Tuesday, January 12, 2016

Ekspedisi Gembira ke Batui



Saat kau menerima dirimu
dan berdamai dengan itu
kau menari dengan waktu
tanpa ragu yang membelenggu

Taifun dari Barasuara kusetel di pemutar musik di ponsel, usai kapal bertolak dari pelabuhan Gorontalo menuju Luwuk Banggai. Kami duduk bersantai di buritan saat itu, sembari menyesap kopi di cup plastik yang dipesan di kafetaria.

Pukul 9 malam, kami baru bisa berangkat, setelah menunggu dari pukul 5 sore. Ini adalah pengalaman pertama saya naik kapal laut. Sebelum berangkat tadi, kami bertujuh, saya, bang Jufri, Mat, Chris, Ivol, Arnold, dan Opan, yang menggenggam tiket kelas bisnis, merasa gerah. Setelah kami mendapati kelas bisnis adalah ranjang papan dua susun yang berjejer, tanpa kasur, dengan posisi kami berada paling bawah. Masing-masing dari kami hanya mendapat tempat seukuran sleeping bag, memanjang, dengan laci di atas kepala tempat menaruh barang. Kami macam di barak tentara.

Bang Jufri yang makin gerah, mengusulkan agar mencari tempat yang lebih nyaman di kelas VIP. Beruntung kami menemukan ada tempat kosong yang pemesannya tak kunjung datang. Deal. Kami diminta menambah uang tiket 30 ribu dari tiket sebelumnya yang harganya 95 ribu.

Di kelas VIP ada teve 24 inci. Difasilitasi pendingin ruangan pula. Meski berjejer di kasur, lumayan, asal tak segerah di kelas bisnis. Langit-langit kamar juga terlihat, bukan punggung dari ranjang susun. Di VIP pun tak bising sebab letaknya di haluan dan pintunya tertutup rapat. Seusai merapikan barang-barang itulah, kami menuju kafetaria di atas bagian buritan. Coba mencari udara segar.

Di kapal kesenjangan sosial sangat nampak memang. Dari kelas kardus, kasur, sampai yang berbilik. Bau keringat dan logam menyatu, meruap menebal di lorong-lorong dan tangga-tangga yang kami lewati. Orang-orang dengan segala nasib berserakan di lantai di antara kafetaria mungil dan deretan kursi. Orang-orang yang duduk berjejer, seperti sedang menonton pementasan nasib dari mereka yang rebah di kardus-kardus.

Kapal feri yang kami tumpangi ini kira-kira seluas dua kali lapangan futsal. Selama perjalanan itu, laut sangat berkawan. Tak ada ombak besar. Ketakutan saya untuk naik kapal hilang perlahan. Saya mulai menikmati perjalanan.

Setelah lama duduk berbincang di buritan, kami masuk menuju kamar lagi. Ada belasan orang di antara kasur-kasur lain, berjejer pulas. Saya mencoba rebah sejenak bersama Mat. Sedangkan yang lainnya memilih kembali ke buritan. Di saat itulah, beberapa kasur milik kami yang ditinggal kosong, tiba-tiba ditiduri tiga orang laki-laki. Yang satunya seorang marinir.

Opan yang baru saja dari buritan, mendapati tempatnya ditiduri seorang marinir berpostur Rambo. Ia hanya terus memelototi si marinir, dengan mata merah yang mengisyaratkan ia sudah sangat mengantuk. Sedangkan saya terus cekikikan melihat tingkah Opan yang serba salah. Saya sempat memotretnya. Ia lantas menuju buritan dan melaporkan hal itu ke Bang Jufri. Opan kembali ke kamar bersama Bang Jufri Cs. Dua orang laki-laki di samping saya dibangunkan. Sedangkan si marinir, masih tergolek diam, serupa singa tidur.

"Opan, kasih bangun jo!" kata Bang Jufri. Kami terus cekikikan, sampai seorang ABK datang dan coba membangunkan marinir itu.

"Oh, iya, maaf ya," kata si marinir. Ia lalu mengambil pistol yang diselipkannya di bawah kasur. Melihat tampang Opan saat itu, kami tambah cekikikan.

