Sunday, March 31, 2013

Sebuah Rasa 'Kesemutan'

Barusan saya minum kopi di teras rumah, karena terlalu keasikan BBM-an, pas lihat cangkir kopinya sudah dikerumbuni semut. Saya singkirkan semut-semut itu dengan meniup-niup cangkir kopinya. Ada seekor semut yang tak sengaja tertiup masuk kedalam cangkir kopi, untung kopinya sudah tidak terlalu panas tadi, sedangkan teman-temannya yang lain sedang sibuk menyelamatkan diri. Kucari-cari dan kusendoki semut itu lalu kuletakkan ke lantai, semut itu tergolek lemas---basah. Tapi salah satu ujung tungkai kakinya masih bisa ia gerak-gerakkan---masih bernyawa. Di samping cangkir kopi masih banyak teman-temannya yang lalu-lalang, saya tetesi lantai itu dengan sedikit air kopi yang membentuk sebuah kubangan air hitam besar, tentu saja besar untuk ukuran semut. Seketika mereka mengerubuninya. Tak jauh dari situ saya pindahkan posisi semut yang barusan tenggelam itu dekat dengan kubangan air kopi itu. Ada hal yang menarik di sini, salah satu semut yang posisinya sedang asik menyeruput air kopi, dan sangat dekat dengan semut yang tergolek tak berdaya itu, selang dua puluh detik, semut itu beralih menengok temannya yang sedari tadi tergolek lemas tak jauh dari oase air kopi itu. Entah kelihatan seperti ia meniup-niupnya biar temannya itu cepat kering dari basah kuyup, dan karena keterbatasanku sebagai manusia tak mampu menyaksikan kejadian itu lebih jelas, sebatas mengira-ngira. Tak lama kemudian tubuh semut itu seperti tampak berbentuk selayaknya semut. Satu-persatu tungkai-tungkai kakinya mulai bergerak perlahan, tubuhnya yang tadi basah dan lebih mirip jenazah tiba-tiba bernyawa lagi. Si semut penyelamat tadi seketika membopongnya lalu membawanya pergi. Yang lebih menarik lagi, dari dua pilihan yang saya berikan. Pilihan pertama sebuah tetesan air manis gula di kopi, dan pilihan kedua seekor semut yang sedang sekarat, makhluk kecil itu lebih memilih menolong temannya yang sekarat. Dan itulah sebuah rasa 'kesemutan' (plesetan dari 'kemanusiaan') bagi semut. Mereka makhluk yang tak berpikir, katanya. Mereka hanya menggunakan insting, katanya. Tapi yang barusan terjadi itu adalah sebuah bentuk keberpikiran dari semut. Kita manusia juga binatang, hanya saja memiliki kemampuan linguistik yang tinggi. Makanya jangan pernah sombong menjadi manusia, dan selalu saling memanusiakan manusia lainnya. Atau untuk bahasaku sendiri "saling memakhlukkan makhluk lainnya".
Powered by Telkomsel BlackBerry®