Saturday, November 26, 2016

Seandainya Sigi Ngomong Gini...


Papa, sekarang Sigi sudah TK lho. Di TK Al-Quran. Kata Mama, sekolah itu mahal. Tapi kualitasnya bagus.

Sigi lantas bertanya, "Kualitas itu apa?"

Mama menjawab, "Kualitas itu mutu. Biar lebih sederhana, kata Mama, 'itu TK terbaik, yang bagus, nyaman, yang terbaik pokoknya'."

Suatu hari, Sigi bermain dengan Amel. Dia anak yang rumahnya hanya berdekatan dengan rumah Sigi. Amel juga sedang sekolah. Dia di TK tapi yang hanya jalan kaki. Sementara Sigi harus naik bentor atau diantar dengan motor oleh Mama.

Sigi baru tahu beberapa hari kemudian, ternyata Amel di TK yang jaraknya cuma dekat dengan rumah Sigi. Makanya dia suka jalan kaki.

Sigi lalu bertanya lagi kepada Mama, "Kenapa Sigi tidak sekolah di tempatnya Amel?"

"Sigi kan di TK Al-Quran, biar cepat tahu membaca Al-Quran." kata Mama.

Sewaktu Sigi pulang dari TK, Sigi melihat Amel berjalan dengan teman-temannya menuju rumahnya. Teman-teman Amel, teman-teman Sigi juga. Ada Bonbon, Siti, Ayu, Lesi, dan Jiko. Mereka terlihat senang sekali pulang sekolah bersama-sama sambil jalan kaki.

"Ma, Sigi mau jalan kaki ke sekolah seperti Amel dan teman-teman lainnya."

"Kan sekolahnya Sigi di kota, bukan di desa."

"Tapi Sigi kalau pulang sekolah, dijemput pakai bentor atau motor. Tidak jalan kaki seperti Amel."

"Jauh jaraknya dari kota ke desa, Sigi. Lagipula harus hati-hati biar tidak ditabrak motor, bentor, atau mobil."

"Tapi, sekolah Amel kan dekat. Mereka juga jalannya ikut halaman belakang sekolah."

"Nanti saja kalau Sigi sudah lanjut ke SD. Kan, SD-nya dekat dari rumah."

Nah, suatu hari lagi, Pa, Amel mengajak Sigi bermain. Sewaktu sedang bermain, Amel suka melantunkan doa makan. Dia lancar mengucapkannya.

Sigi lalu bertanya, "Mel, kok bisa membaca doa?"

"Iyalah, kan diajarkan guru di TK."

"Kata Mama, cuma di sekolahnya Sigi di TK Al-Quran yang bisa cepat membaca Al-Quran."

"Di TK kami juga diajarkan, Sigi."

"Waduh, Mama bohong berarti."

Setelah bermain dengan Amel, Sigi segera menemui Mama. Tahu tidak, Pa, Sigi masih saja dibohongin Mama.

"Iya, tapi di TK-nya Amel, tidak selengkap TK-nya Sigi."

"Buktinya, Amel juga bisa doa-doa lainnya. Sama seperti doa-doa yang Sigi hafal lho, Ma."

Mama kemudian terdiam lama, Pa. Sebenarnya Sigi suka gerah ketika harus ke sekolah kemudian memakai penutup kepala.

"Apa itu harus, Pa?"

"Pakai jilbab?"

"Iya."

"Tidak haruslah, apalagi buat anak-anak tidak wajib."

"Iya, Sigi lihat Amel dan teman-teman lain juga ke TK tidak pakai gituan. Tapi mereka lancar membaca doa-doa."

"Iya, tapi di sekolah Sigi kan aturannya begitu. Jadi ikut dulu aturannya."

Seminggu kemudian, Sigi baru berani bilang sama Mama, kalau Sigi gerah memakai penutup kepala. Tahu apa reaksinya, Pa?

"Kalau begitu, tidak usah sekolah. Mau dibikin bagus, tidak mau."

Begitu jawaban Mama, Pa. Mama marah-marah sambil benerin jilbabnya. Oh ya, Pa, Mama sekarang sudah pakai jilbab.

"Iya, Papa tahu. Itu pilihan Mama. Jika Sigi besar nanti, Sigi juga berhak memilih. Tentu saja tidak boleh dipaksakan."

"Pa, Sigi boleh nanya sama Papa?"

"Nanya apaan?"

"Kok, Papa sama Mama tidak tinggal serumah seperti Kakek dan Nenek?"

