Saturday, March 28, 2015

Berpulang

Ayah duduk di tepi ranjang dengan napas memburu berdahak. Tak jelas apa katanya. Suaranya seakan retak.

Isyarat lambaian mengarah ke kamar kecil. Kupapah ayah lima kali langkah. Tak ada yang beda, rengsa serupa kemarin.

Ayah menyudahi hajatnya. Setelah itu, raganya tiba-tiba melemah dan memberat saat kupapah. Seperti para malaikat mengelilingi ubun-ubunnya lalu menjatuhkan sepetak surga. Terbaring, bola matanya terus mencoba mengejar apa yang ada di atas kepalanya. Kupanggil, namun malaikat-malaikat itu terus menggoda. Sebuah isyarat cepat kutangkap.

Kulit keriput itu membiru, dengan desah masih memburu. Kakakku berupaya menenangkan ayah. Setelah kalah dengan cemasnya, ia bergegas memapah ayah menuju mobil lalu menuruni bukit, menuju perkotaan. Meski ibu pernah diperingatkan ayah. Tak perlu lagi katanya. Cukup di rumah saja.

Dua telepon dari kakakku terhubung. Ayah butuh oksigen yang, rumah bagi para orang sakit tak menyediakannya. Iya kakak, rumah itu tak senyaman rumah kita. Di sini udaranya gratis. Makanya ayah tak mau lagi ke sana.

Telepon ketiga menyusul. Ayah berpulang. Aku tak kaget, bahkan tak menyusul ke sana. Aku menunggu di rumah saja. Dengan debur dada retak di karang.

Berpulang. Entah siapa pengeja kata itu hingga bermula. Jika kita benar-benar berpulang, kenapa harus ada neraka untuk menakuti. Kita berpulang, ke tempat kita berasal, bukan? Tempat yang tak satu manusia pun tahu, setelah manusia itu benar-benar berpulang.

Ah, ayah... Terima kasih sudah membangun rumah dengan cinta, menganyamnya dari peluh dan kasih seluruh, agar kami tak cemas kala panas dan hujan, pun tahu ke mana arah pulang. Ayah bukan sekadar membikin rumah. Ayah membangun sepetak surga untuk kami. 

Pemilik Semesta. Jika benar ayahku berpulang, sediakan tempat yang layak untuknya. Sebab rumahMu memang untuk sesamaMu. Tempat segalanya berulang.

Sunday, March 8, 2015

Geram Gagap yang Salah Sasar

Hari masih menyembulkan matahari dari balik gunung Ambang setiap paginya. Sama halnya dengan chat-chat yang terus menyembul dari kolom BBM, setiap, pagi, sore, malam, jam, menit, bahkan detik. Ada yang menarik, tulisan edisi kedua Kronik Mongondow, menyoal Akper Totabuan terpacak satu persatu-satu.
Si mahasiswi Nova Soputan yang konon asalnya dari Ratahan, Mitra, terus di-bully di media sosial. Bahkan para pem-bully rasa-rasanya ingin menumpahkan lahar dari muntahan letusan gunung Soputan, hanya untuk memuaskan nafsu tonteek-nya.
Mayoritas pem-bully memang, sebab Mongondow selalu nyaman dengan tonteek dan pololeke. Tapi, kenapa yang mayoritas selalu menjadi patokan, untuk kita menilai adab sosial?
Publik Mongondow, pada akhirnya tersesat di paradoks logika Kota Kreta si filsuf Epimenides (abad ke-6 SM). Ia berkata, "Semua orang Kreta pembohong!" yang jika pernyataan itu benar maka ia berbohong, sebaliknya jika itu salah maka ia benar. Kenapa saya korelasikan dengan si Mahasiswi Vs Publik Mongondow?
Publik Mongondow memeras otak untuk mem-bully Nova. Padahal yang mereka lakukan, secara tidak langsung membombardir keluhuran adab Mongondow itu sendiri. Atau sudahlah, ada berapa dari kalian yang pernah keluar kota, lalu pernah menjawab asal Manado saat ditanyai? Semoga alam bawah sadar, juga memori jangka panjang Anda masih mengingat (hayo ngaku). Selanjutnya, kenapa bully kalian tak nampak, saat anggota DPRD Kotamobagu, senang berleha-leha di Bali?. Yang lebih parahnya, Nova yang notabene dari suku lain, dipaksa untuk mengaku Mongondow. Salahkah? jelas ada paradoks logika meski berbeda konteks dengan Epimenides.
Pemirrrrsaaaa.... (Sambil meniru garau suara Karni Ilyas, presenter Indonesia Lawyers Club). Apa salahnya juga, jika ke-120 mahasiswa/mahasiswi Akper Totabuan itu, ingin berleha-leha di acara Dahsyat? Sesudah penat dengan tetek-bengek praktek? Atau bisa jadi, senyum Raffi di pagi hari bisa menambah semangat mereka.
Dikabarkan Radar Bolmong, mahasiswa-mahasiswi ini diberangkatkan 28 Februari 2015. Lalu praktek terhitung sejak 2 Maret hingga 15 April 2015 nanti.
Selain itu, mereka juga melakukan penelitian untuk karya tulis ilmiah. Sebab, itu menjadi salah satu syarat mereka untuk menamatkan studi mereka di Akper Totabuan.
Menyoal kejijikkan salah satu anggota DPRD Sulut. Saya mungkin lebih jijik dengan, keberangkatan enam anggota DPRD Kotamobagu yang tergabung dari fraksi Partai Amanat Nasional (PAN), yang konon ke Bali dalam rangka menghadiri acara Musyawarah Nasional (Munas), namun diduga-menyaru-menggunakan dana APBD.
Kenapa bukan mereka yang di-bully? Geram ini salah sasar. Sepele. Atau mungkin publik tengah keasyikan berpesta di Sky Garden. Ha-ha-ha-ha....
Saya semalam mendengar rekaman gemuruh teriak mahasiswa/mahasiswi Akper Totabuan. Studio Dahsyat bergetar saat mereka meneriakkan, Akper Totabuan!!!!! Bukan Akper Manado.

