Thursday, May 23, 2013

Selamat Tinggal Bali

Sabtu 25 Mei pukul 06:00 pm, akhirnya tiba juga waktu untuk kembali. Di sini, di Bali, terlalu banyak cerita, begitu banyak hingga kantongku penuh sesak dengan kisah-kisah. Tujuh bulan bukan waktu yang singkat. Petualangan di sini sudah seperti janin yang rasanya mau lekas keluar dan menikmati dunia lainnya.
Selama di sini, lumayan dapat tambahan list teman, jalan-jalan bersama, melancong sana-sini di terik matahari, dan melancung di suasana malam "Bali After Dark".
Sesekali ada beberapa teman dari Kotamobagu yang sempat bertandang ke sini. Bahkan kemarin teman sekampung yang juga sekadar berlibur kemari. Mencundangi rutinitas monoton mereka, lalu terbang menuju sorga dunia. Menghamburkan penat di udara dari ketinggian pesawat, mendarat di pulau ini dengan senyuman segar.
Sekali kau menginjakkan kaki di bandara Ngurah Ray, maka aroma dupa yang kau hidu adalah aroma yang dipenuhi mantra dan kau akan terus merasa untuk kembali lagi ke sini. Itu baru aroma dupanya, setelah kau menyaksikan panorama alamnya. Entah mungkin yang ada dalam benakmu hanya... ingin punya sebidang tanah dan rumah di atas sorga ini. Beranak-pinak dan selamanya memupus usia di sini.

Balinesia, ini negeri sorga. Jika sorga yang kelak dijanjikan untuk kita adalah serupa ini saja. Aku sudah cukup puas. Ini sepertinya negeri Tuhan. Melihat mereka, penduduk di sini dengan kearifan lokalnya yang terus terjaga. Pusaran doa yang tak pernah berhenti bergumam dari bibir-bibir mereka. Keseragaman warna pakaian sembahyang mereka dengan udeng terbungkus melingkar di kepala, tak ketinggalan sekuntum bunga kamboja terjepit di daun telinga. Jalanan yang selalu dipenuhi sesajen, dan rumah-rumah dengan bale tempat mereka bertukar cerita sehari-hari. Pemandangan seperti ini hampir setiap hari menggantung di pelupuk matamu. Mereka adalah pemuja dan penyembah Tuhan yang paling taat dan teratur. Aku pikir, Hindu adalah agama yang paling mempunyai estetika budaya.

Meski kota-kota lainnya di sini sudah tak purba lagi, seperti dalam catatan-catatanku kemarin. Tapi itu tak meninggalkan kesan akan budayanya yang begitu kental. Modernitas di sini selalu diimbangi dengan tetap menjaga kelestarian budayanya. Bali akan tetap purba meski jaman menggerusnya dengan lancang.

Aku berharap, bisa pulang dengan sebuah senyuman pula, seperti sewaktu pertama kali tiba di sini. Kisah-kisah yang terserak, dari mulai yang nakal, binal, dan jenaka. Ah, Bali.
Tak banyak yang ingin kubagi malam ini. Pulang, adalah kata yang selalu bisa menggerus sebuah petualangan. Rumah adalah sorga yang tak akan pernah bisa tergantikan. Dan kembali---pulang---ke rumah, menyongsong bulan suci Ramadhan bersama-sama dengan kedua orang tua kita, adalah rasa yang tak akan pernah tertebus oleh apapun itu.

Selamat tinggal Bali. Kembali lagi jika sebidang tanah sorgamu bisa kubeli.


Powered by Telkomsel BlackBerry®