"Hmm... Tunggu ya, Papa mikir dulu apa jawaban sederhananya."

"Jangan lama-lama, Pa."

"Iya, tidak lama... Hmm..."

Setelah beberapa menit kemudian...

"Begini, Papa dan Mama sudah bercerai. Cerai itu, kalau misalnya Papa sama Mama sudah tidak sejalan lagi."

"Sejalan?"

"Iya, maksudnya Papa punya pilihan jalan lain. Begitu juga Mama."

"Terus Sigi harus milih jalan mana?"

"Ya, Sigi tidak harus memilih jalan mana. Papa ada untuk Sigi. Begitu juga Mama ada untuk Sigi."

"Kalau Sigi butuh Papa dan Mama?"

"Kan, bisa sewaktu-waktu Papa dan Mama sama-sama dengan Sigi."

"Tapi tidak sering."

"Iya, Sigi... Cerai itu karena agama juga sudah melarang Papa dan Mama sama-sama serumah."

"Kenapa agama melarang?"

"Ya, karena sudah begitu aturannya. Nanti Sigi dari TK terus lanjut sekolah, maka Sigi akan paham soal itu."

"Padahal sekolah Sigi, kata Mama sekolah agama. Tapi Sigi belum dapat pelajaran itu selain membaca, menulis, menggambar, dan baca Al-Quran."

"Iya, karena Sigi belum cukup umur. Nanti Sigi juga akan lebih banyak belajar soal agama. Semua agama. Di TK hanya sebagai dasarnya saja."

"Papa agamanya sama kan dengan Mama?"

"Iya, papa juga punya agama yang sama dengan Mama. Nanti kalau besar, Sigi juga berhak memilih agama apa yang Sigi mau."

"Kata guru di sekolah, tidak boleh ikutan agama lain. Harus tetap dengan agama Islam."

"Itu kata guru. Kalau kata Papa, nanti Sigi berhak memilih mana yang baik untuk Sigi."

"Agama yang baik itu apa sih, Pa?"

"Semua agama baik. Karena semua mengajarkan kebaikan."

"Kalau Sigi memilih semua agama itu?"

"Memahaminya saja. Tidak harus memilih semuanya."

"Memahami itu seperti apa?"

"Sigi mengerti. Sigi tahu apa yang baik dari semua agama. Kemudian Sigi yang menentukan. Seperti Sigi hendak memilih pensil berwarna, yang sesuai dengan yang Sigi mau pakai untuk mewarnai gambar Sigi."

"Sigi suka warna merah."

"Semua warna itu indah. Mau merah, biru, hitam, putih, kuning, dan lain sebagainya. Biar mereka berbeda-beda, mereka tetap disebut warna, kan?"

*Kemudian Sigi dijemput kakeknya*

Castro Eropassi

Tato di punggung Bro Donna. Foto: Koleksi pribadi

Bangku dan meja di SMP Negeri 2 Passi kala itu kerap dipenuhi coretan nama. Selain tinta pena, spidol, Tipp-Ex, nama-nama itu juga diukir menggunakan paku atau benda tajam lainnya. Saya salah satu yang gemar mengukir nama di bangku, meja, dinding, atau pintu kelas.

Saya belum mengenal seni tato sewaktu SMP. Nanti setelah SMA, saya mulai mengenal band-band cadas bertato seiring ramainya VCD player. Dari sanalah, kami yang terbiasa mengukir nama-nama di bangku, meja, dinding, atau toilet sekolah, mulai bersulih mencoret kemeja sekolah.

Logo-logo band luar negeri seperti Guns N' Roses, Metallica, Scorpion, Sepultura, dan masih banyak lagi, kerap kali kami ukir di bagian bawah kemeja sekolah. Satu-satunya bagian paling aman, sebab jika hendak ke sekolah kami diwajibkan memasukkan bagian bawah kemeja serapi-rapinya ke dalam celana. 

Seiring waktu, di desa Passi (Eropassi), saya mulai mengenal seorang kerabat yang bernama Fidel Pranata Damopolii. Ayahnya bernama Syahrial Damopolii, salah satu politikus yang cukup dikenal. Nama Fidel mirip dengan nama tokoh revolusioner asal Kuba, Fidel Castro yang kerap disiarkan di televisi. Kebetulan, selain disapa Donna, ia juga memiliki a.k.a Fidel atau Castro.

