Tuesday, May 31, 2016

Selamat Jalan Yayang


TAHUN 2007 adalah tahun pertemuan saya dengan Eza Yayang Lobud (Yayang). Kala itu, festival band sedang puber-pubernya digelar para kawula muda Kotamobagu. Setiap bulan, bisa ada 2 sampai 3 festival dihelat. Para musisi lokal dengan gitarnya yang masih bau toko, hingga yang sudah berlumut, semuanya urun manggung.

Yayang, bertemu saya di halaman parkir gedung Bobakidan, tempat festival digelar. Hari sudah malam. Band mereka baru selesai manggung. Punya kami sudah dapat jatah sejak sore.

Ketika itu ia nampak sibuk dan terus menggerutu.

“Mana ni helm!” semburnya, sembari pandangannya memindai sekeliling parkiran.

“Kita punya le ilang! Soe!” umpat saya, setelah sadar helm saya ikutan raib. Merasa senasib-sepenanggungan, sama-sama kami mencerca kesialan malam itu.

Selanjutnya adalah pertemuan-pertemuan. Kotamobagu memang kota sekecil upil. Dan pertemuan yang kerap berulang itu terjadi di Bobakidan jika ada festival band,  juga di studio musik, Kawasan Katipol, atau di tongkrongan sepanjang jalan Kotamobagu. Pun di leput-leput kampung pinggiran kota. Yayang selalu hadir di mana saja.

Kami kemudian akrab. Saya sempat bertanya, band musik apa yang jadi favoritnya. Ia mengaku menyukai Nirvana, Ska, dan Punk. Sepintas, Yayang yang bertubuh ceking, berkulit putih, dan modis, nampak sepadan dengan musisi kelas ibukota.

Lewat musik Punk, saya merasa sehati dengan dia. Membuat saya teringat pada Katz (sapa kami di Passi kepada Uwin Mokodongan) yang mengenalkan saya pada Komunitas Punk and Skinhead di Manado, sejak 2001.

Saya mulai akrab dengan Yayang. Keakraban kami lalu mengental ketika bersama Katz, saat sepakat mendirikan Scene di Taman Kota Kotamobagu. Tapi Scene Taman Kota cuma bertahan dalam hitungan hari. Kami lalu pindah ke Roberta. Itupun tak bertahan lama, sampai akhirnya kami bergabung dengan Scene Sakura yang, ternyata sudah pernah terbentuk oleh kawan-kawan Kotamobagu, Bolmong, Manado, bahkan luar Manado.

Sekilas mengenang Scene Taman Kota, yang kala itu masih dirangkul gerobak-gerobak penjual makanan dan kudapan. Payung berwarna-warni masih berjejer di ketiak simpang empat lampu merah UDK dan Masjid Raya. Kami saling mengajak dan menggasak tali gitar kopong. Berkumpulan para pengusung rambut Mohawk dan kepala botak (Skinhead) di Kotamobagu.

Kami memainkan lagu-lagu Marjinal, Begundal Lowokwaru, Bunga Hitam, The End, Rentenir, Anti Squad, Cock Sparrer, terkadang Misfits. Tak jarang juga lagu pesanan — lagu macam-macam — keliling kami bawakan.

Iya, kami mengamen. Setelah di Taman Kota, kami merapat ke Roberta lalu menetap di Scene Sakura dekat Bundaran Paris. Jika kawan-kawan sesama Scene lagi padat-padatnya, reriungan sampai di Toko Harmonis.

Lapangan kota kala itu masih riuh. Kami mengamen juga di sana. Lalu kembali di antara jejeran payung-payung Saraba’. Usai dari situ, kembali ke Scene. Uang hasil ngamen kami belikan nasi dan gorengan. Disajikan secara prasmanan ala jalanan untuk dilahap secara komunal. Nasi yang meruah kami punguti dengan tawa dan puas. Dan sudah barang tentu, selalu ada yang disisakan untuk Tjap Tikoes dan rokok murah biar banyak dan cukup dibagi. Ah, kami serupa binatang jalang! dari kumpulannya terbuang!

Yayang akhirnya mencintai Passi. Desa yang akhirnya menjadi takdir bahwa tubuhnya harus dirajah. Bermodal mesin tato ‘katinting’ (dinamo) yang dibawa Ko’ (panggilan lain dari Firman Monoarfa). Keinginan Yayang untuk menato tubuhnya, sudah membuncah. Tapi siapa seniman tato kala itu? Tak ada. Ia lalu meminta agar Katz menyanggupi permintaannya.

“Mo tato apa?” tanya Katz.

“Terserah!” jawabnya mantap.

“Jangan terserah.”

“Pokoknya terserah.”

Berbantahan Katz dan Yayang, hingga akhirnya Katz bertanya serius seolah ia seniman tato benaran.

“Ngana pe mau tema apa?”

“Tentang... Mamak.”

Iya, Yayang memang dikenal anak mami dan sangat dimanjakan orangtuanya. Terang, sebab ia adalah anak pertama.

“Oke. Love Mother berarti,” Katz menawarkan kata yang akan dirajahkan ke tubuhnya.

