Friday, January 29, 2016

Teye Liye, Kau Nulis tapi Jarang Baca

sumber gambar aruspelangi.com
Tidak usah saya runut nama-nama siapa saja yang bebalnya berjamaah, terkait isu LGBT yang melengkung warna-warni di langit Endonesa. Saya langsung saja ke satu orang yang mengaku penulis, sebab karya-karya novelnya telah bertelur macam penyu, dan beberapa telah dipilemkan pulak. Penulis ini yang ikut nimbrung menjadi bebal berjamaah.

Adalah Tere Liye, yang novelnya tak satu pun pernah saya bacai. Saya mau mengomentari statusnya di fanpage facebook, yang dengan begitu menyentuhnya, coba memelintir isu LGBTI ke ranah agama. Saya seorang jurnalis di media degorontalo.co, dan menetap di Gorontalo. Salah satu provinsi yang tingkat kereligiusannya, setara Aceh. Makanya kenapa Gorontalo kerap disandingkan sebagai "Serambi Madinah".

Oh, ya, mbak Tere, eh, mas Tere (maaf saya sebelumnya menganggap kau itu seorang perempuan), saya dan teman-teman dari 20 jurnalis se-Endonesa, baru-baru saja terpilih beasiswa "Better Journalis for LGBTI". Kami ikut workshop di Jakarta baru-baru, yang diselenggarakan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indo bekerja sama dengan UNDP. Dan saat tengah berasyik-masyuk dengan materi-materi yang menggugah nan mencerahkan, kami dikagetkan pernyataan Menristek yang kurang piknik itu. Lumayan, materi kami bertambah. Pun begitu dengan pengetahuan kami. Gratis pulak! Tak perlu duduk di bangku kuliah yang biayanya bikin tipis kantong mamak dan papak.

Di workshop itu, kami diajarkan bagaimana mencoba memberitakan kaum LGBT sebaik-baiknya. Juga penggunaan istilah yang layak dalam pemberitaan. Dan setelah workshop selesai, yang digelar selama dua hari itu, saya pulang dengan rute Jakarta-Manado, dengan pengetahuan yang memadai soal isu LGBT. Sama seperti ke-19 teman saya lainnya.

Di kamar kos seorang karib di Manado, saya dikagetkan status di fanpagemu, yang dibagikan di grup facebook Gorontalo Menggugat. Busyet! Setelah membacanya, saya mempertanyakan, kau itu penulis tapi kayaknya kurang membaca.

Kau tahu mbak Tere, ehu, salah lagi, mas Tere, bahwa LGBT itu bukan penyakit kejiwaan. Itu adalah orientasi seksual yang normal. Jika yang hetero menganggap mereka itu tidak normal, mereka pun bisa menganggap yang hetero itu tidak normal. Tapi kaum LGBT tidak pernah menganggap seperti itu. Bahasa "tidak normal" malah hanya banyak digunakan masyarakat hetero pada umumnya. Padahal Tuhan menciptakan kita beragam gender, tak hanya laki-laki dan perempuan. Bahkan Tuhan pun, yang saya tahu tak berkelamin, pun hanya Dia yang mampu memutuskan sorga-neraka bagi umatnya. Manusia adalah mahluk superior yang dikaruniai akal, agar nalar kita mampu menakar apa arti kemanusiaan, tanpa atribut agama.

Soal memahami kebebasan kaum LGBT, kita tidak perlu jauh-jauh ngaca atau ngiblat ke benua Amriki atau Eropa sana. Mas tere tahu tidak, sebagai penulis, bahwa di negeri kita yang beragam ini, ada berbagai macam adat budaya yang telah membangun perspektif kesetaraan gender.

Tahu Bissu kan? Di adat Bugis, di Sulawesi Selatan. Jauh sebelum agama samawi hadir di negeri ini, agama "ibu" telah lahir dan tumbuh dengan begitu memaknai arti kemanusiaan. Kesetaraan gender di Bugis, sudah termaktub dalam I La Galigo. Mereka sudah mengenal tradisi 5 gender. Perempuan (makunrai), laki-laki (uruane), ada yang mendekati perempuan (calabai), yang mendekati laki-laki (calalai), dan ada yang berkelamin dan bergender ambigu (para-gender), yaitu para Bissu. Coba baca buku Eksistensi Calalai dalam Budaya Sulawesi Selatan, penulis Lily Sugianto. Buku yang diberi gratis oleh penulisnya saat kami mengikuti workshop. Tak seperti novel mas Tere, yang banyak mengangkat kegetiran hidup, tapi mereka yang hidupnya getar-getir tak mampu membeli novel itu. Aih!

Di Banyumas ada Lengger. Tahu Lengger kan? Saya bukan orang yang bermukim di pulau Jawa, jadi tidak secara jelas pula melihat aktifitas para Lengger. Tapi beruntung dunia digital sangat membantu kami. Dan untuk mas Tere yang bermukim di pulau Jawa, sekali-kali mas Tere piknik dulu ke Banyumas.

Setiap manusia memiliki sisi maskulin dan feminimnya, mas Tere. Bahkan saat seorang ayah menggendong seorang bayi, ada sisi feminim ibu yang hadir di sana. Mungkin sama pula dengan sisi feminim mbak Tere, ups! Salah lagi, mas Tere, yang memilih atau menerima nama pena, Tere Liye, yang terdengar begitu feminim. Meski itu dicaplok dari bahasa India, yang lebih-kurang artinya "untukmu". Namun tak dipungkiri, sebagian orang, bahkan saya pun pernah menganggap mas itu mbak. Teman saya pernah pula salah tafsir. Hi-hi-hi.

Sudah dulu ya, mmmbbmmaas Tere. Saran saya, perbanyak piknik, baca buku, jangan melulu merunduk sambil menulis novel. Ntar kejedot kepalanya.