Monday, May 23, 2016

Gladys di Kota(razia)mobagu (7)


... Wajahnya semakin mendekat. (Baca sebelumnya: Bagian 6Sekejap, aku dan dia telah menjadi sebatang rokok dan korek api yang menyatu. Terbakar.

Deru motor terdengar berhenti di depan kamar kos. Pintu diketuk. Bara di dada kami segera padam. Gladys lekas menyeka bibirnya.

"Siapa? Bukan razia, kan?" bisik Gladys kepadaku.

"Aku baru ingat. Deni. Tadi dia katanya mau ke sini. Lagian, sepagi ini mana ada razia?" saya coba menenangkannya.

"Gid, kau di dalam?" suara panggilan itu cukup akrab.

"Iya, itu Deni. Saya juga tahu perasaanmu. Tidak apa-apa, Deni teman baikku." Aku coba menghibur Gladys, yang sepertinya tidak enakan jika aku dan dia dipergoki sedang bersama di dalam kamar.

Aku beranjak menuju pintu yang sebenarnya tidak dikunci. Pintu kamar menutup begitu saja tertiup angin, ketika aku dan Gladys tengah asyik mengobrol. Sepertinya hembus angin sengaja memberi kesempatan. Sedangkan letak jendela meski terbuka lebar, orang harus menyeret kursi untuk tempat berpijak, jika niatnya mengintip ke dalam kamar.

"Den, maaf  kelamaan. Tadi aku di dapur lagi bikin kopi. Ayo, masuk! Kau seperti orang asing saja," ajakku.

Deni terkejut ketika tahu, ada perempuan yang tengah bersama saya. "Maaf, aku menganggu ya? Nanti aku kemari lagi." Dia tiba-tiba ingin pamit.

"Eh! Tidak apa-apa, Den. Malah sikapmu, membuat kami lebih tidak nyaman." Meski di dalam hatiku, kedatangan Deni kali ini, seperti serombongan pemadam kebakaran.

"Kenalkan, ini pacarku, Gladys," kataku. Raut wajah Gladys terlihat berubah mendengar ucapanku. Seperti ada yang meloncat-loncat di dalam matanya.

Usai bertukar nama, Deni bergabung selonjor di lantai. Di wajahnya ada berdiam sebuah kecemasan. Dia tampak kaku pula duduk berhadap-hadapan dengan Gladys. Aku coba mencairkan suasana yang kaku dengan menawari Deni secangkir kopi.

"Kebetulan, masih ada sisa kopi. Aku ambilkan dulu. Kau pasti akan bersujud membelakangi kiblat, ketika merasakan racikan kopi Kotamobaguku." Aku segera membikinkannya kopi. Tawa Deni terdengar menyusulku sampai ke dapur.

"Masih kuliah?" tanya Deni kepada Gladys.

"Iya. Mudah-mudahan tahun depan selesai."

"Wah, baguslah. Aku turut mendoakan."

Dari dapur mini yang hanya berjarak lima meter dari posisi Deni dan Gladys, aku bisa mencuri dengar percakapan mereka. Deni memang selalu tahu cara melonggarkan kerah.

"Kopinya siap. Secangkir, ditukar dengan lima kaleng bir sama seamplop uang," candaku.

"Taeek! Barista mata amplopan! Aku kira cuma wartawan yang mata amplopan!" Tawa seketika mengisi seisi kamar.

"Den, tadi kau menelepon sepertinya penting sekali. Ada apa?" tanyaku yang sedari tadi masih penasaran.

Deni melirik cepat ke arah Gladys. Seakan pertanda bahwa dia kurang yakin mengutarakan hal itu di depan Gladys.

"Aku mau bertemu Lina dulu," kata Gladys. Lirikan mata Deni meski secepat peluru berlalu, tampaknya berhasil ditangkap Gladys.

"Tidak apa-apa kok. Aku dan Deni percaya kau." aku berusaha membujuknya.

Gladys beranjak. Dia menunduk sebentar. Cangkir kopi yang masih berisi diraihnya. Lalu diseruputnya menyisa lumpur kopi di dasar cangkir.

"Idih... Lagian ini juga urusan kalian. Eh, kopimu enak," kata Gladys. Lalu dia pamit seiring senyum dengan ukiran lesung pipit.

Melihat senyuman Gladys dan lesung pipit di kedua pipinya. Rasanya aku ingin menceburkan diri di kedua lesung pipit itu. Setelah puas terbakar dengan, ah, sialan. Jadi kesal aku mengingat kejadian tadi. Deni memang brengsek.

"Melamun saja seperti belum gajian!" Tepukan Deni di kaki mengagetkanku.

"Pobure!" saya mengumpati Deni dengan bahasa daerah. Dan Deni membalasnya dengan umpatan berbahasa daerah pula, yang artinya terlampau kasar. Kami saling bertukar lempar dengan umpatan.

"Den, ada apa sih?"

"Masih soal Indra."

"Kenapa dia?"

"Indra semalam mendatangi Umar di kedai kopi. Setelah kita pulang."

"Lalu?"

"Dia meninju Umar."

"Apa? Dasar bajingan! Lalu Umar membalas?"

"Mereka terlibat perkelahian. Indra babak belur. Lalu Umar dilapor orangtua Indra ke Polres." Wajah Deni terlihat sedih. Dari sorot matanya, menyiratkan bahwa Umar saat ini sedang dalam masalah besar.

"Kenapa Umar tidak melapor lebih dulu? Atau jika memang Indra yang duluan melapor, pasti ada saksi yang melihat Umar ditonjok duluan," kataku geram.

"Umar melapor balik. Dan usai melapor, dia dijebloskan ke dalam sel."

"Kejadiannya semalam? Kenapa kau baru mengabari sekarang?"

"Gid, mereka saling lapor tadi pagi. Ponsel Umar juga hilang saat perkelahian terjadi. Itulah kenapa dia tidak menghubungi kita."

"Lalu siapa yang mengabarimu?"

"Istrinya."

"Sialan! Indra tega melakukan itu, padahal dia tahu, Umar itu ada anak-istri untuk dinafkahi." Aku bergegas mengganti pakaian. "Ayo! Kita ke Polres!"

"Aku agak lama tadi ke sini, karena aku masih mampir di Polres. Umar titip pesan, urusi dulu media kita. Katanya, dia bisa mengurusi dirinya sendiri." Deni coba menenangkanku.

"Terus kau tega membiarkan Umar melewati ini semua sendirian? Den, aku juga harus bicara dengan Indra sekarang!"

"Indra juga satu jeruji dengan Umar," jelas Deni. "Biarkan Umar mengatasi ini. Aku yakin dia bisa."

Tubuhku seketika membenam di kasur. Aku tidak habis pikir, pertemanan kami akan seperti ini. Umar dan Indra adalah teman sekelas sejak SD. Sedangkan aku dan Deni, setahun lebih adik dari mereka berdua. Kami berempat baru akrab setelah kelas tiga SMP.

(Bersambung)