“Mantappp... Silakan. So butul itu!”

Kaos dilepas. Mesin dinyalakan. Katz mulai merajah. Jadilah itu tulisan: Mother yang dipupusi simbol cinta.

‘Cinta Ibu’ akhirnya menubuh di punggung kirinya. Katz, kendati baru pertama kali menato, saya kira cukup indah—untuk pemula—menorehkan ‘Mother’ sebagai kata yang alangkah unyu di punggung Yayang.


Seiring waktu berjalan, Gig akhirnya digelar di Kotamobagu. Komunitas kolektif Taring Babi lewat Band Marjinal diundang main. Kawan Rio Manoppo dibantu beberapa punggawa Skinhead aliran SHARP dan Punk dari Manado, berandil besar atas suksesnya Gig yang dihelat di Bobakidan, kemudian kampus UDK untuk Gig kedua kalinya.

Selanjutnya Gig ketiga berlangsung di Manggala. Kali ini lebih besar dengan kehadiran Steven Vibration, Marjinal, dan The End, yang menggetarkan Manggala malam itu.

Hampir setiap Gig, Yayang selalu ada. Tak hanya Gig-gig di Manado, di Gorontalo-pun Yayang hadir bersama Katz yang membentuk Manifesto Marhaen. Sebuah band kolaborasi antara kawan Punk Street dan Skinhead Anarko. Mereka memainkan Punk Rock dan sesekali Reggae Ska.

Setelah itu, saya dan Katz sempat berlama-lama lagi di Manado. Seiring Yayang memutuskan kuliah di sana. Kita bersua lagi di Scene Manado dan Gig yang biasa digelar di Gedung Pingkan Matindas. Dari style Punk, Yayang bertransformasi menjadi Skinhead Anarko. Entah, mungkin karena kawan seperjalanannya; Katz, Rio, Tanjung, Koko, Sofyan, Amat, dan Yudi, memang sudah memilih subkultur itu sebagai 'the way of life'. Entahlah…

Pernah sekali saya bertemu dengannya di Manado. Sewaktu ponsel pintar Blackberry mulai riuh di dunia gadget Indonesia, sekitar tahun 2009-2010. Yayang menemui saya, dengan kunci motor yang digantungi ponsel Blackberry bercangkang retak hampir di semua sisi.

“Bangsat! HP kong bekeng gantongan kunci!” kata saya. Tapi begitulah Yayang, ia selalu saja berbeda.

Seminggu kemudian, saya dikiriminya pesan singkat. Ia menanyakan apakah saya masih di Manado. Saya membalasnya, lalu menyarankan ia segera ke rumah kontrakannya Eding di jalan Kembang.

“Adoh, datang ambe dang!” katanya.

Saya akhirnya memutuskan menjemput di rumah kosnya di Malalayang. Di atas motor, saya mengiriminya pesan singkat lagi. Tiba-tiba seekor kucing melintas. Saya hilang kendali lalu menabrak pembatas jalan. Terpental.

Beruntung, hanya dengkul dan dagu saya yang lecet. Ponsel saya masih utuh. Saya segera mengabari Yayang. Ternyata, rumah kosnya tak jauh dari tempat saya terjungkal. Ia lalu mengendarai motor. Kami menuju rumah kontrakan.

“Singgah bli bir dulu!” katanya. Lalu menepi di sebuah warung.

Di tengah perjalanan, tepat di depan Polda Sulut, kami dihadang dua polisi bersenjata laras panjang. Ternyata, mereka sedang berjaga-jaga karena motor-motor berknalpot bising kerap membuat onar di jalanan.

“Turung ngoni dua!” teriak salah satu polisi.

Setelah melihat bir di dalam kantong plastik hitam di pangkuan saya, salah satu polisi segera menggaruk kepala. Sekantong bir itu disuruhnya diletakkan di samping pohon.

“Sobawa minuman, baru kiapa itu ngana pe lutut deng dagu so punung darah, sobalaju-laju di jalang kong cilaka?” tanya polisi.

“Iyo, tadi kita cilaka kong tamang pi ambe,” kata saya mengiba. Biar lolos sudah.

“Baru cilaka, bawa bir le!”

Ah, saya dan Yayang tak bisa berbuat apa-apa. SIM ditanya. Yayang segera memberikan SIM-nya. Saya juga segera menyodorkan STNK setelah disusul tanya polisi yang satunya lagi. Lucu memang, sebab motor milik saya, SIM milik Yayang, dan STNK milik saya. Saya tak mengantongi SIM.

“Adoh, tola tu motor maso ka dalam!” polisi itu membentak.

Yayang dengan lusuh mendorong motor saya ke halaman Polda Sulut. Saya segera mengeluarkan ponsel, lalu pura-pura menelepon.

“Sapa tu ngana motelpon?” tanya polisi.

“Sudara, dia di Polda sini lagi… (kemudian saya menyebut nama perwira yang ternyata cukup mereka kenal).”

“Baku kanal bagimana?”

“Sudara itu, ada tinggal sama-sama di Kleak,” kata saya dengan nada tenang.