Dahsyatnya Tonteek dan Pololeke

Puluhan hujatan saling jejal di recent updates BBM. Bersikut-sikutan, gonta-ganti display picture, dengan meme hujatan dan sindiran dilengkapi kepopuleran "di situ kadang saya merasa sedih."
Sindiran itu ditujukan kepada segenap insan mahasiswa/mahasiswi Akademi Keperawatan Totabuan Kotamobagu, yang berkesempatan nongol di acara Dahsyat RCTI, Minggu 8 Maret 2015.
Saat salah satu mahasiswi mengaku asal Manado saat ditanya presenter acara, sontak membikin geram penulis kawakan asal Bolmong, Katamsi Ginano. Pun disusul dengan kalimat-kalimat satire di blog Kronik Mongondow.
Usai di-broadcast, puluhan kontak lain bergegas gagap. Kolom chat saya penuh dengan pesan berantai. Bukan hanya itu, même di BBM mengalahkan même seteru Haji Lulung Vs Ahok. Ini ramai, enggan menyebut asal Mongondow atau mungkin faktor kebiasaan menyebut Manado sebagai Ibukota Provinsi, membuat mahasiswi itu jadi bulan-bulanan.
Ke-Mongondow-an kita, tonteek dan pololeke yang, telah menjadi ciri khas Mongondow, terkadang perilaku itu menempa kita menjadi orang yang gemar meng-hiperbola-kan suatu kesalahan. Pada akhirnya, kita tumbuh dan besar menjadi pribadi pengolok-olok. Apapun itu, mengolok-olok lebih kejam dari tak sengaja - mengaku - asal Mongondow. Siapa bisa menjamin? Jika mahasiswi itu benar-benar tak ingin menyebutkan asalnya dari Mongondow? Bisa jadi ia gugup saat pria seganteng Raffi Ahmad bertengger di hadapannya. Atau sebab lebih familiarnya kota Manado, membuat alasannya menyebut Manado agar terawang Raffi lebih mudah, tak sibuk menerka dengan dahi mengernyit, di durasi waktu yang begitu sempit. Lagipula Akper Totabuan mahasiswa dan mahasiswinya beragam suku. Bukan hanya Mongondow.
Nah, kembali ke hujat menghujat. Saat tonteek dan pololeke itu dilakoni, seolah debur dada kita bahagia dengan ketertindasan si manusia yang di-tonteek. Tak bisa dipungkiri, saya pun sering terlibat dengan tonteek dan pololeke, namun sebatas celoteh persekawanan yang bahkan berusaha tak memeloroti luhur etika berbahasa Mongondow. Konon, saat kakek saya menjabat sebagai Sangadi di Desa Passi yang masih kuno, kata kotor dan sindiran bisa membuat alasan seseorang itu disidang adat. Namun kala menilik Mongondow di era serba canggih ini, saya sulit membeda mana yang lebih beradab era sekarang atau era kuno Mongondow.
Hujatan yang tak lagi berbau humor-positif, atau menjurus ke penghinaan total malah menjadi suatu kebanggaan.
Saya ingin mencotohkan kalimat tonteek atau pololeke , kepada orang yang pesek hidungnya, dengan mengatakan, "Na 'polapa' inandol ngiungnya," terdengar lucu, berusaha disarukan, namun tetap saja mampu membuat si yang dimaksud jengkel. Ini kategori yang bisa disidang adat, meski berusaha disarukan dengan kalimat perumpamaan tingkat tinggi, namun berbau negatif.
Contoh kalimat tonteek yang semburat dari kawan-kawan, "bukang maen ngana pe motor e, depe pece so bole tanam akan bawang Modoinding," Satu kalimat tonteek dan pololeke yang dimaksudkan agar si pemilik motor, memerhatikan kebersihan. Ini kategori humor-positif.
Bukan seperti tonteek dan pololeke yang seliweran di BBM, ditujukan kepada mahasiswa/mahasiswi Akper Totabuan.
- "Olat monimuo aka mobui, brenbo (burein boke ') monimu."
- "Soe skali, padahal jaga makang yondog. "
- "Mangaku dari Manado kata supaya gaul."
- "Tutu mosoe-soe moikow, bagu natua doi 'don mangaku Mongondow."
Dan masih banyak lagi dahsyatnya tonteek dan pololeke di sana-sini. Padahal bukan tidak mungkin, di suatu kelak, saat kita sakit lalu dirawat di Rumah Sakit, ada si yang dihujat-hujat ini sedang merawat kita. Hahaha ....
Nah, jika mengaku orang Mongondow, ASLI, yo tonteek bo pololeke monimu nion tutu bidon moaid.
Saya pikir, standar penilaian ke-Mongondow-an pun bukan ditilik dari sepotong kejadian yang mungkin - tak disengaja - di acara Dahsyat itu .
Bahkan jika soal penghinaan ke-Mongondow-an, di saat kita menghujat berlebihan, adat dan kebiasaan Mototabian, Motompiaan bo Mototanoban, sirna sekejap.
Maka, intaw Mongondow so ikow?
(sambil mendengarkan rekaman gemuruh teriak Akper Totabuan di acara Dahsyat, yang dikirim salah satu teman)

