Monday, May 13, 2013

Pondok Patah Hati

Awal September 2012, ada seorang pincang coba melaju di antara kerak-kerak bumi. Sesekali tersandung di antara bebatuan cadas yang mencuat dari tanah kemarau sebuah negeri. Ia ingin mencari sebuah jawaban atas pertanyaan yang mengungkungnya selama berbulan-bulan dalam kamar hitamnya. Pertanyaan yang sama pernah terlisan bertahun-tahun yang lalu. Siapa kita?

Tiga bulan sebelum ia merangsek beranjak dari ranjang itu. Ia terbaring karena musibah yang entah kenapa tak henti-hentinya menggerogoti jasadnya  dan karena kesialannya itu, julukan si Donal Bebek dilekatkan kakak perempuannya sejak mereka mempunyai hobby yang sama membaca komik-komik Paman Gober. Hampir semua koleksi komik Paman Gober milik kakak perempuannya dilahap dengan ketawa. Jelas saja, si Komikus pencipta bebek-bebek lucu itu berhasil menyusupkan rentetan cerita-cerita yang hingga sekarang masih tersimpan di memori jangka panjang mereka.

Lanjut... ke perjalanannya yang diawali dengan menunggangi beratus-ratus potongan besi yang membentuk seekor burung dan terbang mengalahkan teori gravitasi bumi. Seperti berat hanyalah sesuatu yang bisa dimodifikasi hingga bisa saling bersedekap dengan udara. Di atas sana, pemandangan yang ia lihat dari ketinggian sungguh indah. Awan-awan perak yang berarak-arak di hamparan benteng biru lazuardi langit. Pun samudera tenang serupa ubin biru mengkilat yang siap menanti jika saja potongan-potongan besi ini dilepaskan seketika oleh udara dari dekapannya. Jatuh lalu diketawai Newton. Terbang tanpa sayap kita sendiri itu... seperti baru saja menyetorkan nyawa kita dengan bayaran sejuta pula.

Sejam lebih saja, daratan tanah Daeng sudah terlihat datar di bawah sana, tampak seperti kita membuka google map di ponsel. Berpetak-petak, terkotak-kotak, semrawut, dan diiris meliuk-liuk oleh jalanan dan belataran sungai-sungai yang seperti irisan pisau seorang anak kecil di atas kue tart, anak kecil yang baru saja belajar memegangi pisau.
Burung besi ini pun mendarat empuk di atasnya. Sempurna.

Panas meruap seketika, ini kota yang bermatahari lebih dari satu, pikirnya. Jemputan dari saudaranya datang juga, seperti biasanya jika seseorang baru saja menyambangi sebuah kota baru. Kepalanya pasti menempel di kaca mobil dengan pandangan menyapu habis jalanan yang dilewati.
Tak selang berapa lama, tiba juga ia di satu areal perumahan. Hanya dua hari ia di sana, kemudian pamit dan berterima kasih atas kebaikan hati saudaranya yang berkenan menjemputnya di bandara, dan mau menampungnya selama dua hari.
Lalu ia segera mengabari teman-temannya, mereka yang menjadi tujuannya ke kota Daeng ini.
Jemputan kedua berlangsung di anjungan pantai Losari. Rama nama si penjemput itu. Baru kali ini ia bertemu dengan Rama, setelah sebelumnya mereka berdua sering komunikasi di BBM.

Dua jam, setelah mereka mampir dulu di Asrama Bogani, sebuah asrama yang dikhususkan untuk para pelajar dari Bolaang-Mongondow. Akhirnya mereka berdua sampai juga di kos-kosan anak-anak Kotamobagu. Kosan ini diberi nama PPH, akronim dari Pondok Patah Hati. Dari namanya bisa kita tebak, ada yang sedang patah hati lantas dengan segera melekatkan nama itu di kosan ini. Mungkin saja si pemberi nama sedang patah hati karena masalah-masalah kompleks dari sekumpulan mahasiswa yang hidup jauh dari rumah dan kampung halaman. Masalah belum dapat kiriman uang, masalah perkuliahan, atau mungkin masalah percintaan. Entahlah, tapi PPH adalah destinasinya, dan sekarang ia sudah berada di sana.

