Wednesday, June 1, 2016

Yayang dan Garis-garis Takdirnya


Garis-garis takdir itu hadir di sepertiga malam. Mungkin kau masih bisa memilih diam di bangku merah memanjang di depan rumahmu. Bangku yang disediakan ibumu agar kau tak jauh dari pelukannya. Atau kau bisa memilih mengumpati malam di antara telinga-telinga yang kau kenal. Di antara tawa kawan-kawan semasa kecilmu. Namun satu garis takdir berbeda kau genggam. Takdir yang meraung-raung di kulit jalanan.

Takdir itu, yang mengajakmu menemu ruang lain untuk kau menepi. Di mana dingin dan dedaunan kering berguguran jatuh menyapa tanah dan rebah diam. Namun tak sediam ragamu.

Lalu kabar-kabar datang serupa gagak hitam. Teriak meminta iba dan bulir airmata. Kabar yang kau kisahkan dengan cara yang berbeda. Kau memang kerap kali begitu.

Tafsir-tafsir pun mulai terumbar. Dari yang bengkok hingga yang lurus. Dari yang basah sampai yang meretak kering. Dari yang jauh pun yang begitu dekat. Tapi sudahlah itu semua. Sebab mendengar umpatmu bisu seketika, maka apa lagi yang perlu diceritakan?

Ah, kawan...

Mengapa kau menepi pada sebuah kisah, yang diakhiri dentuman di sunyi malam. Pun di antara kerumunan dan bising tanya-tanya itu?

Mengapa kau memilih bersandar pada lumut dan kulit pohon, pada kerangka logam, dan di dada ayahmu yang sedang menggenggam takdir yang ingin ia hempaskan?

Mengapa tak kau temui saja ibumu, dan ceritakan tentang kasih itu. Kasih yang kau rajah sejak mula ringis itu mendesis?

Sebab cukup sudah pada kami. Hal-hal yang kau ceritakan sudah terlalu banyak meski kami masih merindunya. Semua yang berisi tawa, teriak Oi! dan segala kenangan yang sempat kau bagi hingga di penghujung jalan. Pun yang kau jejaki pada gelas-gelas, botol-botol, dan kepul asap yang mengibas di bibir pantai.

Ibumu memang sudah menerima kasihmu. Ayahmu pun sudah ikhlas dengan kisahmu. Meski mata mereka masih meringkus kenang dengan simpul yang longgar.

Istrimu mungkin terus menyangkal kepergianmu. Sedang putrimu tak tahu apa-apa. Ia belum bisa meraba rindu, mengenali kesedihan, atau mengartikan sebuah kehilangan. Kecuali kau berkelebat di pelupuk matanya.

Pada akhirnya, semua harus merela. Tak mungkin lagi napas itu dihela. Meski rapal doa membumbung ke udara dan menembus langit. Namun sebuah lagu mungkin bisa menyapamu di sana. Lagu yang kau pilih melengkung di ruas dada kurusmu.

Buried Myself Alive

You almost always pick the best times to drop the worst lines
You almost made me cry again this time
Another false alarm
Red flashing lights
Well this time I'm not going to watch myself die

I think I made it a game to play your game
And let myself cry
I buried myself alive on the inside
So I could shut you out
And let you go away for a long time
Gooodddd!

I guess it's ok I puked the day away
I guess it's better you trapped yourself in your own way
And if you want me back
You're gonna have to ask

I think the chain broke away
And I felt it the day that I had my own time
I took advantage of myself and felt fine
But it was worth the night
I caught an early flight and I made it home

I guess it's ok I puked the day away
I guess it's better you trapped yourself in your own way
And if you want me back
You're gonna have to ask
Nicer than that
Nicer than that

With my foot on your neck
I finally have you
Right where I want you
Right where I want you
Right where I want you
Right where I want you

I guess it's ok I puked the day away
I guess it's better you trapped yourself in your own way
And if you want me back
You're gonna have to ask
Nicer than that
Nicer than that
And if you want me back
You're gonna have to ask
Nicer than that
Nicer
Nicer

Kubur Diriku Hidup-hidup

Kau hampir selalu memilih waktu yang tepat
Untuk mengungkapkan kalimat terburuk
Kali ini kau hampir membuatku menangis
Alarm palsu lainnya
Lampu berkedip memerah
Tapi kali ini aku takkan melihat diriku menangis

Kurasa aku bermain dalam permainanmu 
Dan membiarkan diriku menangis
Kukubur diriku hidup-hidup dari dalam
Agar aku bisa mengusirmu
Dan membiarkanmu pergi untuk waktu yang lama
Tuhaaaannnn!

Kurasa tak mengapa kumuntahkan hari kemarin
Kurasa lebih baik kau terjebak dalam jalanmu sendiri
Dan bila kau menginginkanku kembali
Kau harus bertanya dahulu

Kupikir rantai itu sudah hancur
Dan aku merasakannya di hari disaat aku masih memiliki waktuku
Aku mengambil keuntungan dari diriku dan merasa baik-baik saja
Tapi itu sepadan dengan malam
Aku pulang dengan penerbangan pertama

Kurasa tak mengapa kumuntahkan hari kemarin
Kurasa lebih baik kau terjebak dalam jalanmu sendiri
Dan bila kau menginginkanku kembali
Kau harus bertanya dahulu
Lebih baik dari itu
Lebih baik dari itu

Dengan kakiku di lehermu
Akhirnya aku memilikimu
Tepat dimana aku menginginkanmu
Tepat dimana aku menginginkanmu
Tepat dimana aku menginginkanmu
Tepat dimana aku menginginkanmu

Kurasa tak mengapa kumuntahkan hari kemarin
Kurasa lebih baik kau terjebak dalam jalanmu sendiri
Dan bila kau menginginkanku kembali
Kau harus bertanya dahulu
Lebih baik dari itu
Lebih baik dari itu
Dan bila kau menginginkanku kembali
Kau harus bertanya dahulu
Lebih baik dari itu
Lebih baik
Lebih baik

Iya, kawan Yayang…
Garis-garis takdirmu serupa hujan. Hujan yang menjelma menjadi tinta berwarna dan mengekal di tubuhmu. Lalu bertutur tentang gundah di dalam dadamu. Sama seperti ibumu yang kau beri kejutan tak terlupakan di hari kelahirannya. Sebuah kepergian.


(Terima kasih kepada Wanto Mongilong, Pak Guru Bahasa Inggris di Saung Layung Arus Balik, yang telah menerjemahkan lagu dari The Used, Buried Myself Alive)