Setelah masalah si marinir beres, kami pun beristirahat. Dibuai ombak, kami tertidur dengan cepat dan pulas. Pukul 5 pagi, kami bangun menuju buritan lagi, untuk mengambil foto sunrise. Pemandangan indah terhampar. Deretan bukit-bukit di pulau seberang dan awan-awan seakan menyatu. Matahari dengan cantiknya menyembul perlahan.

Sunrise dari kapal feri, saat mendekati pelabuhan Pagimanan, Luwuk Banggai
Dua jam lagi kami akan tiba di Pelabuhan Pagimana, Luwuk Banggai. Selama itu, waktu banyak kami habiskan di buritan, dengan bercup-cup kopi, popmie, dan berbatang-batang rokok. Tak terasa, dari kejauhan dermaga telah nampak. Kapal bersandar dengan riuh para penumpang. Dari pelabuhan Gorontalo, perjalanan kami habiskan selama 12 jam. Sejak pukul 9 malam, tanggal 8 Januari, sampai tanggal 9 Januari, pukul 8 pagi.

Dua kawan kami Kadir dan Abdi yang bertugas menjemput belum tiba. Kami masih menyempatkan sarapan di warung makan di pelabuhan. Tak lama mereka berdua tiba. Usai makan, kami bergegas. Baru saja 30 menit perjalanan, kami dicegat puluhan mobil yang terparkir. Ternyata jalur yang kami lewati, sedang ada perbaikan jalan. Dan sialnya, kami tepat berada di waktu penutupan jalan. Pukul 12 siang, baru jalan itu dibuka lagi.

Banyak warung-warung makan yang berjejer di pinggir jalan. Bencana bagi kami, adalah anugerah bagi para penjajah makanan. Kami terpaksa menunggu di salah satu warung. Memesan es kelapa muda dan kopi. Empat orang anak punk yang sekapal dengan kami lewat. Mereka berempat adalah penumpang liar. Bang Jufri memanggil mereka dan menawari makan.

"Kami tidak punya uang, Om," kata salah satu dari mereka.

"Makan, sudah!" ujar Bang Jufri. Mata anak-anak punk itu berkaca-kaca. Lalu mereka berterimakasih.

Akhirnya pukul 12 siang. Jalan dibuka kembali. Sekitar 30 menit di perjalanan, kami mampir di tempat wisata air terjun Salodik. Pepohonan yang rimbun, dengan air terjun bersusun-susun menyapa sejuk. Momen ini kembali kami isi dengan sesi foto-foto. Air terjun Salodik sangat indah. Hanya setinggi empat, tiga, dua, bahkan satu meter, tapi bersusun-susun. Belasan orang pengunjung menyempatkan diri untuk mandi. Sedangkan kami hanya membasuh muka saja.

Air terjun Salodik
Setelah berkeliling, saya sempat terenyuh dengan kondisi gazebo-gazebo yang telah reyot dimakan rayap. Beberapa di antaranya telah roboh. Seorang penjaga menjelaskan, bahwa pemerintah setempat memang kurang memperhatikan objek pariwisata Salodik. Sangat disayangkan memang. Padahal tarifnya cukup murah, hanya 2 ribu per pengunjung, dengan keindahan alam yang begitu asri dan sejuk.

Kami tak berlama-lama, sebab masih akan melanjutkan perjalanan ke Kecamatan Batui. Setelah dari Salodik, perjalanan terlewati dengan lelah dan lelap. Bahkan kota Luwuk pun tidak sempat saya saksikan, sebab ketiduran.

Kami terus melaju ke Batui. Sejam kemudian, perusahaan gas bumi dengan cerobong api besar menyambut kami. Pertanda bahwa kami telah tiba Kecamatan Batui. Hanya beberapa menit kemudian, kami tiba di kelurahan Batui. Rumah saudara Mat menjadi persinggahan, selama kami berada di Batui. Tujuan kami, untuk menyaksikan prosesi adat Tumpe, pada malam harinya. Sebuah ritual keagamaan yang digelar setahun sekali.

Dan.... Malam harinya, kami menyaksikan prosesi adat yang memiliki daya magis begitu kuat. Kisahnya, akan saya tulis terpisah. Butuh kesadaran lebih untuk menuliskannya, sebab batas-batas rasionalitas diterabas oleh apa yang kami saksikan di depan mata. Sungguh, itu adalah momen yang tak akan pernah terlupakan, dalam Ekspedisi Gembira.