Bahkan, di punggungnya bertengger tato bertuliskan Castro. Meski gaya hidupnya dikenal cukup hedonis kala itu sebab ayahnya menjadi Ketua DPRD Provinsi Sulawesi Utara, Bro Donna tidak pernah berjarak dengan warga di desa kami. Bukan itu saja, pergaulannya dikenal hingga di pasar-pasar, lingkungan kumuh, bahkan di mana saja.

Sejak itulah, saya mulai tertarik dengan tokoh Fidel Castro yang menjadi panutannya. Kala itu, membaca buku-buku tentang Fidel Castro cukup sulit. Apalagi zaman itu belum ada internet masuk desa, apalagi gadget berfasilitas internet. Cara satu-satunya berkumpul dengan kerabat-kerabat yang lebih tua, dan yang sudah banyak tahu tentang Sang Comandante itu.

Dari cerita-cerita itulah, saya mulai mengenal Fidel Castro, Che Guevara, Mao Zedong, Pol Pot, Lenin, Ho Chi Minh, yang hampir tidak pernah saya temui dalam mata pelajaran sejarah di sekolah. 

Sampai suatu hari, saya berkesempatan duduk melingkar dengan beberapa senior di desa saya. Salah satunya Bro Donna. Ia ramah dan suka tertawa. Ia tidak mau dituakan atau dianggap lebih tinggi derajatnya dengan siapapun. Ia sangat egaliter.

Seiring waktu, Bro Donna akhirnya mengikuti langkah ayahnya di dunia politik. Ia terpilih menjadi salah satu anggota legislatif di DPRD Provinsi Sulawesi Utara. Meski begitu, jika sesekali ia pulang ke desa kami, ia tetap menyempatkan diri untuk duduk bercengkerama dengan warga, pun dengan teman-teman sebayanya.

Kemudian, sakit merenggut usianya yang masih terlalu muda, pada Selasa, 28 September 2010. Ia masih berstatus anggota legislatif ketika berpulang. Pada hari pemakamannya, saya belum pernah melihat pelayat sebanyak itu. Mobil-mobil berderet di tanah lapang di depan rumahnya, pun mengular di sepanjang jalan hingga ratusan meter.

Hari ini, Sang Comandante, Fidel Castro, juga berpulang. Antara Kuba dan Eropassi. Saya seketika ingat dengan Bro Donna. Ia salah satu yang menjadi inspirasi untuk mengukir tubuh saya dengan wajah Sigi, Donal Bebek, dan Nietzsche.

Selamat jalan Comandante, semoga kalian bertemu di sana, reriungan bersama teman-teman lainnya. Dan merayakan pertemuan itu sembari membakar cerutu...

Wednesday, November 16, 2016

Gladys di Kota(razia)mobagu (10)


"Jika kau tidak sungguh-sungguh pada jalan itu. Kau akan luput membacai tanda-tanda." (Baca sebelumnya: Bagian 9)

Perkataan Lina lumayan menciptakan celah di jemari Gladys. Gundah yang sedari tadi di genggamannya, perlahan-lahan bercereran dari sela-sela jemarinya.

"Dys. Niatmu untuk menjadi jurnalis itu mulia. Bukan karena ingin uang. Apalagi profesi itu harus memiliki hati." Lina kali ini tiba-tiba menjadi begitu bijaksana.

"Iya, Lin. Menjadi jurnalis tidak akan kaya harta. Tapi kaya ilmu. Lumayan, untuk kasih pesan yang benar ke anak-cucu kita nanti."

"Jadi, aku yang tidak bercita-cita jadi jurnalis, bakal kasih pesan yang salah ke anak-cucuku?"

"Aduh, kau ini mau jadi apa pun, pasti pesan-pesanmu ke anak-cucu yang tidak benar semua."

"Gila!" Kali ini guling mendarat tepat di wajah si empunya.


***


“Jadi, ada mantan wali kota yang terlibat?” tanyaku kepada Yudi. Dia seorang jaksa di Kejaksaan Negeri Kotamobagu.

“Iya. Aku sengaja membocorkan ini kepadamu. Hanya kau yang bisa kupercaya,” kata Yudi.

Sebundel dokumen ia serahkan. Di dalamnya, berisi data keterlibatan beberapa pejabat, juga upaya penghilangan bukti dari pihak Kejaksaan. Termasuk data keterlibatan mantan wali kota di Kotamobagu. Meski mantan wali kota itu sudah berakhir masa jabatannya, tapi di tahun ini, kasus korupsi itu terkuak dan satu per satu menyeret tersangka ke dalam jeruji. Salah satunya pamannya Indra, anggota dewan di DPRD Kotamobagu.

