Friday, May 3, 2013

Kopi “Nuklir” Kotamobagu

Saya menetap di Bali sekarang. Sudah sejak bulan November tahun 2012 lalu. Pada awal Januari tempat wisata terakhir di Bali yang belum saya kunjungi adalah Kintamani. Daerah puncak dengan pemandangan Danau Batur dan Gunung Batur.

Setelah melakukan perjalanan kurang lebih hampir tiga jam. Udara sejuk itu mulai terhidu, meski masih sangat siang karena saat itu jam baru menunjukan pukul 13:00, kabut yang meruap tampak mulai menyarukan pemandangan di bawah sana.

Di tengah udara yang dingin ini satu hal yang paling cepat melesak dalam pikiranku adalah secangkir kopi. Selain tujuanku kemari untuk menyaksikan panorama alam ini, lidahku ingin merasakan gigitan kopi Kintamani yang katanya cukup menggigit layaknya gigitan anjing Kintamani.

Di sebuah rumah makan yang posisinya terletak paling di atas, namanya rumah makan Gunawan (entah kenapa namanya tidak 'kebali-balian'), kami selonjoran sembari pandangan menyapu segala yang memesona di depan mata. Kabut yang sesekali datang, kemudian hilang kembali entah kemana.

Kata orang-orang sini, pada pukul 15:00 nanti, kabut itu akan menutupi pandangan kita hingga malam menjelang. Untunglah masih tersisa dua jam untuk kami berpuas diri. Pesanan kopi Kintamani datang juga, tapi ini bukan kopi Luwaknya, hanya kopi biasa yang kalau dilihat warnanya cukup hitam pekat. Kopi ini dibuat dengan air yang dijerang bersamaan dengan kopi dan gula. Mirip dengan caraku membuat kopi Kotamobagu di rumah.

Setelah menyeruput sebelum keburu dingin, karena udara di sini cukup cepat membuat makanan dan minuman hangat menjadi beku sekejap. Sekali seruput, rasa pahitnya menyeruak menebal di dinding langit-langit mulutku. Rasa manis yang hadir belakangan, kemudian mengalir hangat melewati tenggorokan dengan rasa yang begitu sempurna. Rasanya tak perlu ke surga. Setiap menikmati minum kopi, pikirku adakah tanaman ini di surga kelak.

Tapi satu hal yang membuatku merasa istimewa adalah sekejap saja tubuh saya seperti berdislokasi, dari puncak Kintamani ini, lalu bertukar tempat kembali ke kota asalku, Kotamobagu. Rasa kopi ini memetik momen-momen di mana saya masih berada di sana.

Di salah satu kabupaten di provinsi Sulawesi Utara, kabupaten Bolaang-Mongondow adalah tempat lahirku. Kotamobagu dulunya adalah nama Ibukota Kabupaten ini, tapi setelah pemekaran terjadi, Kotamobagu kini menjadi Kotamadya atau Kota, karena untuk sekarang istilah Kotamadya telah dirubah menjadi Kota. Kemudian Ibukota Kabupaten berpindah tempat di kota Lolak, salah satu kota di pinggiran pantai di daerah utara. Sedangkan Kotamobagu adalah kota yang jauh dari pantai dan dikelilingi pegunungan, ada satu gunung yang paling mencuat dari sekian banyak barisan gunung dan perbukitan, Gunung Ambang namanya. Dan desa saya, desa Passi berada di daerah puncak. Dari desa kami bisa terlihat pemandangan kota Kotamobagu terhampar luas. Hanya butuh sepuluh menit untuk turun ke kota.

Dulu kopi Kotamobagu ini adalah tanaman yang wajib ditanam oleh penduduk sini, di desaku saja masih ada sebagian penduduk yang tetap mempertahankan tanaman kopi peninggalan jaman penjajahan Belanda itu.

Ada satu kisah yang sangat menohok hatiku, cerita ayahku bahwa di setiap lesung yang terparkir di rumah-rumah penduduk, di dasar ceruk lesung selalu dikasih plakat dari tembaga yang berguna agar penjajah waktu itu bisa mengetahui kalau kita, telah memakai lesung itu untuk menumbuk sendiri biji kopi atau padi. Dan siapa saja yang ketahuan akan dihukum tembak mati.

Bayangkan saja, untuk menikmati secangkir kopi saja nyawa menjadi taruhan. Di hitam cangkir kopi kita sekarang, selalu ada cerita kelam dan perjuangan dibaliknya. Ada kisah penindasan juga kisah heroik yang tenggelam di hitam kopi. Karena dengan tindakan sewenang-wenang penjajah saat itu, bangkit jiwa untuk melawan dari rakyat.

