Thursday, January 7, 2016

Segulung Kalimat "Usang" dalam Kepala

sumber foto www.republika.co.id

Haz Algebra. Saya mengenalmu dari seorang kawan. Nama kawan itu Cakra Buhang. Mungkin di tahun 2013, saya dikirimi sebuah link yang berisi cerpen oleh Cakra. Judulnya 'Segulung Cerita Tua Dalam Kepala', penulisnya adalah kamu.

Seingat saya, Cakra saat itu mengatakan cerpen-cerpenmu sudah dibukukan. Salut. Nah, titik mula membahas tentangmu, tatkala Musda Badko HMI Sulut-Gorontalo, 2013. Saat itu kamu sebagai salah satu kandidat Ketua Umum Badko Daerah Sulut-Gorontalo. Kaitannya dengan Bolmong, sebab ada pula kandidat asal Bolmong kala itu. Saya sempat mewawancaraimu sebagai narasumber lewat chating di BBM. Namun kini, kontakmu hilang setahun atau dua tahun lalu dari daftar pertemanan.

Hai, Haz, yang tersebut sebagai mahasiswa di Fakultas Kedokteran Universitas Samratulangi, Manado. Begitu seingat saya menurut penuturan Cakra. Mungkin pula sekarang kamu sudah menamatkan studimu dan bergelar dokter. Tak banyak memang, mahasiswa Fakultas Kedokteran yang bergelut pula di dunia sastra. Saya cukup kagum, setelah membaca cerpenmu. Diksi-diksi segar dan imajinasimu meloncat-loncat. Sebagai penulis muda, kamu berbakat. Apalagi yang menilai, maqomnya jauh di bawah darimu. Apes!

Namun saya seperti tersedak setelah di tengah-tengah cerita. Saya heran dengan ingatan saya, yang terkadang encer, tapi kadang-kadang malah beku. Tapi kali ini ingatan saya encer tiba-tiba. Sebab dalam plot cerpenmu, saya menemukan kalimat yang begitu familiar. Saya terus menajamkan pikir, hingga akhirnya saya putuskan mengetik beberapa potong kalimat itu di google, lalu menyematkan kata facebook. Syukurlah, mesin pencarian google, menambatkannya pada status saya.

Terpindai, saya pernah membuat status yang mirip dengan potongan kalimat di cerpen itu. Status itu pun saya kutip dari bait puisinya Goenawan Mohamad (GM), Gandari.

Mari kita pergi.
Ke sebuah kota di mana nujum tak dibaca.
Di mana anak-anak tak tumbuh.
Di mana masa lalu adalah masa kini.
Di mana "aku" hanya kata sebelum amnesia.

Mari kita pergi ke sebuah kota di mana kabar adalah tafsir yang terlambat.

Selengkapnya: (http://sastrawan.com/index.php/puisi/goenawan-mohamad,119/gandari,1447)

Pada bait puisi di atas, saya pun lupa mencantumkan nama penyair atau judul puisi di status tersebut. Saya hanya mengunggah sebuat foto kota Bikini Bottom bersamaan. Kota tempat Spongebob dan kawan-kawannya tinggal dalam dunia kartun. Pikiran iseng saya, bait puisi GM di atas sangat tepat disandingkan dengan kota Bikini Bottom dalam serial kartun SpongeBob SquarePants. Kota di mana nujum tak pernah dibaca. SpongeBob dan kawan-kawannya yang tak kunjung tumbuh menjadi lebih besar atau menua. Masa lalu dan masa kini yang sesekali bertukar. Tempat di mana "aku" hanya kata sebelum amnesia, saya segera ingat Patrick kala itu. Dan kota di mana kabar adalah sebuah tafsir yang terlambat, sebab di Bikini Bottom, kabar kerap ditafsirkan terlambat. Cocoklogiku tepat ya? Ha-ha-ha.

Sebelum-sebelumnya saya pernah membikin status di BBM. Saya hanya menyematkan judul puisi, Gandari. Itu sekitar 2011, sejak saya mulai tertarik membaca puisi-puisi GM. Di tahun-tahun sebelumnya, saya hanya tertarik membaca catatan pinggir atau artikel-artikel lepasnya. Saya terlambat mengenalnya sebagai penyair, atau malah terlalu cepat mengenalinya, sehingga sekarang saya mulai melupakannya.

Kembali, setelah membaca cerpenmu, Haz. Dimana saya sempat tersedak, sebab saya menemukan potongan kalimat yang begitu mirip dengan bait puisi Gandari.

