Friday, May 13, 2016

Selamat Menjadi Jurnalis


Pada suatu kali, aku mulai coba menulis. Di tengah erang sakit akibat tulang pinggul yang retak setelah jatuh dari lantai dua, aku coba menulis sebuah novel. Judulnya Simpul-simpul Kertas. Novel yang kutulis tangan pada sebuah buku, yang akhirnya aku sendiri sukar membaca tulisanku.

Kemudian, sebuah perjalanan setelah aku sembuh dari sakit. Aku menuju Makassar untuk belajar. Di sana, aku coba memahami siapa sebenarnya kita-manusia-lewat filsafat. Aku belajar sembari coba mencari kebijaksanaanku sendiri.

Setelah itu, aku terbang ke Bali di akhir tahun. Coba merasai seperti apa malam pisah-sambut tahun. Di sana, aku memutuskan membuat blog. Kunamai Getah Semesta. Satu per satu tulisan aku cicil. Satu per satu pembaca beranjangsana ke Getah Semesta.

Setahun di Bali, aku memutuskan kembali ke Kotamobagu. Di kota ini, aku bertemu kawan-kawan baru yang sepakat membikin sebuah media online. Namanya Lintas BMR. Kami cukup solid awalnya. Namun seiring waktu, masalah-masalah bermunculan. Kami bubar. Situs www.lintasbmr.com juga telah mati.

Hanya beberapa pekan kemudian, aku ditawari di media online Pilar Sulut. Media kawanku pula. Tapi hanya beberapa bulan saja, aku memutuskan berhenti. Media itu hingga sekarang masih eksis. Bisa diakses di www.pilarsulut.com.

Tak berselang lama, aku ditawari masuk di Radar Bolmong. Kali ini surat kabar harian. Aku bertemu kawan-kawan baru di sana. Minggu, bulan, berlalu. Satu per satu kawan-kawan itu pergi. Aku pun akhirnya memutuskan pergi. Tak nyaman lagi.

Sebulan berlalu, aku menuju Gorontalo. Aku berencana masuk anggota AJI di sana. Setelah diterima, aku ikut berjibaku di media online bentukan anggota AJI Gorontalo. Nama medianya De Gorontalo. Selama di sana, aku coba mengirim surat lamaran ke media-media. Sebab De Gorontalo hanya sambilan bagi para anggota AJI. Mereka semua bekerja di media masing-masing.

Aku diterima di Viva.co.id. Tapi kata redaktur di Jakarta, aku akan ditugaskan di Makassar. Aku menolak dengan sedih. Namun perjalanan ini sepertinya belum mau berhenti. Aku memutuskan kembali ke Kotamobagu. Di www.degorontalo.co aku tetap menyisihkan waktu untuk mengisi tulisan-tulisan dari para blogger.

Di Kotamobagu, aku diajak seorang kawan untuk membantunya di surat kabar mingguan. Namanya Koran Bolmong. Baru mau launching. Pekan ini sudah mau edisi ketiga, Koran Bolmong lumayan diterima oleh pembaca. Aku di situ, sembari menunggu portal desa dibuat. Portal yang khusus memberitakan tentang desaku. Desa Passi.

Tiba-tiba datang kabar, bahwa Rappler sedang mencari kontributor untuk wilayah Manado dan Gorontalo. Aku mengontak redaksi Rappler. Setelah diwawancarai singkat, aku diterima. Tapi aku harus menetap di kota Manado, kata orang yang merekrutku.

Sekarang, tinggal menunggu kabar dari redaktur, kapan mulai siap meliput. Media www.rappler.com memang salah satu incaranku. Pastinya aku bahagia bisa diterima. Meski dilema sebab harus meninggalkan desa dan kota ini lagi. Apalagi rumah belajar kami, Saung Layung Arus Balik, telah jalan.

Aku tengah menimbang sekarang...

Itu perjalanan singkatku di dunia jurnalistik. Dan setelah perjalanan selama hampir empat tahun di dunia itu, sepertinya langkah ini belum mau terhenti. Pada jeda ini, aku sadar, bahwa menjadi awak media itu bukan diukur dari seberapa lama kita terjun ke dunia itu. Atau seberapa banyak media yang pernah mengasuh kita. Namun yang aku pelajari dari jurnalisme, jauh yang lebih besar maknanya adalah: masih banyak manusia yang butuh bantuan di luar sana.

Ah, setiap media yang pernah mengasuhku memberi kisah masing-masing. Setiap media juga memberi pelajaran penting.

Pada akhirnya, aku menemukan kebijaksanaanku. Selamat menjadi jurnalis.