Minuman kopi pun bisa menciptakan sebuah revolusi. Sebagian dari kita mungkin tahu, bahwa di setiap rovolusi yang terjadi di dunia, ada gelas-gelas kopi yang ikut andil menghadirkan buah-buah pemikiran. Minuman ini purba dan bersejarah.

Sesudah masa kemerdekaan Republik Indonesia tahun 1945, hingga kini kopi Kotamobagu masih tetap bertahan dari segala perubahan jaman. Dari mulai hanya tanaman kopi yang wajib ditanam di lahan belakang rumah atau di lahan perkebunan penduduk setempat. Meski banyak juga yang telah menggantinya dengan tanaman yang lebih menjanjikan seperti tanaman vanilli dan cengkeh, karena waktu itu harga vanilli dan cengkeh sempat melambung tinggi.

Tapi, hingga sekarang tanaman kopi ini  masih terus kokoh menancapkan akar purbanya di daerah kaki Gunung Ambang yang saya sebutkan tadi di atas, tepatnya di kecamatan Modayag, desa-desa di kecamatan ini masih menjadi pusat penghasil kopi Kotamobagu terbanyak di daerah ini. Desa seperti Purwerejo dan Liberia, juga desa-desa lainnya.

Mungkin bagi orang Jawa nama desa Purwerejo tak begitu asing di telinga. Karena memang di kecamatan Modayag ini ada beberapa desa yang menjadi daerah transmigrasi penduduk dari pulau Jawa. Mereka turut melestarikan tanaman kopi ini hingga sekarang. Kopi Kotamobagu adalah jenis kopi arabica, tumbuh pada ketinggian 600-2200 m di atas permukaan laut, di kaki dan punggung Gunung Ambang yang menjulang jangkung.                

Kopi Kotamobagu ini sudah go International dan menjadi minuman dalam acara gala dinner antara pemerintah Republik Ceko dan Kedutaaan Besar Indonesia di sana. Menjadi trade mark provinsi Sulawesi Utara, kopi Kotamobagu menjadi satu-satunya produk kopi pilihan dan cukup berkualitas di Sulawesi Utara yang tidak kalah dengan jenis kopi-kopi lainnya di Indonesia ataupun di dunia. Meski kita tahu bahwa soal cita rasa mungkin lebih bersifat objektif, tapi untuk bisa berkomentar lebih anda harus mencoba kenikmatan kopi Kotamobagu ini.

Ada kedai kopi di Kotamobagu yang sekarang cukup populer meski tempatnya agak kecil layaknya kedai-kedai kopi biasa. Terletak di Desa Sinindian yang tak jauh dari pusat kota Kotamobagu. Tepat di depan lapangan sepakbola desa Sinindian. Tak sulit untuk menemukannya karena kota ini tak terlalu besar. Namanya juga mirip dengan nama tempat minum kopi di kota Manado yakni Jarod (jalan roda).

Tapi ini bukan sederetan kedai-kedai kopi, tapi hanya satu kedai kopi saja. Mungkin hanya meminjam kepopuleran nama Jarod, tapi menurutku sebaiknya nama kedai kopi itu adalah Kedai Kopi Abak (sebutan di sini untuk orang tua yang artinya sama dengan sebutan 'Abah'), karena Abak adalah pemilik dan sekaligus menjadi peramu minuman kopinya cukup familiar juga di seantero kota Kotamobagu.

Kedai kopi ini dilengkapi juga dengan koneksi jaringan internet wi-fi, dengan dipungut biaya langganan hanya Rp 10.000 setiap bulannya untuk perorangan. Abak tak ketinggalan zaman meski usianya hampir menginjak 50 tahun. Selain untuk menarik pelanggan, Abak cukup tahu apa yang dibutuhkan orang-orang saat ini untuk bisa mengakses informasi selain tumpukan koran di meja rotannya.

Banyak mahasiswa dan wartawan yang sering mangkal di sini. Atau segelintir orang yang ingin duduk minum kopi sembari bertukar cerita. Sesekali juga ada pejabat-pejabat kabupaten yang berkesempatan datang dengan para wartawan di sini, kemudian berbincang-bincang soal isu-isu hangat perkembangan politik di daerah ini, pun di negara ini. Untuk secangkir kopi dan roti bakarnya, harganya cukup murah meriah karena uang limabelas ribuan tak akan tandas di kantongmu.