Tuesday, March 3, 2015

Kos Kolam

Di dalam kamar terang ini. Cahaya seperti mengawasiku terus menerus. Sedari tadi, aku terjaga dengan kelopak mata membusung terang. Malam-malam kemarin pun terasa sama. Tidur jadi serupa kekasih yang selalu ditunggu.
Pandanganku menyapu langit-langit kamar. Segala sudut kuterlusuri. Jadi ingat kamar hitamku di rumah.
Iya, ini bukan kamarku. Tapi kamar kos yang kusewa setelah diterima bekerja di salah satu perusahaan media. Kantornya hanya sepetak halaman jaraknya dari kos ini.
Kamar ini langit-langitnya tak seperti kamarku. Karya seni di langit-langit kamar hitamku tingkat tinggi. Ada petak-petak sawah kertas kusam dan pematang tali rafia. Karya warisan kakak perempuanku, yang kini nun jauh di Pulau Borneo.
Di langit-langit kamar kos ini. Satu per satu debu mencuri nyawaku. Debu itu turun dengan senyap disaat lelap. Tapi sudahlah, biarkan debu itu kuhirup sejuta. Jika ini takdir, aku tak ingin berikhtiar. Biarkan saja. Aku terlalu suka dengan kamar ini, pun suasana sekitar. Kami—penghuni kos— diitari gemericik kolam dan hijau persawahan. Tidur memang jadi mudah di sini, tapi tidak denganku. 
Perempuan usia 40-an di samping kamarku cukup riang. Ia membikinku cemburu, bahwa usiaku yang jauh lebih muda, kenapa tak seceria dia? Sesekali, perempuan itu bercengkerama denganku. Pernah kupinjami uang bensin. Ia ikhlas, tak perlu ditukar katanya. Ah, tetap kutukar jika kuberuang.
Ritme kerja di media kubeber saja di sini. Awalnya, terbit matahari tiga jam kemudian mataku benderang.
Tapi sebulan kemudian.... Segalanya bisa kuatur sesuka hati. Waktu telah kupilah, kupilih dan kupolakan. Terang, pekerjaan jadi mudah.
Kembali ke kamar ini. Ruang 4 x 4 meter yang segalanya ada. Aku bebas telanjang sana-sini. Gelas, piring, kertas bungkusan nasi, tas kresek, dan puntung rokok leluasa kutabur. Segalanya merdeka.
Di sudut ruang ada tumpukkan koran. Bukan koran langganan, tapi yang tercecer merdeka di kantor, lalu kubawa pulang. Lima meter di samping kamar, gemuruh percetakkan mengaum. Pukul empat pagi, ia reda. Tapi sesekali gaungnya terbawa hingga ke mimpi, jika lelap telah meneluhku.
Teriak lelah para pekerja sering kudengar, namun itu tak seberapa dengan lelah kami. Pikirku begitu. Teriak kami di relung, lelah kami dipendam, bahkan letih kami terbungkus bungkam. Yang namanya wartawan di media ini, ah, tukaran berita dihindari. Ada sih, satu dua berita yang ditimang dari media lain, kebanyakan yang dikais sendiri. Intinya tak bobol. Sebab bobol adalah borok wartawan. Kata mereka.
Ah, Bolmong... Negeriku yang beragam. Bahkan kamar kecil ini bisa kau rembesi ratusan perkara. Menumpuk di sudut kamar.