Hanya ada beberapa anak-anak kos di sini yang ia kenal dan sudah sering ketemu di Kotamobagu. Ada Galing, Ipay, Rizqi, Abol, dan Aan. Yang lainnya sudah berteman di BBM tapi baru sekarang berkesempatan bersua secara langsung. Si Sandry, Rian, Eky, Wawan, dan Oi. Ada juga Dito yang meluangkan waktunya dari Jakarta untuk bisa ke sini, juga Ipan yang karena terdorong fanatisme berlebihnya atas aliran musik yang diusung sebuah band ibukota bernama Noah yang dimotori Ariel dkk. Ia sempat diajak Ipan untuk menonton konser band Noah ini, menyaksikan euforia berlebihnya si Ipan ketika screaming melihat band pujaannya itu konser adalah pemandangan yang paling absurd di muka bumi (ini fitnah yang menyehatkan, ketawa).

Mereka ramah, humoris, interaktif, dan begitu cepat berbaur. Sehari dua hari saja, mereka sudah seperti kawan lama. Meski ada beberapa dari mereka yang masih butuh waktu untuk bisa saling mengenal lebih jauh. Mereka-mereka yang kosannya berbeda, tapi seringkali meluangkan waktu untuk berkumpul di PPH. Ada Andry yang diberi julukan Cecunguk karena seringkali kalah cepat menghitung jika sedang bermain 24 (permainan kartu dengan menjumlahkan secara cepat angka-angka di kartu hingga berjumlah 24), yang ini bukan fitnah. Juga ada Oky, Afra, Tessar, Regi, Tri, Iwan, dan Tiing.
Yang perempuan-perempuannya hanya Viny dan Puput yang sempat akrab dengannya, yang lainnya terlalu jarang mampir ke PPH. Hanya sesekali menongkrong sama-sama di Asrama Bogani, Mall, atau Pantai Losari. Indah, Ika, Ea, Rizi, Iga, dan Tirsa, tak terlalu akrab tapi jika sebuah senyum terlempar sudah dari paras-paras cantik mereka, itu sudah lebih dari cukup. Dan jika kita sedang berada di luar kota, bertemu dengan orang yang sedaerah, dengan sendirinya tali persaudaraan itu akan terjalin. Dan saling tegur sapa.

Soal pertanyaan yang membawanya ke sini. Jawaban dari sebuah pertanyaan yang ia cari itu hanya butuh waktu. Pertanyaan mengenai, siapa kita?

Dan di sini, ia mulai mempelajari awal mula kenapa pertanyaan itu ada. Filsafat bisa menjawabnya, atau mungkin sekadar membantu kita untuk bisa memahami. Kajian filsafat pun di mulai. Hanya butuh waktu 2 bulan untuk ia belajar di sini, karena itu dasar-dasar pengenalan filsafat saja yang ia pelajari, dilanjutkan dengan kajian tauhid, membaca buku, pula berdiskusi. Interval waktu yang sempit, juga diselang-selingi padat kesibukan mereka sebagai pelajar sekaligus pengajar, tapi toh akhirnya kajian itu tuntas juga. Dan menumbuhkan tunas-tunas pertanyaan baru lagi setelah itu. Tapi setidaknya, untuk sebuah jawaban atas pertanyaan, secawan gelas terisi air sudah, diteguk dan kembali kosongkan gelas untuk disiapkan menampung air lagi. Pertanyaan-pertanyaan di benak kita tak terhingga banyaknya. Terlalu banyak.

Seiring waktu yang begitu singkat ini, tiba saatnya untuk sebuah perpisahan lagi. Di suatu subuh yang senyap, ditemani Wawan yang bersedia mengantarnya ke bandara. Ia meninggalkan PPH dengan sedikit lega. Ada yang terjawab sudah di sini. Meski tak banyak tapi cukup membekalinya untuk melanjutkan perjalanan yang masih begitu panjang. Sebenarnya ia tak berpikiran untuk mencari kebenaran. Tapi ia sedang membenarkan cara berpikirnya.

Setelah bersalaman dan pamitan dengan Wawan, ia menitipkan salamnya juga buat teman-teman lainnya yang masih terlelap dibuai sepoi-sepoi belaian kipas angin. Makassar mataharinya memang lebih dari satu.
Pesawat mengudara, tapi bukan kembali, tapi ke Bali. Menjenguk pulau yang katanya sorga. Di negeri ini, adakah sorga itu? Batinnya...
Dengan wajah menempel di tebalnya jendela kaca pesawat, sebuah senyum terukir sudah di wajahnya.
Pertanyaan itu, siapa kita?
Kita makhluk berpikir, karena itu kita bertanya... Siapa kita?
Di Pondok Patah Hati, ia datang dan pergi tanpa sedikit pun patah hati.

Powered by Telkomsel BlackBerry®