 1 tahun usai. Kami dibentuk agar bisa saling mengerti, membantu, dan kerjasama. Kini mereka yang datang dan pergi itu meninggalkan kenang. Yang tersisa (capek nyebut satu-satu, banyak nama akun CoC-nya, ha-ha-ha-ha) akan 'Menu7u Graha Pena'.

Happy Anniversary!!

Ah, rindu digebukin Eling dan ditawari ponsel terbaru Eges.

Arah bisa beda, tapi tuju tetap sama. Biarkan pena menuntun kemana tujuan kita. Berbeda ruang, tapi kita masih bisa saling sapa dan ajak, bukan?

"Ayo, kita makan jagung rebus lagi!"