Tuesday, August 11, 2015

Selamat Ulang Tahun, Kats!

"Dapa lia pa Uwin (lihat Uwin)?" teriak Kak Tince (Titin Mokodongan, kakak perempuan Uwin).
"Tadi di sini Kak!"
"Burein (sialan), Kak pe kous ketat karamba dia dapake (kaos ketat belang-belang milik kakak dipakainya). Ugat bi' tumon Slank (maunya seperti Slank). Pe mahal tu kous eh! (Mahal kaos itu)."
Ha-ha-ha-ha.
Uwin memang sejak tahun 1998 berambut gondrong. Tubuhnya ceking dibalut celana jeans ketat, robek, belel agak kumal, dan tentu saja, kaos-kaos yang sebagian hasil curian dari lemari kakak perempuannya (fakta di atas). Sepatu converse-nya pun kumal. Di Villa Putih Kleak Generasi 98, oleh kawan-kawan di situ, ia disapa Slank. Meski di tembok kamar, ada Sepultura terlukis di dinding.
Kampus Samratulangi Manado adalah markasnya. Tentu di Mapala Avestaria. Usai turun gunung dan susuri lembah, sepenggal-sepenggal waktunya ia seretkan ke Lorong Hitam (Scene Punk 'n' Skin Manado belakang Gedung Joeang). Puisinya juga menggelegar di Balai Wartawan Indonesia dalam Gigs (music party) Punk 'n' Skinhead, depan Gedung Joeang. Pun di Gedung Pingkan Matindas. Ia adalah Anarko tanpa fashion yang melekat pada Punker; Mohawk, Boots, dan puluhan Emblem. Sebab memang ada pameo yang mengatakan; Setiap Anarko belum tentu Punk, tetapi setiap Punker pastilah Anarko. Pernah sekali dua saya diajaknya ke Lorong Hitam, belakang BRI, SMA Panca' dan Pingkan Matindas. Debat pernah hebat-hebatnya di sana.
Saya sempat bertanya, "Ada apa dengan Slank?" Ia menjawab, "Mereka sudah mengaku khilaf dan taubat." Karena jawabnya begitu, maka debat nan hebat (terkadang melelahkan) cepat tersulut.
Ya. Seperti itulah adanya Kats (Ketua). Kats adalah julukan yang melekat usai gedung kembar World Trade Center (WTC) di New York dihantam pesawat yang katanya dibajak teroris. Sebab pada Selasa 11 September 2001, melalui Musyawarah Anggota, Komunitas Pecinta Alam Bolaang Mongondow Lestari (KPA Bomlest) dibentuk. Dan sesuai kesepakatan bersama, Uwin didaulat sebagai Ketua. Ter-mintahang-lah sapaan Kats padanya.
KPA mulai mati suri beberapa tahun lalu semenjak anggotanya bertambah umur, mulai 'dewasa' dan  sibuk dengan urusan rumah tangga dan pekerjaan.
Ah, seharusnya memang jangan pernah dewasa, lalu hidup seperti Spongebob di dasar laut, yang tak mengenal tua dan tetap bahagia. Biarlah masa lalu dan masa depan, hanya bagian dari petualangan angan. Imaaaajiiiiinaaaasiiii (ucap Spongebob sembari melukis pelangi dengan jemarinya).
Usai menamatkan kuliah ia mengarungi laut menuju Gangga, sebuah pulau nan indah beberapa mil dari Bunaken. Uwin kala itu gemar berbahasa asing; mercy, danke, grazie, va bene, katanya kepada turis-turis bermata kucing. Di sebuah resort milik orang Itali Sisillia, ia bekerja di Diving Center, sebagai guide snorkling and diving. Terkadang disuruh memboyong tamu-tamu mata kucing ke luar pulau menyeberangi lautan menuju pasar dan puncak Mahawu.
Sebagai anak di Diving Center, itulah mungkin salah satu alasannya di kemudian hari memilih lumba-lumba (dolphin) sebagai tato. Tiap pulang cuti, lagi-lagi saya diajaknya ke Lorong Hitam. Lalu kulit coklat kegosong-gosongan karena terbakar matahari, yang pernah ia bangga-banggakan itu, tak bertahan lama. Ia memilih pulang.
Uwin, mungkin baginya, kebersamaan adalah kekekalan abadi meski kita telah menjadi fosil. Untuk itulah di punggung kanannya bertengger tato belulang Garuda yang, tengah mencekeram tulang (seolah pita) bersemboyan 'Bersama Tinggal Iga'.
Kebebasan pun tersirat dari tato dolphin bermata kosong dengan benjolan sastra di kepala, yang menyembul dari kulit lengan atas kirinya. Dolphin yang selalu ingin memenuhi mata kosong dengan segalanya. Garuda dan dolphin, dua tato itu terajah di tubuhnya. Bersama dan bebas merdeka. Slank, telah bertransformasi menjadi Skinhead (Ia mengaku Skinhead Anarko).
Meninggalkan Sepultura ketika Max Cavalera hengkang sejak 98. Ia lalu memakai Boots, celana yang tetap Stapress, memangkas rambutnya hingga plontos, lalu teriak riuh rendah chaosnya Gigs. Oi..Oi..!!
Di lorong-lorong hitam Gedung Joeang, kami pernah berkejar-kejaran dengan polisi dan anjing.
Hingga kemudian hari ia memutuskan untuk menikah dan lahirlah Chaskin. Putri lucunya. Silih berganti hari, bulan, dan kenangan. Ia menjual habis dua gudang berisi kendaraan lalu menolak ke Lombok oleh sebuah promosi atas kinerjanya. Ia memilih masuk arena politik. Satu-dua teman di komunitas menentangnya. Tapi Kats tetap maju. Selanjutnya ia rutin menulis.
Segalanya berubah. Garuda dan Dolphin dijeruji. Tapi apa artinya kebebasan jika tak pernah merasai terkerangkeng? Kemudian ia memutuskan kembali melompati samudera, lalu berkejaran dengan bayang-bayang.
Tahun berjalan membawa kisah kembali ke rumah kopi di sudut jalan dan pelukan siluet pepohonan Kotamobagu. Baginya, di mana ada kopi, alkohol, dan cerita, di situlah persinggahan. Hingga perjalanan membawanya kini menjejak di Pulau Dewata, Bali.
Jika sanak-saudara, handai taulan, berlomba-lomba melirik jarum jam berdentang di angka dua belas (meski yang lainnya lupa karena sibuk dengan 'kedewasaan' masing-masing), saya memilih hari ini untuk mengucapkan selamat hari ulang tahun, Kats (8 Agustus). Tak banyak yang harus saya tulis.
Sulang!! Untuk kebersamaan dan kebebasan!!