“Terima kasih, Yud. Kau sudah banyak membantu sejauh ini.”

Setelah beberapa jam mengobrol dengan Yudi, di salah satu jembatan yang terbilang cukup sepi itu, aku pamitan. Yudi pun bergegas pergi mengendarai mobilnya.

Tiba di kamar, aku segera membuka isi ransel. Laptop kukeluarkan, menyusul sebuah map berisi dokumen.

Aku duduk sejenak. Kemudian menghubungi Deni. "Den, kau di mana?"

"Baru mau ke kedai kopi, bikin berita. Kau?"

"Aku baru sampai di kos. Aku punya data baru soal kasus pamannya Indra. Tapi sebaiknya kita ke rumahku saja."

"Oke. Kau bisa duluan. Aku segera menyusul."

Usai menelepon Deni, aku tiba-tiba ingat Gladys. Terlalu sibuk dengan semua urusan ini, membuat kami seakan berjarak. Padahal hubungan kami baru saja sedang merangkak.

"Hei, di mana?" Aku putuskan menghubungi Gladys.

"Sigid. Senang mendengar suaramu. Aku lagi jalan dengan Lina. Kau?"

"Maaf, Dys. Akhir-akhir ini aku terlalu sibuk. Aku sedang bersama Deni. Rencana mau ke rumahku di Desa Passi. Ada urusan yang harus diselesaikan."

"Iya, aku mengerti. Pasti berat untuk persahabatan kalian." Gladys ternyata mengikuti setiap pemberitaan terkait kasus pamannya Indra. Juga mengenai perkelahian Umar dan Indra dari pemberitaan beberapa media online lokal.

“Iya, Dys. Terima kasih atas pengertiannya.”

“Kau sudah menghubungi aku, itu sudah lebih dari cukup. Hati-hati di jalan, ya. Kapan-kapan ajak aku ke desamu."

"Iya, pasti."

Aku kembali memasukkan laptop dan dokumen ke dalam ransel. Lampu sengaja kunyalakan, sebab hari sudah sore menjelang malam. Setelah mengunci pintu, aku menghidupkan sepeda motor.

Desa Passi, hanya sepuluh menit perjalanan dari kos. Meski jarak dari desaku ini menuju Kota Kotamobagu tak begitu jauh, tapi aku memilih menyewa kamar kos di kota. Aku terlalu sering pulang malam, dan udara dingin sepanjang perjalanan menuju rumah, bisa berakibat buruk bagi kesehatan. Bakal tipis dada ini diparut dingin.

Jalan menuju desaku menanjak sebab berada di puncak. Udaranya dingin. Aku sengaja memilih di desa, sebab dokumen yang aku dapatkan kali ini cukup rahasia. Setidaknya cemas bisa berkurang, ketika membahasnya bersama Deni di rumah, ketimbang di kamar kos.

Sudah hampir sebulan, aku tidak berkunjung ke rumah. Ayah dan ibu pasti bakal mengajakku berbincang lama. Aku lantas memilih menuju rumah kakak. Dia kakakku satu-satunya. Sebelumnya aku sempat menghubunginya. Rumahnya tengah kosong, sebab mereka sekeluarga berkunjung ke rumah mertuanya. Aku mengantongi kunci duplikat rumah kakakku. Sudah sejak SMA.

Aku coba kembali menghubungi Deni. Tak diangkat. Mungkin ia tengah di perjalanan. Aku segera masuk ke dalam rumah kakakku. Baru saja mau menutup pintu, sebuah sepeda motor terlihat masuk ke halaman rumah. Itu motor Deni. Ia memang tahu letak rumah kakakku. Kami dulu sering ke sini, merampah bebek. Umar dan Deni yang kerap jadi koki. Sementara aku dan Indra hanya bisa menyalakan api dan menghabiskan makanan.

“Den, dokumen yang aku dapatkan ini cukup penting,” bisikku di depan pintu.

“Soal kasus pamannya Indra?”

“Iya. Tapi ternyata kasusnya sampai merembet kepada para pejabat tinggi.”

“Wah!”

“Dan kau tahu, yang terlibat adalah mantan wali kota!”


Deni ternganga. Ia segera merebut dokumen itu. Membaca dengan saksama. Matanya membelalak sebab mantan wali kota itu cukup ia kenal. Salah satu putri wali kota itu pernah berpacaran dengan Deni.

(Bersambung)