Sejurus kemudian, salah satu polisi meneriaki Yayang yang sudah sejauh seratus meter mendorong motor saya ke dalam. Yayang segera berbalik arah. Lalu kami dibiarkan pergi. Empat botol bir dingin di kantong plastik hitam mereka kembalikan.

Di tengah perjalanan, Yayang bertanya siapa yang saya hubungi. Saya menjawab; “Cuma ta pe dusta, mar tu orang yang kita cumu memang baku kanal, de pe nomor ada le no ini, (saya menyebut nama perwira itu).”

Tawa kami lepas di antara lampu-lampu kota. Lalu kami segera menuju rumah Eding di jalan Kembang. Tempatnya tak seberapa jauh dari belakang Polda Sulut.

Seiring tahun, karena kesibukan masing-masing, Yayang tak pernah lagi bertemu dengan saya. Beruntung, saya masih berteman dengannya di BBM. Beberapa pekan lalu, sepulangnya saya dari Gorontalo, entah kenang apa yang sedang bertengger di kepala botaknya, ia tiba-tiba mengirimi saya foto.

“Masih yang jadul lebe gaul kang, Ya'?” isi pesannya. (Saya biasa disapa Ya').

Satu-satu saya pelototi lagi foto di kolom chat yang ia kirim. Foto saat kami di Scene Sakura. Saya mengiriminya emoticon tertawa terbahak-bahak. Kemudian kami saling mengenang.

Sepekan kemudian, ia menuliskan status di BBM.

“Geli ja lia cowok kong ja ba selfie-selfie munafik kong nimau lia kamera,” tulisnya. Yayang memang terkenal dengan ceplas-ceplos dan mulut embernya.

Setelah membaca pesan status di RU itu, segera saya memindai foto-fotonya di facebook; mencari pose dirinya yang tak menatap kamera kala di-shoot.

Setelah dapat, saya lalu memajang foto itu di profil BBM. Yayang mengumpat di statusnya, lalu chat dan PING!!! seperti buah duku berguguran di kolom chat saya.

“Sigidad, pembunuhan karakter,” tulisnya lagi di status. Ia menyuruh saya agar segera mengganti foto profil. Ah, itu kali terakhir saya dan dia saling bertukar canda.

Lalu kabar itu datang pukul 6 pagi. Saya terbangun dan mendapati ponsel yang dipenuhi panggilan tak terjawab. Bahkan dari nomor-nomor asing. Juga pesan singkat dan chat di BBM. Pesan yang mengabarkan Yayang berpulang. Ko' yang mengirim chat di BBM. Sialan! Cepat sekali kau berpulang!

“Cilaka? Di oto ato motor?” tanya saya sembari coba mengira, kalau Yayang kecelakaan. Sebab saya tahu itu satu-satunya sebab kematian merenggutnya. Yayang sehat-sehat saja setahu saya. Lalu Ko’ bertutur. Yayang kecelakaan mobil bersama seorang temannya. Ia meninggal di lokasi kejadian, sedangkan temannya yang mengendarai mobil, kritis di rumah sakit.

Katz segera saya kabari tapi tidak merespon. Mungkin masih terbaring karena demamnya belum reda. Saya meraih handuk; mandi, mengganti pakaian, lalu bergegas menuju RPM (Rumah Pemuda Merdeka) tempat Yayang juga sempat berbagi kisah.

Di RPM, pintu kamar Katz saya gedor keras.

“Katz! Katz! Katz! Bangon. Yayang so meninggal, ada cilaka!”

Suara parau Katz dari dalam kamar, serupa kaget seorang kakak yang mendengar adik satu-satunya meninggal. Ya, benarlah jika Yayang adalah saudara kandung kami. Kandung di jalanan, kandung di panggung-panggung Gig.

Saya, Oxa, DeBe, dan Cribs, yang telah saling mengabari, berkumpul di RPM lalu pagi tadi segera menuju rumah duka di Kopandakan. Kemudian kronologis tragis dari kecelakaanmu, tertutur dari orang-orang sekitar dan sahabat karib.

Ah, Yayang! Begitu cepat kau berpaling-pulang! Sulang, tunduk, dan tangis untukmu, UTAT!

NISAN

Bukan kematian benar menusuk kalbu
Keridhaanmu menerima segala tiba
Tak kutahu setinggi itu di atas debu
Dan duka maha tuan bertahta

-Chairil Anwar

Jalan hidupmu seperti selengkung tato di dadamu, kata Yani istrinya Cribs. Sebaris tato dari judul lagunya The Used. Buried Myself Alive. Kubur Diriku Hidup-hidup.

Iya, Yayang. Kau memang terkubur hidup-hidup di dalam hati kami. Di tawamu yang renyah terbahak, di dalam hati terkasihmu Indri, putri mungilmu Darina, Ayahmu, dan Ibumu yang ternyata berulang-tahun di hari tepatmu berpulang.

Selamat ulang tahun Mamak Yayang. Mamak kami semua.

Selamat Jalan Yayang...
(2 Februari 1990-31 Mei 2016)