Sebenarnya selain di kedai kopinya Abak ada beberapa tempat tongkrongan lainnya juga yang menyajikan minuman kopi di kota ini tapi tak sepopuler tempatnya Abak. Mungkin karena rasanya yang khas mampu meringkus hasrat orang-orang untuk selalu kembali ke sini. Kopi ini dibikin dari sejuta pengalaman hidup Abak dengan cerek kopinya.

Cara membuatnya pun begitu sederhana karena cukup menjerang air dengan campuran kopi Kotamobagu dan gula yang hanya Abak sendiri tahu takarannya. Karena orang-orang yang datang sibuk berdiskusi begitu pun juga saya. Jadi komposisinya tak begitu saya ketahui dan biar saja menjadi rahasia perusahaannya Abak. Minuman itu tersaji begitu cepat dan cekatan seperti bukan seorang tua renta yang membikinnya.

Sempat saya berpikir, jika Abak nanti mangkat, posisinya akan digantikan oleh siapa, karena tak pernah saya lihat ada orang lain di sana selain tubuh ringkih tapi cekatan ini. Semoga saja Abak selalu dianugerahi kesehatan dan umur panjang agar kami masih tetap bisa menjadi bala seruputnya. Satu yang Abak tak bisa lakukan adalah menahan tidur dengan lebih lama, pukul 01.00 lewat tengah malam ia sudah dibuat menyerah oleh kantuknya. Dan kami pun memakluminya.

Hingga hari ini saya cukup lega karena meski telah menetap di Bali, tapi masih saja sering dikirimi kopi Kotamobagu oleh keluarga saya. Tapi untuk minum kopi sepertinya meski kita meminum kopi jenis apapun, selalu ada hal yang istimewa di setiap rasanya. Ada keselarasan antara rasa pahitnya yang begitu intim melebur dalam hitamnya. Minuman yang selalu membuat kita tenang dan berpikir positif, membuat otak kita berputar dan selalu segar.

Pernah saya membaca bukunya Dewi Lestari, Filosofi Kopi. Di situ saya bersama seorang teman tergerak hati kemudian berencana ingin membuka rumah kopi sekaligus rumah baca di kota Lolak. Kami memilih kota itu karena selain tak ingin bersaing dengan kedai kopinya Abak, atau kalah bersaing dengan Abak, lahan di sana yang akan digunakan untuk membangun rumah kopi itu adalah satu-satunya lahan yang tersedia dan milik teman saya. Selain untuk menghemat biaya yang akan keluar nanti dengan tidak perlu menyewa tempat atau lahan. Tapi nanti sekembalinya kami dari perjalanan mengelilingi Nusantara untuk bertemu sejuta barista. Teman saya pun masih akan menyelesaikan studinya di kota Makassar. Semoga saja terwujud. Karena apapun soal minuman yang satu ini, itu adalah mimpi yang menunggu untuk diaduk kemudian disajikan bahwa mimpi itu ada dan bisa terwujud jika kita berkemauan keras.

Pikirku, jika saja presiden Korea Utara dan Korea Selatan mau meluangkan waktu untuk duduk bersama ditemani cangkir-cangkir kopi. Mungkin saja tidak akan ada peperangan itu. Karena sebenar-benarnya seni perang telah dianalogikan secara sederhana oleh secangkir kopi. Dari dua sisi, pahit dan manis. Dikotomi antara hitam dan putih tak perlu ada. Secangkir kopi telah memadukan keduanya menjadi sesuatu yang begitu nikmat. Bahwa pahit dan manis hanyalah dua rasa yang bisa disinergikan dan menjadi minuman yang begitu nikmat. Bukankah hidup ini untuk dinikmati. Dan perang dalam diri manusia adalah bagaimana kita mampu mengendalikan diri kita kemudian bisa hidup damai dalam segala bentuk perbedaan. Keseimbangan hidup ada dalam secangkir kopi, dan seni perang dari segala perang bisa kita rasakan ketika menyeruput minuman ini. Seni perang adalah kedamaian.

Secangkir kopi adalah mimpi. Hitamnya adalah warna pembuka kita saat bermimpi. Hari ini, mau pagi, siang, sore atau malam. Saya masih berkesempatan beranjak untuk sekadar menjerang segelas air, dengan dua sendok kopi Kotamobagu, satu sendok gula pasir "Persia", diaduk melawan atau pun searah jarum jam hingga uapnya berfatamorgana. Kopi "Nuklir" Kotamobagu siap diseruput. Meledak begitu nikmat di dalam mulut. Lengkaplah sudah komposisi hari ini. Sederhana.

Artikel ini saya kirim di http://www.minumkopi.com/