"Kita harus bergegas menuju taman jalan setapak bercecabang -di sebuah
kota- di mana kabar-kabar adalah tafsir yang tertunda, di mana Dalang
hanya sebuah kata sebelum kita amnesia."

Selengkapnya: (http://sains.kompas.com/read/2011/04/28/03274622/segulung.cerita.tua.dalam.kepala)

Cerpen itu dimuat di Kompas. Saya bukan hendak menjadi seorang kritikus sastra di sini. Tapi sebagai penikmat puisi, cerpen, novel, dan apapun berbau sastra, saya merasa sedikit alergi untuk tidak menuliskan ini. Niat saya ini sudah sejak tahun 2013. Dan akhirnya baru bisa saya tuliskan sekarang. Silakan mendedahnya. Kesamaan itu bisa ditemukan pada larik ini:

GM: Mari kita pergi ke sebuah kota di mana kabar adalah tafsir yang terlambat.

Haz: Kita harus bergegas menuju taman jalan setapak bercecabang -di sebuah
kota- di mana kabar-kabar adalah tafsir yang tertunda.

GM: Di mana "aku" hanya kata sebelum amnesia.

Haz: di mana Dalang
hanya sebuah kata sebelum kita amnesia.


Memang Haz coba meminimalisir kesamaan, namun tetap saja aroma GM tercium. Saya mungkin bisa salah mengendus. Bisa jadi kamu, saking mengidolakan GM, terkagum-kagum dengan puisi Gandari, hingga muncul niatmu untuk mencongkel satu per satu kata dari bait puisi Gandari, kemudian menambalkannya secara utak-atik ke salah satu paragraf cerpenmu. Namun sidik jari GM masih membekas di sana. Atau saya bisa juga salah, jangan-jangan bait puisi itu, adalah isi dari epos Mahabharata, yang luput saya baca, dan sah-sah saja jika kalimat itu mau dinukil di tulisan manapun dan oleh siapapun.

Semoga saja saya salah. Sebab saya sangat kagum dengan cerpenmu. Meski di antara karya-karyamu, yang baru saya baca adalah satu-satunya cerpen itu. Segulung Cerita Tua Dalam Kepala. Ya, segulung kalimat dalam cerpen itu, meski telah "usang" di tahun-tahun kemarin, semakin tahun menggangu isi kepala saya. Saya seperti menemukan sebuah kebenaran, yang terus saja saya simpan. Saya ingin memuntahkannya, dengan niat agar saya bisa membaca sanggahanmu, sebagai seorang penulis. Jangan tuntut saya telah mencemarkan nama baik. Ha-ha-ha.

Karyamu lainnya dalam bentuk video adalah satu puisi, yang pernah saya saksikan di youtube. Puisi saat pernikahan kawanmu, yang jika tidak salah dibacakan oleh Reiner Ointoe. Seorang budayawan dan penyair di Manado. Sangat disayangkan, suara tidak terlalu jelas, sebab video direkam secara manual menggunakan ponsel.

Namun saya tetap kagum denganmu, apalagi kamu adalah penulis dan penyair muda asal Manado. Beberapa bukumu sudah bertengger di rak-rak toko buku. Kamu seprovinsi dengan tempat lahir saya pula. Berkali-kali; semoga saja dugaan saya ini salah. Dan jika benar, saya pernah pada suatu waktu, menganggap memplagiat karya itu hanya supaya memicu giat menulis. Sebab dari sebait kalimat, kita bisa mengembangkannya menjadi sebuah cerita panjang. Pendapat itu ada, sebelum saya begitu mafhum, bahwa memplagiat adalah sikap tidak terpuji bagi para penulis.

Tapi untuk satu karyamu itu, kenapa juga kamu nekat menyelipkan sebait kalimat itu, yang pada akhirnya melebur orisinalitas karyamu? Padahal ribuan kata lainnya dalam isi cerpen, adalah buah pikirmu. Saya merasa kecewa, sebab cerpen bagus, malah dirusak oleh sepenggal kalimat.

Ah, selamat tahun baru 2016 dan sukses untukmu, Haz. Semoga kita bisa menjadi kawan. Ini mungkin cara saya agar kamu bisa berkawan dengan saya. Mencari perhatian. Sebab saya pun pernah mendapat karib, hanya dari cara ia menegur saya seperti ini. Oh, ya, kita berkawan di facebook. Silakan kabari saya, Kristianto Galuwo. Dan semoga juga saya segera dapat kiriman buku-buku karyamu. Gratis. Ha-ha-ha.