Friday, May 17, 2013

Hari Spesial

Kemarin seorang bayi laki-laki mungil hadir sudah di tengah keluarga baru ini. Pasangan keluarga Decky Prakoso dan keponakan perempuanku Sri Dindra Mokodongan. Mereka yang selama aku di Bali dengan baik hati berkenan menampung dan menjadi persinggahan sementaraku dari perjalanan ini. Akhirnya peluit untukku kembali, tertiup sudah. Tangis bayi mungil ini adalah pertanda bahwa aku harus kembali. Karena selama aku di Bali, kelahiran ini yang aku tunggu-tunggu. Sekadar melihat senyum malaikat kecil ini.

Setelah sebelumnya diprediksi akan terlahir normal mungkin tepat pada gerhana matahari cincin kemarin. Atau juga tepat pada pemilihan Gubernur Bali yang baru, tanggal 15 Mei kemarin biar momennya lebih terasa spesial. Akhirnya tanggal 16 Mei tepat pukul 15:30, bayi ini lahir dengan operasi caesar. Tak ada pilihan lain karena itu jalan yang terbaik. Tapi, untuk memprediksi bahwa kelahiran bayi ini jatuh pada momen gerhana atau pun pemilihan Gubernur, bagiku tak tepat. Karena sebenarnya kapanpun waktunya, harinya, bulannya, atau tahun kelahirannya, itu yang menjadi hal yang begitu spesial bagi kedua orang tua sang bayi. Detik itu tak akan pernah terbayarkan oleh kehadiran purnama, gerhana, bahkan oleh riang keramaian jutaan para pendukung kandidat Gubernur. Spesial selalu subjektif.

Sebuah proses kelahiran yang akhirnya dengan sehat walafiat kedua ibu dan bayi ini sekarang bisa menghirup oksigen gratis lagi dari Yang Maha Esa. Oksigen yang selama ini tak pernah kita sadari bahwa begitu besar nilai kasih Tuhan yang terkandung di antara udara yang melebur besama kehidupan kita. Dan setelah 9 bulan lebih dikandung, bayi ini akhirnya bisa menghidu aroma dunia. Datang ke kefanaan dengan telanjang dan tanpa berdosa. Hadir dengan kekosongan semacam lembaran kertas putih tanpa setitikpun noda. Satu keajaiban yang dianugerahi Tuhan kepada kita manusia. Keajaiban yang tiada tara.

Bayi mungil, coba kalau bisa kau lihat malam ini bulan di langit melengkung membentuk senyuman. Menyabit langit dan menyambutmu dengan keindahan malamnya. Meski bintang tak bertaburan pada malam ini. Bintang-bintang itu hanya menunggu untuk kau temukan nanti. Menunggu kau menggeledah langit, kemudian menemukan bintangmu. Jangan takut dengan dunia ini, karena miliyaran manusia telah membuktikan mampu berpijak di atas bumi ini. Kamu akan menjadi ksatria kelak.

Kemarin itu, aku menyaksikan pelukan-pelukan yang penuh arti. Melihat buliran air mata yang jatuh oleh kebahagian. Air mata oleh tantenya, oleh nenek, ayah dan ibundanya. Aku menyaksikannya dengan mata buram, karena mataku pun penuh tertutup air mata. Tak ada kalimat yang terlisan selain puji dan syukur kepada Yang Maha Kuasa.
Selamat datang keponakan baruku. Pamanmu ini yang mungkin tak akan sempat melihatmu tumbuh besar dan bermain dengan riang, meninggalkan satu hadiah mainan berupa miniatur motor kecil Ayahmu, untukmu.

Powered by Telkomsel BlackBerry®